"Hilda, Mbak,"
Masih sangat jelas bagaimana cara perempuan tiga puluh tiga tahun itu tersenyum menjabat tangan Gendhis satu minggu lalu. Mungkin, dari segala kebetulan dan takdir yang Gendhis alami. Kebetulan itu akan menjadi satu-satunya yang tidak Gendhis harapkan sama sekali.
Bagaimana Gendhis melihat secara langsung seorang Tengku Rahilda Uzir tersenyum dan menjabat tangannya dan berbincang mengenai proyek-sekaligus rumah pribadi milik Hilda-selama hampir dua jam. Bahkan masih sangat jelas bagaimana wajah cantik perempuan itu disana.
Gendhis tidak pernah menyangka jika dirinya akan berada di fase seperti ini, dimana dirinya seolah terkekang oleh isi kepalanya sendiri. Bagaimana dia sama sekali tidak mengerti dengan kondisinya sendiri.
Rahilda yang Gendhis temui di Surabaya adalah Hilda yang menjadi masa lalu Riga. Perempuan yang menjadi teman dekat Riga selama empat tahun itu kembali ke Indonesia.
Tak terlalu sulit bagi Gendhis untuk mengenali sosok yang masih sering disebut-sebut dalam segala gosip tentang Riga.
"Liebe,"
Suara bariton itu berhasil membuat Gendhis menghembuskan napasnya, tak boleh ada yang memanggilnya dengan sebutan itu selain Riga. Tidak Ayah, Tidak Sekha, dan tidak siapapun boleh memanggilnya dengan sebutan itu.
Perempuan itu enggan membuka matanya untuk melihat siapa orang usil yang mencoba untuk menggodanya. Tenaganya benar-benar kosong saat ini.
"Liebe," suara itu kembali terdengar, panggilan yang berhasil membuat Gendhis menurunkan lengan kanannya yang sudah kembali terpasang jarum infus.
Matanya membulat dalam beberapa detik ketika menemukan laki-laki dengan refined navy polo shirt itu berjalan melewati pintu kamarnya yang sudah terbuka lebar.
Nampak jelas bagaimana wajah panik laki-laki itu, matanya bahkan terlihat berkaca-kaca menatap kedua manik Gendhis yang sangat sayu disana.
"M-mas, Mas Riga kapan sampainya?"
Suara perempuan itu terdengar cukup gemetar, selain karena kepalanya yang masih terasa luar biasa juga karena rasa terkejutnya melihat Riga berdiri disana.
"Tiduran aja," cegah Riga dengan cepat. Laki-laki itu bahkan menahan lengan Gendhis agar perempuan itu kembali merebahkan tubuhnya.
Mata Gendhis mengerjap, berusaha meyakinkan diri jika laki-laki yang duduk di pinggiran tempat tidurnya memang Riga. Perempuan itu seolah takut jika yang dirinya lihat saat ini hanya bayang-bayang Riga karena kondisinya.
Tangan itu perlahan menyelipkan anak rambut Gendhis dengan hati-hati. "Kali ini kenapa sampai vertigonya kambuh, Liebe?" suara halus itu berhasil membuat air mata Gendhis menetes begitu saja.
Ada sebuah perasaan yang tidak bisa Gendhis jelaskan ketika mendengar pertanyaan itu terucap langsung dari bibir laki-laki yang paling ingin dirinya temui itu.
Perempuan itu terus terisak, seolah sedang meluapkan segala emosi yang ia rasakan akhir-akhir ini. Tangannya, terus memeluk tangan kanan milik Riga dengan erat.
Melihat hal itu, Riga memilih menarik satu kursi yang ada di dekat tempat tidur perempuannya itu. Membawa tangan kirinya guna mengusap lengan Gendhis dengan lembut. "It's ok... everything gonna be fine," lirihnya berusaha menenangkan Gendhis yang masih terisak disana.
Tak ada kalimat apapun yang terdengar dari bibir Gendhis, hanya kalimat penenang yang Riga ucapkan dengan lirih untuk menemani perempuan itu.
"Sayang kenapa, hmm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomantikBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
