Ruang tamu itu masih dipenuhi oleh beberapa orang yang sudah hampir dua jam berada disana. Deretan tamu yang berhasil membuat tawa lepas Gendhis terdengar karena lelucon yang dikeluarkan beberapa laki-laki itu.
"Lagian aneh-aneh, kok bisa kepikiran itu cat tembok dikasih air," suara Feri menjitak kepala Andung. "Ditinggal yang punya proyek bentar, ada aja gebrakan ni orang," lanjutnya melirik Gendhis.
Andung mendengus, laki-laki yang jadi bulan-bulanan rekannya itu hanya mampu memerkan deretan giginya. "Tapi serius, itu ndak sengaja. Mana aku tau kalau itu tutupnya bocor," elaknya membela diri.
Gendhis hanya mampu menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan banyaknya cerita rekannya di proyek selama sepuluh hari absennya ia dari segala pekerjaan.
Sore ini, di sela break proyek mereka semua datang berkunjung ke rumah. Ya, Gendhis sudah pulang dari rumah sakit pagi tadi setelah pemeriksaan terakhir.
Bahkan rumah yang awalnya hanya berisi suara Bunda dan Budhe Yum mendadak ramai dengan obrolan dan candaan timnya itu.
Gendhis bahkan sampai bergeleng kepala saat menyambut kedatangan mereka tadi. Bagaimana tidak, mereka membawa hampir dua kantong belanja berisi beraneka jenis buah dari Istana Buah. Entah, mungkin maksud mereka Gendhis harus membuka kedai jus setelah ini.
"Baru juga ditinggal dua hari," gumam Gendhis tersenyum tipis. "Jangan sampai itu besok aku berangkat ada cracking lagi, bisa kena demo aku sama timnya Abi," lanjutnya menyebut tim sipil yang juga berada disana.
Khisna langsung menepuk lutut Gendhis, "bener, Mas Abi lagi galak-galaknya itu Mbak gara-gara cracking kemarin," ucap Khisna langsung membuat mereka semua tertawa.
Hampir seminggu Gendhis berada di SMC, perempuan itu memang tidak ketinggalan dengan berita tentang proyek pembangunan di salah satu kampus terbaik di Semarang itu.
Mungkin salah satu yang dirinya syukuri, meski terkadang dirinya bosan. Tapi, karena obrolan di group chat selalu ramai itu menjadi teman Gendhis. Terlebih Bunda sangat membatasi kegiatan Gendhis selama di rumah sakit, jadi hanya obrolan disana yang menjadi hiburannya.
Termasuk ketika Abi mengamuk di group karena anak lapangan yang hampir salah pemasangan beton. Kesalahan yang sampai membuat mereka semua—termasuk Gendhis—ikut heboh disana.
Jangan lupakan kejadian tim Andung, yang berhasil menjadi bahan ejekan mereka semua sore ini. Mengakibatkan tidak terpakainya satu ember besar cat tembok karena penurunan kualitas setelah tercampur air.
Sebenarnya banyak sekali bahan obrolan mereka, termasuk Khisna yang langsung mengeluh dengan proyek hunian di Jakarta. Perempuan dua puluh lima tahun itu bahkan sampai berkaca-kaca menceritakan kegiatannya selama di Jakarta, menghandle pekerjaan Gendhis.
"Yaudah kayaknya udah cukup kita membuat ribut rumah Pak Wisnu ini," ucap Feri lebih dulu bangkit. "Biar Gendhis juga bisa istirahat, mohon dimaafkan karena manusia-manusia ini baru sempet jenguk. Soalnya Abi lagi rewel kemarin," lanjutnya yang langsung membuat semua orang disana ikut berdiri.
Gendhis mengangguk pelan, "sama-sama ya rekan semua, maaf karena harus AFK mendadak," balas Gendhis tersenyum tipis. "Terima kasih ya, Mas Feri dan semuanya malah repot-repot bawa seisi Istana Buah kesini," lanjutnya dengan heran.
Perempuan itu tersenyum, "bentar biar aku panggil Bundaku," pamit Gendhis sebelum masuk ke dalam rumah.
Tak sampai dua menit, Gendhis kembali keluar. Perempuan dengan patterned maxi dress dari Tom Tailor itu datang bersama seorang perempuan paruh baya di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
