Beberapa perasaan ada yang butuh diungkapkan, sementara beberapa yang lain hanya boleh kita simpan sendirian. Takut akan segala kemungkinan tak sejalan.
Shani memang tidak pernah mengatakan bahwa dia 'cinta'. Tetapi semua hal yang dia lakukan untuk Gracia seharusnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Menghabiskan waktu bersama, benar-benar tidak pernah ada momen membosankan setiap pertemuan keduanya, saling membahagiakan meski dengan hal paling sederhana. Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Bukankah bahkan itu lebih dari kata 'cinta' itu sendiri?
Bahkan setiap hal-hal yang dia lakukan untuk Gracia selalu ada cinta di dalamnya. Saat Shani menyentuh rambut kesayangannya itu dengan lembut, saat Shani marah sampai tak sengaja melukai perasaan Gracia. Semua itu cinta. Cinta yang ia tunjukan dengan cara paling dewasa.
Hanya karena tak mengatakannya, bukan berarti Shani tak melakukan apa-apa. Perasaan sayang yang tidak pernah berganti pemiliknya itu, hal-hal yang sudah ia korbankan itu, Shani merasa tak perlu lagi mengatakannya. Ia takut perasaan ambigu ini akan menghancurkan segalanya. Mengancurkan dia, menghancurkan Gracia. Menghancurkan hubungan keduanya.
Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, Feni menghambur memeluk Shani.
"Dia pergi, Mpen. Aku ini masih kurang apa sih!?" Shani hancur dipelukan Feni. Ternyata ditiggalkan dengan pamit rasanya malah jauh lebih sakit.
Feni memijat pelipis tak sengaja. Selain karna tidurnya yang belum cukup, ia juga pusing akan pertengkaran dua sahabatnya yang tidak ada ujungnya itu. Seperti misi balas dendam, ada saja konfliknya.
"Cici ngga nahan dia?"
Shani menggeleng nyeri dengan air mata yang terus jatuh tanpa henti, "Ngga bisa, Mpen. Aku bingung harus menahan dia dengan cara apa lagi." Perempuan itu semakin berguncang dipelukan Feni.
"Aku bujuk dia, ya? Baru aja kan perginya? Ini jam segini juga, Ci."
Shani mengagguk melepas pelukan Feni. "Tapi jangan dipaksa. Kalo dia kekeh tetap mau pergi, kamu anterin dia mau kan?"
"Beneran, Ci?"
"Iya. Ini udah ngga bisa diperbaiki kayaknya, Mpen. Dia akan terus tersakiti selagi dekat sama aku."
Bulir di mata Feni meleleh, tak rela rasanya membiarkan Shani menyerah begitu mudah. Ia tahu ini pelik, tapi masih berharap akan titik balik keduanya kembali membaik.
Feni tahu seberapa keras Shani sudah berusaha. Menelantarkan status pernikahan beserta anak kesayangannya rasanya tak sebanding jika harus berakhir sia-sia.
Begitu juga Gracia, Feni tahu betul seberapa banyak pesakitan yang telah sahabatnya itu terima. Bertahan hidup diantara dua rasa sakit yang menggerogotinya.
••••
"Celana putih, kemeja putih, kulit putih, nangis-nangis di jam segini apa ngga kayak kuntilanak?"
Feni mengambil duduk di sebelah kesayangannya Shani. Gracia memeluk lututnya dengan deraian di pipinya. "Mpen HP aku," adu peremuan itu selagi mengangkat wajah kacaunya dari kedua lututnya.
"Di dalem?" Demi apapun melihat wajah kacau itu Feni larut sakit juga. Disaat bersamaan ingin rasanya tertawa kencang akan kelakuan absurd Gracia.
Sempat-sempatnya menemukan lelucon di situasi mencekam seperti ini. Bayangin aja mau kabur di jam tiga pagi tanpa dompet bahkan tanpa handphone juga. Dengan wajah kacau beserta pakaian serba putihnya. What the?
"Ambilin," pinta Gracia polos. Sementara Feni mati-matian gimana caranya agar tidak tertawa.
"Ambil lah. Tadi aku liat di sofa kalo ga salah. Cici masih di sana deh kayaknya. Mau minta tolong dia? Aku teriak ya? Biar dibawain ke sini." Perempuan itu menggoda. Tak perduli sekacau apa suasana hati Gracia di dalam sana. Siapa suruh lucu banget jadi orang? Kalo seperti ini bukan cuma Shani yang ga mau kehilangan. Tapi dia juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lil'sist
RomanceBersama Shani, adalah jenis hubungan paling Gracia suka. Menemukan sosok saudara perempuan yang tidak ia miliki di rumah rasanya seperti ini adalah berkat dari betapa baiknya Tuhan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya. Memiliki Gracia di hidupnya...
