Mie acar rasa (Cici)

5.2K 357 1
                                        



"Ngapain?" tanya Shani mengangkat alisnya melihat Gracia seperti kebingungan dengan alat-alat dapur. Kedua sudut bibirnya terangkat begitu saja saat mendapati pemandagan langka; seorang Shania Gracia dengan sebuah teplon di tangannya. "laper?" tanya Shani lembut selagi menyembunyikan senyum itu dari Gracia. Takut pundung kalau tiba-tiba tersinggung.

Bayik gede itu mengangguk polos seperti anak kecil terciduk hendak sembunyi-sembunyi memakan permen. Entah takut, entah malu. Yang jelas, itu sudah pasti lucu.

"mau makan apa?" tanya Shani selagi langkahnya tertuju pada Gracia. "Mau aku masakin? Turunin teplonnya. Benda itu aneh berada di tangan kamu," lanjut perempuan itu lagi.

Gracia memicingkan mata tak suka. Dia tidak mau diremehkan. "Cici ngeremehin aku?"

Mendapati sinyal negatif, Bidadari itu kontan mengambil langkah mundur, memilih duduk di meja makan tak jauh dari posisi di mana Gracia berdiri. Dari cara Gracia memindai seisi dapur, Shani jelas sangat mengenal sahabat karibnya itu. Gracianya tampak tidak akrab dengan hal apapun yang berhubungan dengan kata masak. Tapi dia memilih jalan aman, siapa tahu memang pandangannya saja yang salah. Dan Gracia memang sudah berubah. Lima tahun pisah, Shani cukup tahu diri untuk tidak terlalu mudah menilai bayik itu lagi.

Shani menyilangkan kedua tangannyanya di meja, menelungkupkan wajahnya di sana, seperti tidur padahal tidak.

Hening, tak ada suara pisau beradu dengan talenan, tak ada suara kompor di nyalakan, atau suara teplon beradu dengan spatula. Samasekali tidak.

Ada jeda lima menit sebelum akhirnya Shani memeriksa Gracia melalui ekor matanya. Terkejut saat sadar ternyata Gracianya berada persis di sebelah dirinya. Berjongkok dengan wajah memelas lucu seperti anak kucing. Sani menunduk ke arah di mana Gracia berada. Giliran dia yang memicingkan mata, heran akan kelakuan random adik kesayangnya.

"Masakiiin," pinta Gracia, wajah lucu anak itu mendongak melihat Shani. Ia melipat bibir bawahnya hingga bibir atas tak terlihat sama sekali. Persis seperti anak kucing kelaparan minta dikasih makan.

Shani meraih kedua tangan Gracia yang berada di pangkuan dirinya-di paha sebelah kanan.

Senyum Shani tulus sekali menatap wajah itu. Iya mengangguk, selalu setuju akan permintaan Gracia, "tapi aku boleh minta sesuatu dulu ngga?," pinta perempuan rupawan itu serius, disambut Gracia mengangguk manut.

Perempuan itu menautkan kedua alis, bingung mendapati Shani tak juga mengatakan apa-apa padahal ia serius menunggunya. Tiga menitnya dibuat sia-sia. "Apa, Ci? Kamu mau minta apa?"

"Ngga jadi," sahut Shani enteng, dengan senyum jahil di bibirnya. Ia bangkit berdiri dari kursi, membawa Gracia berdiri dari jongkoknya.

"Kamu mau makan apa?" Shani melihat jam dinding, menunjukan pukul 02.39 wib. Memorinya terseret ke beberapa tahun lalu saat Gracia menemaninya makan sahur di rumahnya. Rasa sayang itu selalu bertambah setiap kali kebaikan-kebaikan kecil Gracia berputar ulang di kepalanya.

"Mie aja Ci biar cepet." Kata Gracia selagi mengekor di belakang Cici kesayangannya.

"Ayam katsu, mau? Shani menawarkan yang lain.

"Berat ah. Yang gampang-gampang aja, Ci" sahut Gracia.

Shani bukan tipe yang suka banget mie instan, spagheti atau sejenisnya. Tapi dia selalu punya stok entah alasannya apa. Mungkin karena Papanya suka, atau alasannya adalah Gracia yang setiap kali menginap pasti tiba-tiba suka laper tengah malam dan mie instan adalah penolongnya. Dan ternyata tidak berubah sampai sampai saat ini juga.

"Mie mulu dari dulu," kata Shani selagi langkahnya tertuju pada kabinet di mana ia menyimpan stok mie instannya.

"Kangen mie instan rasa kamu."

Lil'sistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang