Senyuman laki-laki itu mengembang sempurna ketika netranya bertemu dengan milik Gendhis disana.
"Mas," panggil Gendhis dengan suara seraknya. Perempuan itu terlihat mengerjap mengumpulkan fokusnya untuk membalas tatapan Riga disana.
Mengusap pelan kening Gendhis, Riga tersenyum menatap wajah pucat perempuannya itu. "Iya, butuh sesuatu?" balasnya yang mulai berdiri dari kursi yang di dudukinya.
"Mau pulang aja, Mas," lirih Gendhis melirik sekitarnya. Perempuan itu terlihat tidak nyaman disana.
Kepala Riga mengangguk pelan, "iya, setelah habis cairan infusnya kita pulang... tapi kita harus tanya dokternya dulu, aku nggak mau kalau asal maksa pulang," ucapnya lembut. Laki-laki itu bahkan terus menatap wajah Gendhis disana, menjadikan tangannya sebagai tumpuan.
Kepala perempuan itu mengangguk pelan. "Maaf ya, Mas... Mas jauh-jauh kesini malah harus ngurusin aku," lirihnya dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan.
Laki-laki itu menggeleng, "nggak ada yang direpotkan, Mas ke Semarang kan buat ketemu kamu..." potong Riga cepat. "Jangan mikir kalau ini merepotkan, karena Mas sama sekali nggak anggap seperti itu," imbuhnya dengan suara tenangnya.
Sore tadi Gendhis akhirnya menyerah, setelah perempuan itu merasa mual dan berujung memuntahkan isi perutnya beberapa kali hingga lemas.
Disinilah mereka berdua, berada di IGD RSUD Kariadi. Riga sendiri yang membawa Gendhis kesana setelah melihat wajah pucat dan tubuh lemas perempuannya.
Tak hanya Riga yang panik, bahkan dua ajudannya yang ikut bersamanya juga terlihat panik ketika melihat Riga membopong Gendhis sore tadi.
"Kalau ngurus pernikahan kita buat kamu kelelahan, sepertinya aku akan putuskan buat intimate wedding aja. Yang penting kita berdua sah di mata negara," gumam Riga yang sibuk membantu Gendhis meminum air mineral.
Tangan kiri Gendhis yang bebas dari jarum infus dengan cepat memukul lengan Riga. "Nggak boleh gitu, Mas," lirihnya dengan kedua mata menyipit. "Nggak ada yang salah sama persiapannya, akunya aja yang nggak jelas," sambung Gendhis terdengar tak terima.
Riga kembali menjadikan tangannya sebagai sanggahan kepala, laki-laki tersenyum menatap wajah Gendhis disana. "Selama nggak jelas kemarin, pernah nggak kepikiran buat batalin semua ini?" tanyanya dengan tangan kiri menyelipkan anak rambut Gendhis ke belakang telinga.
"Nggak, alhamdulilah kepalaku masih waras... meskipun sempat ragu," balas Gendhis dengan bibir mengerucut. Perempuan itu bahkan mengerjap membalas tatapan Riga disana.
"Ragu?"
Mengangguk pelan, perempuan itu mengulum bibirnya dengan tatapan lurus membalas milik Riga. "Aku ngerasa hubungan kita berdua terlalu cepat, tiba-tiba rasanya capek. Dan kejadian minggu lalu buat aku tiba-tiba kepikiran, aku takut—"
"Kalau aku nikahin kamu buat lupain Hilda?"
Ucapan cepat Riga itu berhasil membuat Gendhis mengerjap, tatapan matanya berubah dengan sebuah perasaan bersalah membalas milik laki-laki itu.
Mengangguk pelan, "maaf," lirihnya dengan wajah bersalah. "A—aku cuma takut, kalau hal-hal yang kita lewati kemarin cuma sementara aja. Kalau itu semua cuma perasaan semu sesaat," sambung Gendhis mencoba menatap netra Riga disana.
Riga menengadahkan kepalanya, terlihat memejamkan matanya disana. "Mbak," ucapnya tanpa membalas tatapan Gendhis disana. Laki-laki itu terlihat memejamkan matanya pelan.
"Mas, maaf," lirih Gendhis dengan suara gemetar.
Bahkan Riga bisa merasakan bagaimana genggaman erat yang berusaha Gendhis berikan disana. Genggaman yang bisa Riga rasakan ketakutannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
