"Terus, kapan acaranya?"
Pertanyaan Laras kembali terdengar, perempuan itu bahkan terlihat tidak menyangka dengan kabar yang Gendhis berikan beberapa menit lalu.
"Awal bulan depan," balas Gendhis meletakkan kembali gelas miliknya. "Ternyata, banyak juga yang harus diurus," lanjutnya tertawa pelan.
Laras mengangguk-anggukan kepalanya, "enjoy this process as much as you can, nggak akan berulang dua kali soalnya," petuahnya dengan santai. Perempuan itu melirik pelan kearah Cartier Tank yang melingkar di tangan kanannya, "kok belum pada sampai ya?" herannya setelah melihat jarum panjang tepat berada di angka sebelas.
Mendengar gumaman heran Laras, Gendhis segera memutarkan kepalanya. Perempuan itu ikut mencari keberadaan dua orang yang memang mereka berdua tunggu disana.
Kalian tidak salah, dua perempuan itu sedang menunggu laki-laki mereka berdua. Gendhis yang menunggu Riga dan Laras yang menunggu Nael.
Sebuah kebetulan yang cukup mengejutkan, kedua laki-laki itu ternyata sama-sama menginap di Plataran. Ya, Riga sendiri memang menyewa sebuah villa untuk dirinya beserta para tim dan ajudannya yang ikut ke Magelang. Sedangkan Nael, laki-laki itu ternyata juga menginap disana bersama rekan satu timnya yang memang berencana berlibur.
"Masku telat dikit, ada meeting sama Pak Irwan soalnya," balas Gendhis sebelum menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. "Omong-omong, apa kabar, gimana rasanya jadi WAG?" tanya Gendhis terlihat penasaran.
Laras langsung merubah raut wajahnya, perempuan itu bahkan menaikan satu alisnya. "Stop saying that word, Mbak," tungkasnya terlihat tidak terima, bibirnya bahkan mengerucut kesal. "Nggak ada itu WAG-WAG, aku taunya wage itu hari Jawa," lanjutnya sebelum menyesap teh.
Gendhis hanya mampu menggelengkan kepala melihat reaksi Laras. Bagaimana tidak nyamannya seorang Larasati ketika disebut dengan sebutan yang sebenarnya tidak asing dan memang menggambarkan posisinya sebagai pasangan Nathanael Hatadji itu.
WAG atau wife and girlfriend adalah sebuah julukan yang sering diberikan untuk pasangan atlet. Namun, Laras pernah menggerutu ketika konotasi itu tidak nyaman dirinya dengarkan karena beberapa hal.
"Hai, maaf terlambat,"
Suara bass itu berhasil membuat Gendhis maupun Laras menghentikan lamunan singkat mereka. Keduanya bahkan langsung mengalihkan perhatian ke asal suara itu.
Dan untuk kesekian kalinya, Gendhis dan Laras mengerutkan kening mereka. Masih tidak percaya melihat dua orang laki-laki itu baru datang secara bersamaan.
Ya, Nael datang bersama Riga.
"Ketemu atau memang sengaja bareng?" tanya Laras setelah memeluk singkat tubuh kekasihnya disana. "Heran, baru dua hari kenal malah berasa kakak-adik," lanjutnya penasaran.
Riga tertawa pelan menarik kursi di sebelah kiri Gendhis. "Ketemu di lobby hotel tadi, kebetulan Nael juga mau booking taksi," jelas Riga membalas tatapan heran Laras.
"Daripada aku nyasar sih, Babe," celetukan Nael ikut menimpali ucapan Riga. Laki-laki itu bahkan menyipitkan matanya menatap Laras yang terlihat tidak terima itu. "Bagus sih, kan aku jadi punya teman main lagi di Indonesia," lanjutnya dengan wajah bangga.
Gendhis yang mendengar kalimat itu ikut tertawa. "Tapi, nggak yakin kamu bisa main kalau sama Mas Riga deh," elak Gendhis melirik pelan ke arah laki-laki yang sudah sibuk membaca menu di depannya. "Karena jadwal Mas Riga nggak lebih santai dari kamu, Nael," jelasnya kembali.
Kepala Riga langsung bergeleng pelan mendengar penuturan perempuan di sampingnya itu, Nael dan Laras juga tertawa mendengar sanggahan Gendhis disana.
Mata Nael menyipit, "hei, Mas Riga udah ngajakin aku tau, Ndhis," sahut Nael menatap Gendhis perlahan. "Little trip to Bajo, right?" lanjutnya melepaskan kacamata hitamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
