Mpen👊🏼

4.7K 261 3
                                        

Dua tahun lalu, saat Gracia disarankan Marco untuk berobat di Singapur, yang  menemani dia adalah Anin. Pure bukan kesengajaan. Sebelumnya, shabat gracia itu sudah lebih dulu berada di sana. Ia mendapat project di tempat yang jaraknya lumayan dekat dengan  rumah sakit Gracia berobat. Dari perusahaannya Anin difasilitasi rumah untuk ia tinggali selama kontrak kerjanya selesai, tiga tahun.

Itu pun tidak selama yang ada difikiran Shani, Gracia tinggal bersama Anin tak lebih dari tiga bulan karna jarak rangkaian pengobatan Gracia yang cukup rapat waktu itu. Selebihnya pasien penderita kanker yang terbilang cukup kuat sekali fisiknya itu lebih memilih roundtrip. Karna di Jakarta juga dia punya Marco.

"Biar aku jelasin soal itu, ya, Ci? Tapi kamu tenangin diri kamu dulu." Gracia menarik lembut lengan Shani, berusaha membawa perempuan yang lebih tinggi dari dirinya itu ke dalam pelukannya.

Sementara Shani menepis cepat, menjauhkan tubuh Gracia dari hadapannya. "Di situ, di bahu kamu itu ada bekas pelukan dia. Bahkan wangi khasnya aja bisa aku cium dari sini!" hardik Shani semakin menggebu-gebu selagi menatap jijik  baju yang sedang Gracia pakai itu. Dress floral ungu yang sempat membuatnya kepayang akan kecantikan adik kesayangannya saat mengenakan itu tadi pagi.

"Ci, kok kamu jahat banget gitu sih?! Kalian sempat ada problem apa sampe kamu segini bencinya sama Anin?" Gracia hampir kehilangan kontrol emosinya lagi. Tapi wajah Feni selalu berhasil menanganinya. Setiap hampir tersulut, Gracia selalu mencari wajah itu.

"Problem apa? Kamu problemnya, Ge! Kamu selalu menomor-dua-kan aku setiap dekat sama dia. Selalu kayak gitu dari dulu." Genangan di mata Shani satu persatu menyerbu.

"Coba deh hitung berapa jumlah waktu yang udah kita habiskan berdua, terus waktu yang aku habiskan sama yang lain? Ga ada yg sebanding, Ci. Bahkan Anin sekalipun. Kamu salah kalo mikir yang engga-engga soal aku sama dia."

"Coba kalo posisinya kita tukar. Aku yang umurnya sudah diketahui ini lebih memilih menghabiskannya sama orang lain. Menghilangkan peran kamu di hidup aku sampai vonis itu sampai pada waktunya. Kamu ga sakit hati soal itu? Bisa gila kalo aku, Ge!" 

"Iya, Ci iya aku salah. Aku minta maaf. Waktu itu aku mikirnya aku ga mau kamu jadi orang paling terpukul setelah kepergian aku. Pertemuan yang terlalu sering, kenangan yang segitu banyak, aku ga mau menyiksa kamu dengan itu. Sebelum aku benar-benar pergi, aku mau memastikan dulu kalo kamu sudah terbiasa dengan ketiadaan aku di hidup kamu. Setidaknya itu satu-satunya hal yang bisa bikin aku tenang ninggalin kamu."

Isakan yang tadi sempat mereda, kembali menyapa keduanya lagi. Demi apapun Gracia sakit mengatakan ini. Shani perih mendengar ini.

"But now I'm here ... untuk kamu, Ci. Untuk menebus kebodohan aku menyakiti kamu. Meskipun aku nggak tau, waktunya akan cukup atau ngga untuk menyembukan semua luka-luka itu."

Air mata Feni ikut jatuh, lalu ia menghambur memeluk Gracia membelakangi Shani. Melepas kembali pelukan itu kemudian membawa tangan Gracia ke dalam genggamannya. Upaya mentransfer sisa energi yang ia punya.

"Ci, diantara kalian ga ada yang lebih sakit. Baik kamu atau Gracia sama sakitnya aku rasa. Sekarang balik ke niat awal kamu aja coba. Tujuan kalian dekat lagi seperti ini untuk apa? Cuma untuk ributin hal-hal ngga  jelas? Saling menyakiti lagi kayak gini? Mending balik ke saling asing aja deh. Pusing aku."

Mendengar isakan Gracia yang terdengar perih sekali di telinga dirinya, perlahan Shani mulai luluh. Ia mengambil tangan Gracia di genggaman Feni. Memberi elusan halus pada jari jemari lentik adik kesayangannya.

"Kamu mandi setelah itu ganti baju. Aku kangen, mau peluk," kata Shani selagi memberi seulas senyum menenangkan pada Gracia. Tapi hati Feni yang meleleh.

Lil'sistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang