Selamat membaca guys
====•••====
===••===
=•=
'Code blue code blue. RJP. Bangsal kanker kamar 48'
Seperti menggenggam tangan yang sudah tak ingin lagi digenggam. Seperti menjaga hati yang sudah lama memberi isyarat ingin pergi.
Namamu mulai pudar terkikis hujan. Tinggal bayang usang, meninggalkan luka yang enggan hilang.
Lihat, kita berdua diam-diam menangis. Kamu di balik peti mati, aku dipelukan orang lain. Tak ada suara, hanya bulir bening di pelupuk yang mengalir menyakitkan.
Perlahan aku meraung. Membayangkan hari tanpa kamu. Tentang malam-malam yang akan aku peluk sendiri. Sakit yang tak pernah pulih, tak juga meminta sembuh.
Aku sudah sampai di titik, dimana menggenggam sama menyakitkan dengan melepaskan.
Jangan terburu-buru, Ge, aku belum siap memikul luka seorang diri. Tapi aku tak rela pula membiarkan kamu memeluk sakitmu sendiri.
•••
"Cii?"
Di dalam pejaman matanya, air mata mengalir deras di kedua sudut mata Shani.
Terperanjat, ia membuka matanya yang sudah sembab. Di mana ada Gracia persis di depan matanya. "Ci? You okay?" Gracia memastikan lagi.
Ia menyambut kepala Shani untuk membawa ke dalam pelukannya.
Sementara perempuan lain berkali-kali mengatur napas. Membuang sesak yang menyanderanya. Kenapa yang tadi rasanya seperti nyata?
Lagi, Shani membuang napas kasar, membuang sesak terakhir dan kini mulai sedikit lega.
"Kenapa hey?" tanya Gracia lagi sembari mengelus lembut rambut halus Shani di dekapannya. Mengetap punggung itu menenangkan.
Shani menggeleng. Masih sesak bahkan hanya ingin mengucap satu kata.
"Mimpi, ya?"
Alih-alih menjawab, Shani menenggelamkan wajahnya di leher Gracia. Mulai terisak, sesak sisa-sisa di dalam mimpi kembali meremas ulu hatinya. Perih, meski ia sudah sadar bahwa ini hanya mimpi.
Gracia memberikan waktu untuk Shani berdamai. Tak lagi bertanya, hanya mengeratkan pelukan dan elusan lembut di punggung yang sedikit berguncang di dalam pelukannya itu. Tak memberi sepatah kata apapun, hanya isyarat bahwa dirinya masih utuh milik Shani.
Hampir seperempat jam berlalu. Hening, hanya ada isak perih Shani, hanya ada balas sentuhan saling menguatkan.
"Kangen," lirih Shani tiba-tiba. Melebur diantara dersik angin dan detak jam.
Kontan Gracia tersenyum. Embun di matanya tak jadi turun. Ia berhasil menahan. Karena ia tahu, satu bulir saja jatuh, maka itu akan lebih deras dari milik Shani.
Mengendurkan pelukan, perlahan Gracia mengangkat dagu kesayangannya. Membawa wajah itu untuk melihat ke dirinya. "Aku di sini."
Shani mengangguk perih, yang ia tatap sekarang benar-benar kesayangannya. Bukan ilusi semata, bukan pula rekayasa. Yang tadi memang hanya mimpi dibalut sesak hingga terbawa ke realita. Sesaknya nyata, isaknya nyata, perihnya nyata, air mata itu nyata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lil'sist
General FictionBersama Shani, adalah jenis hubungan paling Gracia suka. Menemukan sosok saudara perempuan yang tidak ia miliki di rumah rasanya seperti ini adalah berkat dari betapa baiknya Tuhan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya. Memiliki Gracia di hidupnya...
