Tangan laki-laki itu kembali mengelus lengan istrinya yang berada di atas dada bidangnya. Menarik pelan tangan Gendhis sebelum mengecupnya berulang kali.
Hanya bedcover tebal yang membungkus tubuh keduanya bersamaan, tanpa adanya satu helai benang lain yang menjadi batas antara tubuhnya dengan milik Gendhis.
"Masih belum mau bangun?"
Menepuk pelan punggung perempuannya, Riga tersenyum menatap langit yang sudah benar-benar berganti warna sepenuhnya di luar sana.
Perlahan Gendhis menggeliat, perempuan itu membuka matanya dan membalas tatapan cinta dari sang suami dengan senyum tipis. "Kalau kayak gini, bukannya honeymoon yang ada aku rutin spa sama keramas aja sih, Mas," ucapnya memindahkan kepala ke atas dada bidang suaminya.
Perempuan itu masih setia melingkarkan lengannya pada tubuh besar itu, membawa tatapannya lurus ke arah luar bukaan kaca yang langsung menampilkan halaman hijau yang berbatasan dengan pemandangan lautan luas Samudera Hindia.
"Ya nggak masalah, itu tandanya honeymoon kita sukses," balasan santai laki-laki yang sudah membawa tangannya guna menyisir rambut panjang istrinya itu berhasil membuat Gendhis beranjak.
Dengan rambut tergerai dan sedikit berantakan, Gendhis menyipit menatap wajah santai Riga. "Ok, let's end this convo. I won't believe you anymore about this thing, cukup semalam sampai tadi subuh aja aku dikerjain," ucap Gendhis dengan tangan menyangga tubuhnya sendiri.
Siapa sangka tawa laki-laki itu keluar dengan santainya, belum mengizinkan tubuh ramping Gendhis beranjak. Riga kembali menarik tubuh istrinya. "Selamat pagi, Istri," ucapnya setelah berhasil mencuri sebuah ciuman tak terduga dari bibir istrinya.
Mata Gendhis membulat, tangannya dengan cepat memukul dada bidang suaminya. "It's enough, please... I want to enjoy our Bali's trip," ucap Gendhis lebih dulu beranjak disana.
Perempuan itu bahkan langsung memakai sebuah kaos putih miliknya yang terlempar ke bawah tempat tidur. "Kita punya banyak rencana hari ini, jadi jangan bablas mainnya," lanjutnya setelah berhasil keluar dari gulungan bedcover.
Riga tidak pernah tau jika melihat tubuh Gendhis membuka gorden tebal yang menutupi bukaan kaca bisa sebahagia ini. Bagaimana hari-harinya berubah jauh lebih menyenangkan dan mengesankan, terlebih bagaimana Gendhis benar-benar mengambil peran baru di hidup Riga.
Ini hari keempat mereka berada di Pulau Dewata, menghabiskan waktu di Amankila sebagai destinasi kedua dari perjalanan honeymoon keduanya.
Ya, ini destinasi kedua untuk honeymoon mereka. Riga sendiri memang mengambil cuti menikah ditambah juga cuti tambahan untuk rangkaian acara ini.
Tiga hari lalu mereka baru saja melakukan melakukan penerbangan yang cukup panjang dari Heathrow ke Ngurah Rai. Mengejutkan bukan? siapa sangka jika Sekha dan Diaz, kakak iparnya memberikan kado tak terduga itu.
"Ada pertandingan Novak Djokovic yang kamu tunggu, ajak Gendhis nonton langsung disana... anggap aja tanggung jawab karena kamu buat Adekku itu penasaran sama Wimbledon,"
Masih sangat jelas bagaimana Sekha mengucapkan itu dengan santai. Sebuah kado pernikahan yang sangat tidak dirinya maupun Gendhis sangka sebelumnya.
"Mas, teh aja ya?"
Suara lembut Gendhis berhasil membuat atensi Riga teralih, perempuan dengan Farm Rio's Monstera broderie anglaise set berwarna kuning itu tersenyum padanya.
"Terima kasih," ucap Riga bersamaan dengan tangan istrinya meletakkan satu cangkir teh miliknya.
Kepala Gendhis mengangguk pelan, meletakkan kacamata hitam ke atas meja. "Sepertinya kita nggak usah ke sunday market nggak sih?" gumam Gendhis dengan mata menyipit ke arah Riga.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
