Di jantung kota Gothic Edinburgh yang memesona. Di Edinburgh sehabis hujan dan pelanginya. Perempuan berwajah teduh bertualang untuk kenangan musim semi.
Cuaca menari melalui sayup- sayup matahari, hujan, pelangi dan kemudian salju bergantian.
Peaceful.
"Punya kamu apa itu?"
"Kopi."
"Kok aku cokelat?"
"Enakan cokelat, Sayang."
"Kenapa kamu ga cokelat juga kalo gitu?"
"Aku udah pernah. Nanti kalo mau, tinggal gerecokin punya kamu," sahut Shani enteng
"Aku boleh gerecokin kopi kamu juga berati?"
"Gaboleh!"
"Dih curang! Segitu sayangnya sama kopi sampe ga mau berbagi even sama aku?"
"Bukan sayang kopinya, sayang kamunya aku."
Menerawang kosong menekuri kepulan asap di cup berisi cokelat, Gracia seolah tak urung melepas bibir mengerucutnya. Sebal, kenapa Shani segitunya sama kopi? Seolah lebih sayang minuman beraroma khas itu daripada dirinya. Wait? Cemburu sama kopi? Yang bener aja saudara!
Meletakkan cup kopinya, Shani beranjak mendekat. Mengecup sekilas bibir lucu itu tanpa izin pemiliknya. "Sebel?" Shani memastikan dengan suara paling lembut setengah merayu.
"Kenapa ga mau bagi kopinya?" tanya Gracia masih dengan wajah sewot. Matanya sinis menatap Shani yang sudah lebih dulu menatapnya sayang sedari tadi.
Sementara Shani terkekeh, selalu dibuat gemas akan tingkah adik kesayangannya itu.
"Iya, nanti aku bagi, ya? Kamu cobain dulu itu cokelatnya," rayu Shani tepat di telinga Gracia.
Manut, Gracia mulai menyesap cokelat panas di cup miliknya. Sekali, dan demi apapun ini adalah rasa manis terbaik yang pernah ia coba. Ia menyesap banyak kandungan serotonin dan endorfin. Senyawa-senyawa yang dapat merangsang pelepasan hormon kebahagiaan dan mengurangi rasa stress.
Betul, mood Gracia berangsur membaik sekarang.
"Agak reda sedikit, keluar yuk, Ci?"
"Tunggu beneran reda aja ya, Sayang ya?"
Berdecak sebal, lalu perhatian Gracia tercuri cup kopi di tangan Shani. "Mau kopinya dong?"
"Lumayan strong ini. Takut perut kamu untolerant."
"Aman kok."
"Takut bikin kamu berdebar sih aku."
"Aman kok, Ci. Sedikit aja please."
Kemudian beberapa menit Shani mulai mengumpulkan nyali.
Menyesap kopi di cup, ia mendekatkan wajah keduanya, mendaratkan ciuman pelan di bibir kesayangannya.
Perlahan Shani menelusuri sembari mencari akses. Lalu perlahan ia mengigit lembut bibir bawah Gracia.
Seolah sama mahir, Gracia memberi akses penuh untuk Shani. Membuka bibirnya dan mulai menyecap rasa kopi langsung dari kesayangnya.
Baru sampai ujung lidah dan belum ada yang tertelan samasekali, tapi kekhawatiran Shani tampaknya lebih cepat bereaksi. Dalam sekejap jantung Gracia mulai berdebar nyaris tidak terkendali.
Bukan, bukan karena kopi yang jelas-jelas belum sempat ia telan. Tapi karena cara Shani membaginya dan itu jauh sekali dari ekspektasi dirinya. Nakal, tapi ia suka.
"How does is taste?"
Masih setengah mencerna tindakan Shani, Gracia mengangguk samar selagi mencari rasa kopi yang tiba-tiba menjadi ambigu di lidahnya. "Mayan," katanya ragu-ragu. Masih belum menemukan rasa pasti. Apakah itu manis atau malah pahit? Atau keduanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lil'sist
RomanceBersama Shani, adalah jenis hubungan paling Gracia suka. Menemukan sosok saudara perempuan yang tidak ia miliki di rumah rasanya seperti ini adalah berkat dari betapa baiknya Tuhan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya. Memiliki Gracia di hidupnya...
