59

6.2K 486 78
                                        


Selamat membaca!

Jam sudah menunjukan pukul 01.23 dini hari saat keduanya berbarengan merebahkan diri di sisi ranjang bersisian. Perjalanan Bali-Jakarta cukup menguras energi keduanya terkhusus Gracia.

Sayup-sayup mata Gracia mulai menemui peraduan. Beralih menapaki dunia mimpi. Dimana tidak ada satu orang lainpun di sana, kecuali Shani dan dirinya.

Sementara perempuan lain mulai mengambil posisi meringkuk ke sebelah kanan. Dimana ada wajah damai kesayangannya di sana. karena tak ia dapati gerak dan suara apapun lagi. Senyap. Sunyi.

Diletakannya telapak tangan ke atas dada untuk memastikan helaan napas dan detak jantung di sana. Terlengkung senyum lega di wajah perempuan menawan itu, lalu mendekatkan wajah dan mengecup kening kesayangannya dengan segenap rasa syukur dan cinta. 'Kamu masih milikku, Ge' gumam Shani nyaris tanpa suara. Perasaannya selalu sama setiap hari saat mendapati fakta bahwa Gracia masih berada di sampingnya.

Perlahan ia beranjak turun. Mengambil beberapa kapas make-up dan micellar water lalu kembali ke Gracia. Kemudian mulai mengetap kapas itu pelan dan hat-hati sekali di pipi sebelah kanan adik kesayangannya.

Terlihat kelopak mata dengan bulu hitam lentik itu berkedut kemudian perlahan terbuka. "Ci ngantuk," rengeknya malas dengan kesadaran setengah.

Senyum Shani kembali merekah mendapati itu. "Iya aku pelan-pelan. Kamu ngga cuci muka samasekali, Sayang," tutur Shani dengan suara paling lembut. Itu seperti sebuah bujukan halus agar Gracia nyaman akan setiap sentuhan dirinya. Tidak keberatan, tidak pula protes.

Tak ada hitungan menit, Gracia memejamkan matanya kembali.

"Boleh aku lanjut, Sayangku?"

Mata itu enggan terbuka, hanya saja gumamannya terdengar merespon Shani, "Eumm,"

Lagi, kesayangan Gracia itu tersenyum.

Belasan tahun hidup bersama melewati beragam kesedihan dan kebahagiaan dengan tangan saling genggam menguatkan. Merasakan air mata datang bergantian dengan tawa, bahkan kadang mengecap kedua rasanya di waktu yang sama.

Salah paham, perselisihan, pertengkaran sering sekali membuat keduanya disekat jarak dan saling mendiamkan.

Tak jarang pula merasa saling asing karena kata-kata arogan yang tak sengaja terlontar sebab kalah oleh ego masing-masing.

Hanya saja pertengkaran-pertengkaran itu tak pernah bertahan lama. Perasan sayang sama kuat membuat ikatan tak terlepas di hati keduanya. Karena semakin memahami betapa mereka berdua tercipta memang untuk saling melengkapi.

Hingga akhirnya kembali saling memeluk dalam kerinduan dan saling memaafkan tanpa sedikitpun keraguan.

Seiring waktu bergulir, Shani mulai merasa cukup mengamati perubahan pada diri masing-masing. Gracia yang mulai dewasa pada beberapa hal. Dan dia yang selalu bangga melihat setiap perubahan kecil yang ada pada kesayangannya.

Tentu hal yang paling jelas terasa perubahannya adalah rasa kepemilikan dirinya terhadap perempuan itu yang semakin hari semakin besar sekali rasanya. Takut itu direnggut, entah oleh keadaan atau Pemilik Kehidupan.

Betapa setiap hari Shani berperang dengan kekhawatiran dan takut kehilangan.

Tergelincir air dari sudut matanya. Tidak ingin skeptis, tapi ....

Ah sudah, Shani kembali fokus membersihkan dengan telaten wajah cantik Gracia dari make-up tipis.

Semakin terhapus make-up itu, entah kenapa kecantikan itu semakin jelas memabukan Shani. Rasanya telah habis kata untuk memuja keindahan yang terpampang nyata tepat di depan mata dirinya itu.

Lil'sistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang