"Mohon doanya saja,"
Kedua sudut bibir laki-laki dengan kemeja hitam itu terangkat, kedua tangannya menyatu guna menutup sesi wawancara dadakan itu.
Riga baru saja mendarat setelah penerbangan dari Sam Ratulangi. Laki-laki itu baru saja merampungkan agenda kunjungan kerjanya selama dua minggu ini.
Ada beberapa agenda kunjungan yang harus Riga lakukan. Salah satunya untuk meninjau proyek pembangunan salah satu market yang ada di Bunaken. Sebuah proyek kerjasama antara Kemenparekraf dan Kemenkeu.
Dan hari ini, bahkan dirinya belum juga bisa pulang ke rumah. Ada satu rapat kerja antara tim Kemenparekraf dan Komisi VII DPR, dirinya harus kembali mendampingi Irwanda dalam rapat kerja tersebut.
Butuh waktu hampir sepuluh menit bagi Riga untuk sampai ke ruang kerjanya. "Kita jeda setengah jam ya, Mira. Baru setelah itu kita jalan ke Komisi VII," ucap Riga sebelum mendorong pintu ruang kerjanya.
Laki-laki itu segera meletakkan tas miliknya yang baru diserahkan oleh Ibas ke atas sofa. Tak lupa, mengeluarkan MacBook serta ponsel miliknya.
Tak mau berlama-lama, laki-laki itu segera melakukan panggilan video dengan seseorang yang menunggunya. Karena sebenarnya sejak mendarat di Soekarno-Hatta, dirinya sama sekali belum membalas pesan ataupun panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Assalamualaikum,"
Dengarlah suara lembut itu disana, suara seorang perempuan yang terlihat sedang sibuk dengan beberapa buah di seberang sana.
Perempuan yang berhasil membuat Riga menaikan kedua sudut bibirnya, "wa'alaikumsalam... Sayang lagi ngapain?" balas Riga dengan tangan sibuk menggulung lengan kemeja hitam yang dikenakannya.
Kepala istrinya itu mengangguk pelan, "lagi potong buah, Mas. Biar kalau tiba-tiba craving aku tinggal ambil aja," sahut perempuan dengan rambut terjepit setengah itu. "Mas sudah sampai Sapta Pesona? kok nggak kasih kabar kalau udah landing?" imbuhnya dengan kening mengkerut.
Lihatlah bagaimana gemas wajah istrinya itu. Perempuan yang baru saja tersenyum itu tiba-tiba sudah mengerucutkan bibirnya karena kesal. Ekspresi yang selalu Riga sukai, bagaimana gemasnya seorang Gendhis.
Riga menghentikan gerakannya yang batu saja menyalakan MacBook miliknya, laki-laki beralih menatap wajah Gendhis disana. "Maaf ya, tadi buru-buru terus hpnya dibawa Ibas," jawab Riga dengan sangat yakin. Laki-laki itu bahkan mengangguk pelan menatap wajah istrinya, "Lumayan buru-buru tadi, Liebe," tambahnya mencoba meyakinkan.
Sebenarnya Riga sudah mengucapkan hal sebenarnya, kebiasaannya menitipkan ponsel pada Ibas maupun Bima membuatnya lupa memberikan kabar pada istrinya tadi.
Tapi, rasa bersalahnya seolah kembali menguar begitu saja ketika kepala Gendhis mengangguk di ujung sana. Istrinya itu bahkan tersenyum menatapnya.
"Ya, it's ok... lain kali, jangan lupa ya Mas. Karena aku juga tunggu kabar kamu," suara itu terdengar lembut namun tetap tegas. Bagaimana Gendhis kembali bisa mengatur emosinya, padahal bisa saja dirinya marah karena kebiasaan buruk laki-laki itu sekarang.
Kepala Riga mengangguk, "maaf ya, Sayang," ucap Riga pelan, tentu dengan rasa bersalahnya. Sudah sepantasnya dirinya merasa tidak enak dengan istrinya.
"Iya, nggak apa, Mas,"
Mereka berdua baru merayakan hari jadi pernikahan untuk pertama kalinya bulan lalu. Mengadakan acara makan malam keluarga di rumah mereka sendiri, dengan segala sesuatu sesuai keinginan Sang Nyonya Rumah.
Tak ada pesta perayaan apapun, hanya makan malam bersama keluarganya mereka di halaman belakang. Mungkin, satu-satunya hiburan mereka malam itu adalah acara nonton bersama pertandingan Timnas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
