Chapter 54

8.2K 602 136
                                        


Serasa berhutang aku bikin kalian nunggu lama guys. Maaf yaa

Selamat membaca!

======•••=====

Setelah menelpon minta arahan dari Marco, Shani mulai sedikit tenang setelah sebelumnya ditenangkan Gracia tapi tidak juga membuatnya tenang. Panik hebat membuat kata-kata menenangkan dari kesayangannya itu mental sia-sia. Shani kepalang takut, takut akan segala kemungkinan yang akan membuat dirinya hancur seperti apa yang selama ini ada dalam fikiran buruknya.

Gracia biasa karena sudah terbiasa, sementara untuk Shani ini pertama kalinya.

Dengan air mata yang belum juga berhenti, telaten sekali Shani mengompres hidung Gracia dengan air dingin. Menekan bagian dalam hidung adik kesayangannya itu dengan kassa steril. "Kalo ada yang masuk ke mulut, jangan ditelen, Sayang, ya," Shani mewarning dengan suara paling lembut. Ia melakukan sebaik yang ia bisa ia lakukan sesuai arahan Marco yang masih terhubung di sambungan telephone.

Gracia menganguk samar masih dengan posisi duduk tegak. Konsentrasi penuh agar tidak tiba-tiba berbaring karena sambil menahan sakit di kepalanya juga.

"Ke rumah sakit aja, yuk?"

"Malem, Ci ribet ke luarnya kamu. Lagian belum ada 15 menit ini, udah mulai berhenti juga kayanya aliran darahnya." Adalah kali ke lima Gracia menolak ajakan Shani untuk ke rumah sakit. Sedari pertama kali Shani melihat darah di hidung Gracia, yang ada di kepalanya hanyalah rumah sakit terdekat. Tapi kesayangannya itu menolak dengan dalih sudah biasa dan mimisan ini adalah gejala paling ringan untuk dirinya. Sementara ia merahasiakan sakit di kepalanya karena takut membuat Shani semakin panik.

Tak lebih dari 20 menit, darah di hidung Gracia telah benar-benar berhenti, begitu juga sesak yang sedari tadi menjejali hati Shani luruh sekejap tak bersisa samasekali. Sejenak ia dapat kembali bernapas lega. Setidaknya ia tak harus membawa Gracia ke rumah sakit. Kata Marco, jika mimisan Gracia belum juga berhenti dalam 20 menit, rumah sakitlah satu-satunya opsi.

'Aman, Shan?' Marco memastikan.

"Harusnya aman ya, Ko. Aman sih kayanya. Udah beneran berhenti ini."

'Keren kalian,' kata Marco lagi di sambungan telephone sana. Pujian itu jelas tulus Marco berikan untuk kedua perempuan itu. Yang satu melawan pesakitan, yang lainnya melawan rasa takut kehilangan. Tak ada yang berpasrah, malah seolah sepakat untuk terus saling support saling menguatkan. Sama-sama meletakan kepala di kaki keajaiban. Merayu ketidakmungkinan pada Tuhan. Jika hubungan keduanya tidak akan pernah jelas, maka setidaknya kesembuhan Gracia penggantinya.

====•••=====

Setelah memastikan Gracia aman berbaring karena mimisannya, Shani kembali menata bantal untuk mereka lalu membantu Gracia merebahkan dirinya pada posisi nyaman seperti sebelumnya. Sementara dia menopang kepalanya dengan siku ditekuk, posisi yang cukup krusial untuk menatap jelas wajah Gracia yang memilih tidur terlentang sekarang.

Merapikan beberapa helai anakan rambut di dahi Gracia, Shani menundukan kepalanya sedikit, mencium perempuan itu cukup lama. Mengundang kaca-kaca di matanya kembali pecah berhamburan.  Shani selalu patah setiap kali melihat kesayangannya berpura tegar pada rasa sakit yang mati-matian Gracia tahan.

"Kalo itu sakit, jangan ditahan. Apa gunanya aku ada di dekat kamu sementara kamu masih menyembunyikan rasa sakit itu sendirian? Ngadu ke aku, biar aku tahu harus gimana, Ge. Jangan bikin aku merasa ngga berguna kaya gini." papar Shani di sela isakannya. Tidak tega, Shani benar-benar muak pada kenyataan bahwa dia masih belum bisa melakukan lebih banyak untuk menangani rasa sakit yang Gracia punya.

Lil'sistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang