Bagi Gendhis rasanya selalu mengesankan setiap memeluk manusia mungil yang baru sampai ke dunia. Dengan mata berbinar, perempuan itu terus memandang seorang bayi kecil di pelukannya.
Dulu saat pertama kali Zio lahir, Gendhis selalu mencuri anak itu untuk dipindahkan tidur ke kamarnya. Gendhis selalu suka dengan bau bayi, rasanya sangat addictive melebihi seluruh niche parfum di meja riasnya.
Bayi laki-laki yang belum genap lima hari menjadi satu diantara milyaran manusia di bumi, bayi kecil yang terlihat tenang dalam lelapnya.
"Anakmu cakep banget, Mbak Ona," gumamnya, entah berapa kali kalimat itu terulang dari bibirnya. "Mau nangis... Elian ganteng banget," lanjutnya sebelum menciumi tangan mungil bayi itu.
Fiona yang sedari tadi duduk di kursi samping Gendhis hanya mampu mengangguk, "iya, fotokopi Papanya banget nggak sih?" gerutunya sebelum memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.
Mendengar pernyataan yang sudah Fiona ucapakan, Gendhis langsung mendongakkan kepalanya. "Nggak sih, mirip Mbak Ona kok. Papanya cuma kebagian hidung mancung sama bentuk rahangnya aja," elak Gendhis.
"Dengerin tuh, semua juga setuju kalau Elian itu kembaran kamu,"
Bukan, itu bukan suara Fiona. Itu suara laki-laki yang baru saja turun dari kamarnya. Suami kakak sepupunya berdiri di belakang mereka.
"Di mataku tuh Elian mirip kamu, Babe," elaknya sekali lagi. "Thank you," lanjutnya setelah menerima uluran alat pumping dari suaminya.
Laki-laki itu mendengus, "yaudah mau mirip aku atau kamu juga nggak apa, buatnya berdua ini," putus suami Fiona dengan nada pasrahnya.
"Banyakin sabar nggak sih, Mas Dave?" lirih Gendhis menatap kakak iparnya yang mulai memakan snack. "Emang ngeyel banget sih istrimu ini," alihnya melirik Fiona yang sudah tergelak disana.
Perempuan dengan pumping cover itu tertawa menatap suaminya dengan satu alis terangkat. "Apa?" tanyanya tanpa bersuara.
David menghela napasnya, "Ndhis," alihnya memanggil Gendhis yang sibuk memandangi wajah Elian.
"Hmm,"
Dengan cepat Gendhis menegakkan wajahnya, membalas panggilan David dengan senyum tipis. "Apa?" herannya melihat wajah kedua kakaknya bergantian.
"Jadi, rencananya kapan?" tanya David dengan dagu mengarah ke arah tangan Gendhis. Laki-laki itu bahkan sudah mengaitkan kedua tangannya di atas meja, seolah siap untuk menyidang adik sepupunya disana.
Tak hanya Gendhis, Fiona juga menatap suaminya dengan raut kebingungan. "Apa sih, Babe?" herannya mencoba mencari sesuatu yang aneh dari adik sepupunya.
Gendhis yang mulai mengerti perlahan mengangguk. Perempuan itu bahkan tersenyum tipis membalas tatapan tegas milik David. "Soon, ya Mas. Nanti Gendhis kabarin," ucapnya menarik tangan kirinya.
"He propose me, Mbak Na. Dua bulan lalu lebih tepatnya," ucap Gendhis mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin putih di jari manisnya.
Tak ada balasan apapun dari Fiona, perempuan itu menatap tangan kiri Gendhis dengan satu tangan menutupi bibirnya.
"What? kamu serius, dua bulan lalu Ndhis?" tanya Fiona mencoba memastikan ucapan adik sepupunya itu.
Kepala Gendhis mengangguk pelan, "waktu itu aku belum jawab apapun, Mas Riga suruh aku simpan ini sampai aku siap buat jawab dia," jelas Gendhis dengan lembut. Perempuan itu juga meletakkan tangannya di atas meja.
Gendhis bisa melihat kedua mata Fiona yang sudah berkaca-kaca disana. Ibu baru itu terlihat cukup terkejut dengan pengakuannya beberapa detik lalu.
"Happy for you, Ndhis," suara David lebih dulu menginterupsi diamnya mereka bertiga disana. Laki-laki itu bahkan sudah berjalan memutari meja. "Selamat ya, Tate Ndhis," lanjut David memeluk singkat tubuh Gendhis.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
