"Saya sepertinya bisa kena serangan jantung, Mas Wamen," decakan Irwanda itu berhasil membuat Riga tertawa pelan.
Laki-laki dengan kemeja batik itu duduk menghadap ke Irwanda dengan sebuah surat izin cuti serta dokumen pendukung alasan cuti panjangnya tersebut.
Tertawa pelan, Riga menganggukan kepalanya. "Jangan dong Pak Irwan, harus sehat biar bisa ketemu sama Mbak Cantik," lirih Riga dengan suara pelannya. Laki-laki itu mengangguk pelan membalas tatapan Riga.
Tawa Irwanda terdengar mengisi ruang kerja itu. "Kalau Mbak Cantiknya yang ini sih saya kenal," gumam Irwanda kembali membaca nama yang tertera pada lampiran disana. "Pantas saja sangat dirahasiakan identitasnya, sekarang saya paham sih, Mas," lanjutnya dengan tatapan lurus ke arah Riga.
Sepuluh menit lalu Riga meminta izin untuk menghadap langsung ke Irwanda, membawa sebuah map berisi surat izin cuti serta beberapa dokumen lampiran laki-laki itu akhirnya mengajukan apa yang sudah dirinya persiapkan.
Ya, mengingat acaranya dan Gendhis akan di gelar satu bulan lagi. Riga benar-benar sudah mempersiapkan segalanya, termasuk dengan izin cuti menikah yang tengah dirinya ajukan sekarang.
Tentu saja, mata Irwanda membulat ketika membaca izin cuti yang Riga ajukan. Pasalnya, Riga sama sekali tidak pernah mengatakan jika sedang mempersiapkan pernikahan. Bahkan tidak ada satupun berita di luaran sana yang membahas hal ini.
Ada beberapa berita membahas tentang kehidupan pribadi Riga, namun tidak lebih tentang sosok perempuan yang diberitakan menjadi kekasihnya. Belum sampai tahap persiapan pernikahan.
"Saya tuh suka terharu kalau anak-anak mengajukan cuti yang satu ini, berasa diminta izinnya gitu," ucap Irwanda dengan tangan sibuk membubuhkan tandatangan pada kertas yang Riga bawa tadi.
Riga tertawa pelan mendengar ucapan Irwanda. "Tapi ini sekalian loh, Pak Menteri... sekalian undangan supaya bisa menyempatkan hadir besok," balas Riga sebelum menyodorkan sebuah box berisi undangan yang sengaja dirinya bawa. "Saya dan Mbak Gendhis juga mengharapkan kesediaan Pak Irwan untuk menjadi saksi pernikahan kami berdua," sambung Riga dengan senyum tipis.
Laki-laki tiga puluh tiga tahun itu bisa melihat jelas bagaimana raut terkejut Irwanda. Bagaimana laki-laki dengan kemeja batik itu cukup terkejut menerima undangan berwarna cokelat tua dengan aksen rumah joglo di bagian depannya.
Riga bisa melihat bagaimana Irwanda membukanya dengan perlahan, tak lupa dengan senyum lebar yang laki-laki lima puluhan tahun tersebut.
"Hati saya seperti tersiram air hangat sekarang," ucapnya setelah melihat lembaran lain di undangan itu. Mengulum bibirnya, Irwanda perlahan menganggukkan kepalanya. "Saya terima permintaannya, saya akan langsung minta Asti untuk mengosongkan jadwal saya pada kedua acara Mas Riga," lanjutnya dengan senyum yang bisa Riga rasakan ketulusannya.
Tangan Irwan juga langsung menutup map yang Riga serahkan, "dan untuk izin cuti yang diajukan, saya approve..." ungkapnya kembali memberikan map tersebut pada Riga. "Semoga semuanya lancar sampai hari-H, Mas Riga," imbuhnya sebelum beranjak.
Riga ikut berdiri, laki-laki itu membalas jabatan tangan Irwanda dengan sebuah senyuman lega. Satu lagi hal penting sudah dilakukan, batinnya.
"Terima kasih doa baiknya, Pak Irwan. Saya dan Mbak Gendhis tunggu di Semarang dan Solo nanti," ucap Riga tersenyum tipis.
Sebenarnya, ini menjadi kesempatan terakhir bagi Riga mengajukan izin cutinya. Ya, besok Irwan dan beberapa jajaran Kemenparekraf akan melakukan kunjungan kerja ke Belgia dan Jerman selama dua minggu.
Dan tidak mungkin jika dirinya harus menunggu selama itu, sedangkan Ibu sendiri memintanya untuk mulai libur H-seminggu dari tanggal acara pernikahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
