"Kita berangkat sekarang, Mas,"
Suara Ibu berhasil membuat Riga memalingkan wajahnya. Laki-laki itu mengangguk pelan dengan senyum tipis membalas Ibu disana.
Ibu tersenyum hangat pada Riga, terlihat sangat jelas bagaimana raut bahagia dan haru Ibu pada anak bungsunya itu. "Bismillah, lancar semuanya," lirih Ibu membawa tangannya untuk merapikan kemeja batik berwarna hijau yang Riga kenakan.
Bukannya membalas, Riga lebih memilih langsung mendekap tubuh mungil Ibu. Laki-laki itu menepuk pelan punggung Ibu, "mohon doa restu buat Riga sama Gendhis ya, Bu," ucap Riga pelan.
Ibu mengangguk pelan disana, ada senyum hangat yang terkembang disana. "Selalu, insyaallah doa dan restu Ibu selalu mengiringi anak-anak Ibu," jawab Ibu menepuk pundak Riga. Ibu perlahan melepaskan pelukan mereka, "jangan buat Ibu nangis, Mas..." lirihnya menatap Riga.
Tawa Riga pecah seketika, tentu saja ia tak ingin merusak riasan Ibu. Laki-laki itu mengangguk sebelum menggenggam tangan kiri Ibu.
Keduanya berjalan keluar, bergabung bersama keluarga lain yang sudah menunggu disana. Tak hanya keluarga, Gyan dan Treya juga hadir disana. Keduanya sengaja datang setelah Riga memberi kabar bahagia tersebut.
"Saran aja nih, Mbak Sena... ayo cepat berangkat, muka Riga udah nggak selow abis soalnya," celetukan Treya menjadi yang oertama terdengar disana.
Siapa sangka, semua orang tertawa dan jangan lupa mereka yang langsung ikut menatap Riga yang masih berdiri dengan ponsel di tangannya.
"Yaudah, ayo jalan," ucap Ibu dan Budhe Arum bersamaan. Keduanya bahkan juga menjadi yang pertama keluar dari pintu rumah itu.
Ya, setelah beberapa pertimbangan. Ibu akhirnya setuju dengan usulan Budhe Arum untuk menginap di rumah milik Budhe Arum di Candi Golf.
Sebulan ini, sudah banyak persiapan yang Riga dan keluarga siapkan. Siapa sangka tiga puluh hari menjadi terasa luar biasa cepat bagi persiapan tersebut.
Tak ada hal-hal pakem yang keluarga Gendhis berikan sebagai syarat, bahkan Gendhis juga menyerahkan seutuhnya perkara hantaran yang Riga bawa dalam prosesi lamaran mereka.
Sena menjadi sangat sibuk satu bulan ini. Selain mengurus Nala, Sena juga bertugas mencari segala keperluan hantaran untuk Gendhis, terlebih karena Sena lebih mudah menanyakan perkara kebutuhan Gendhis.
Iring-iringan mobil itu akhirnya mulai memelankan lajunya setelah hampir sepuluh menit mengaspal di jalanan Semarang.
Tak ada lagi Riga yang tenang, laki-laki itu bahkan terlihat cukup salah tingkah ketika bersalaman dengan Ayah dan Sekha yang menyambutnya. Bahkan Sekha sempat berbisik jika tangan Riga terasa cukup dingin siang ini.
Tak banyak tamu yang diundang, hanya keluarga dan kerabat dekat yang keduanya disana. Sebuah intimate engagement seperti yang Gendhis inginkan.
Untuk pertama kalinya, Riga melihat bagaimana keluarganya dan keluarga Gendhis berinteraksi. Bagaimana Ibu yang disambut dengan sebuah pelukan hangat dari Bunda.
Ada raut bahagia dan haru yang menyelimuti disana. Bahkan, ketika pembawa acara memulainya, Riga hanya mampu fokus dengan debaran jantungnya yang melonjak.
"Saya masih belum menyangka, Mas Riga yang berdiri di hadapan saya dan keluarga itu orang yang sama seperti Mas Riga yang dulu mengucapkan selamat saat pernikahan Mas Sekha dan Mbak Diaz..."
Ayah tersenyum dengan tatapan hangat yang menyapu seluruh tamu disana. "Ibu Martha, mungkin Ibu mengenal Sekha kami sebagai teman baik anak panjenengan. Dan mulai saat ini, bersama dengan lamaran yang datang dari Mas Riga untuk anak perempuan kami, Gendhis... saya sebagai Ayah dari Gendhis meminta untuk sedianya keluarga Mas Riga menjadikan putri saya satu-satunya sebagai anak perempuan juga di dalam keluarga panjenengan," suara tenang Ayah terdengar cukup gemetar kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
