Toko batik dan kebaya itu tidak terlalu besar, hanya sebuah bangunan satu lantai sederhana yang dipenuhi dengan banyaknya lembaran kain bercorak.
Disinilah Gendhis pada jam sebelas siang kali ini, sebuah toko yang alamatnya baru saja di kirimkan Sena setelah panggilan Riga berakhir. Toko yang tak terlalu jauh dari Mangkunegaran.
"Biasanya dibawa ke Mangkunegaran ini semua, Ndhis. Diangkutnya nggak pakai tas ataupun plastik, tapi sama kain jarik kayak jaman dulu gitu," dengan semangatnya Sena menceritakan hal itu pada perempuan yang duduk di salah satu kursi.
Toko kecil itu penuh oleh para perempuan Mangkunegaran yang berbondong-bondong datang. Ada Ibu Marta, Budhe Arum, dan Alicia juga disana. Tak lupa beberapa abdi dalem yang mereka bawa untuk membantu mereka memilih kain.
Gendhis tersenyum dibalik masker biru yang ia pakai, "aku tau, kayaknya kebayang kalau orang jaman dulu diusir dari rumah yang pakai kain gitu kan, Mbak Sena?" balas Gendhis dengan suara masih cukup parau.
Mendengar balasan Gendhis, para perempuan itu langsung tertawa. Alicia bahkan langsung memberikan jempolnya pada Gendhis. "Nah, iyakan aku juga mikirnya begitu," seru Alicia setuju dengan Gendhis.
"Tapi serius, ini Gendhis boleh ikut beli nggak?"
Dengan wajah polos perempuan dua puluh sembilan tahun itu menatap para perempuan disana bergantian.
"Yo, boleh. Siapa yang bilang nggak boleh?" dengan cepat Budhe Arum menyahut. Tertawan dengan pertanyaan konyol yang Gendhis ajukan.
Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Gendhis mengangguk pelan. "Gendhis kira cuma dijual buat keluarga Mangkunegaran aja," lirih Gendhis yang lagi-lagi mengundanh tawa.
"Gendhis mau cari buat Eyangnya Gendhis kah?" kali ini suara Ibu Martha terdengar sangat lembut, dengan senyum tipis yang masih tersinggung.
Gendhis menggeleng cepat. "Eyang Gendhis udah lama meninggal, Bu. Mau beli buat Bunda," balas Gendhis pelan. "Gendhis juga mau beli, boleh bantu pilihin, Bu?" lanjutnya terkekeh pelan.
Dengan cepat kepala Ibu Martha terangguk. Bahkan tersenyum dengan sangat hangat mengiyakan permintaan Gendhis.
Siapa sangka Gendhis yang awalnya takut dan bingung dengan bagaimana jika dirinya tidak bisa berbaur dengan keluarga kerajaan itu malah menjadi akrab dengan para perempuan Mangkunegaran.
Gendhis pikir, mereka akan mengobrol hal-hal seputar Mangkunegaran ataupun hal-hal pakem lain. Ternyata Gendhis baru tau jika hampir semua perempuan yang berkunjung di toko batik itu tidak tinggal permanen di Mangkunegaran.
Alicia, seperti yang Gendhis tau perempuan itu sampai detik ini memilih menetap di Surabaya bersama Rasha. Bahkan Ayah dan Bunda Alicia juga tinggal di Surabaya.
Keluarga Riga, Ibu dan Sena. Gendhis sebenarnya tau jika Riga bersama keluarganya memang tidak menetap di Mangkunegaran. Riga pernah bercerita tentang keluarganya yang sejak dulu memang tinggal di Jakarta.
Bahkan saat almarhum Mangkunegaran XIV yang bukan lain adalah Romo Riga masih ada, keluarga Riga memang menetap di Jakarta. Mereka akan pulang ke Mangkunegaran dua minggu sekali.
Dan Budhe Arum, Eyang kandung Alicia itu juga menetap di Jakarta. Berdekatan dengan rumah milik keluarga Riga, hanya berjarak beberapa rumah saja kata Riga.
Dulu, Gendhis pikir para keluarga Raja di Jawa akan menghabiskan hidupnya di dalam area kerajaan. Hidup dan tinggal selamanya disana. Ternyata tidak, bahkan Riga pernah bercerita jika sepupunya banyak yang sejak kecil memang tidak tinggal disana, mungkin generasi terakhir yang lahir dan lama hidup di Mangkunegaran adalah Budhe Arum dan almarhum Romonya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
