selamat membaca
=====•••=====
•
•
•
Vote vote
"By the way ini maksimal tiga orang gimana dong," kata Shani selagi berjalan ke arah vending machine setelah tamu tak diundangnya itu ia persilahkan masuk.
"Kita sudah booking kamar juga mohon maaf, takut banget diganggu kayanya!" sahut Feni pura-pura sewot. Sudah ada Gracia di dalam dekapannya.
"The closeness have leveled up!" Seloroh Sisca seolah menyindir. "Sepertinya aku sudah melewatkan banyak moment ini." Tambahnya lagi sembari memasang wajah pura-pura protes. Lalu bergantian memberikan Gracia ke dalam pelukan Anin setelah dirinya.
"Pake jurus melipat bumi atau gimana tiba-tiba ada di sini?" Shani mengalihkan, membuka sesi interogasi setalah ia meletakan tiga minuman kaleng di meja.
Sementara sekelebat kilat matanya mencari keberadaan Gracia saat sayup-sayup suara lembut Anin menelusup masuk ke telinganya. "You okay? Aku tau kamu pasti aman berada di dekat Cici. Tapi ngga sampai abai kasih kabar aku juga sih harusnya."
Menelan ludah sukar dua kali, Shani berhasil meredam setengah emosi. Pengakuan Anin soal perasaannya tempo hari yang jelas-jelas bertolak belakang dengan perlakuan dia terhadap Gracia membuat kepercaayaan Shani berubah tidak 100% lagi.
Dan hal lain yang Shani syukuri adalah betapa beruntungnya Gracia dikelilingi orang yang sayangnya amat tulus untuk dia.
Sahani berani bertaruh bahwa pengakuan Anin tak lebih dari sebuah kebohongan untuk melindungi Gracia. Tepatnya melindungi hubungan dirinya dengan adik kesayangannya itu.
Merelakan orang yang kita sayang bahagia dengan orang lain tanpa mengurangi rasa sayang yang dia punya jelas-jelas ketulusan yang cukup nyata untuk Shani. Dan Anin benar-benar telah melakukannya pada Gracia. Jika itu dirinya, belum tentu Shani bisa. Tidak akan pernah bisa. Rasa kepemilikan terhadap kesayangannya itu sudah menjelma keegoisan. Rasanya tidak akan pernah rela melihat Gracia dibahagiakan orang lain.
"Kamu ngga kangen aku apa, Ci?" Celoteh Sisca lagi. Seolah ia tahu ke mana fikiran Shani tertuju.
"Ci!" Suara Feni yang berhasil menarik Shani dari lamunan kosongnya.
"Gimana?" Sahutnya cepat selagi mengusap pelipisnya berkali kali. Mengalihkan ujung matanya dari memindai dua perempuan di sisi tempat tidur itu.
"Sudah ketemu Earth versi kamu belum?" tanya Shani kembali mengalihkan. Fokusnya sudah benar-benar pecah antara percakapan Sisca dan Feni dengan pemandangan di ekor matanya tadi. Shani mulai mengambil duduk membelakangi Gracia dan Anin.
Hal terakhir yang Shani lihat dari keduanya adalah binar rindu diantara mata dan pelukan kedua sahabatnya itu.
"Kalo pengen Marvel aja tanpa bertemu Earth versi lain dulu boleh ngga sih?"
"Dih! Apa maksud? Lo mau punya anak tanpa menikah gitu?" tuduh Feni bersungut-sungut.
Sisca memutar bola matanya malas. "Hadeh judgers satu ini!" kilahnya tak kalah sewot. "Pengen adopsi anak aja gitu boleh ngga sih? Gue masih belum kepikiran diribetin sama masalah pernikahan."
"Menikah itu ngga ribet, asal bertemu sama orang yang tepat dan yang kita mau." timpal Shani menengahi. Wajahnya mulai fokus dan serius kali ini.
"Ko Kevin gimana, Ci?" tanya Sisca polos yang tiba-tiba dihadiahi sikutan pelan oleh Feni. Sejujurnya Sisca sudah terlampau jauh tertinggal soal life update keempat sahabtanya itu. Soal Feni yang sudah tidak lagi ber-kewarga negaraan Indonesia, Anin yang sudah mapan dengan pekerjaannya dan hidupnya berpindah pindah negara, Gracia yang mengidap penyakit serius, begitu juga kehidupan Shani yang sudah menikah dan memiliki anak. Semua baru Sisca tahu dalam waktu satu malam. Dirangkum Feni dan Anin malam lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lil'sist
RomanceBersama Shani, adalah jenis hubungan paling Gracia suka. Menemukan sosok saudara perempuan yang tidak ia miliki di rumah rasanya seperti ini adalah berkat dari betapa baiknya Tuhan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya. Memiliki Gracia di hidupnya...
