Maaf ya teman-teman aku baru ada waktu buat update. Siapa tau ada yang sampai lupa dengan alurnya (wkwk), baca ulang lagi aja beberapa part sebelumnya ya. Terima kasih.
===•===
Selamat membaca
Setitik air jatuh kemudian tanpa permisi bulir lain menyusul turut merangsek minta dikeluarkan lalu luruh berjatuhan. Mengalir deras bak hujan menganak sungai di kedua pipi cantiknya.
Suara isak lembut terdengar, hampir tak terdengar. Sementara deraian itu ia biarkan, rasa sakit yang seolah tak mau sirna ini benar-benar butuh diluapkan.
"Aku ngga mau pulang, Mpen. Di sini dia kelihatan sehat banget. Bahkan pada beberapa moment aku lupa kalau dia itu pengidap penyakit serius. Kalau saja boleh, aku ingin setiap hari lupa dengan kenyataan sialan itu. Dibayang-bayangi rasa takut kehilangan sementara dituntut untuk terus menyembunyikan itu jujur aja nyiksa aku banget. Aku ingin menangisi itu dipelukannya dia, minta dia untuk terus berada di dekat aku. Tapi pasti itu akan menambah rasa sakit untuk dia kan?"
"Anaknya masih di kamar mandi?" kata perempuan di seberang sana. Sama teririsnya mendengar pengakuan Shani. Meskipun tidak berada persis di posisi Shani, sedikit banyak Feni paham rasa sakitnya seperti apa. Dihantui rasa takut kehilangan seseorang yang paling kita anggap berharga keberadaannya adalah sesuatu yang pasti tidak sederhana rasa sakitnya. Sementara di sisi lain dia harus selalu terlihat tegar sementara separuh hatinya telah benar-benar hancur. Melebur dengan rasa takut yang sudah tidak lagi dapat ia takar.
Shani mengangguk samar sembari menyeka air mata lalu mengetap kedua pipinya membersihkan jejak-jejak bulir air yang menganak sungai di sana.
"Tapi bisa jadi ini malah kabar bagus, Ci. Keadaan Gracia mungkin emang udah membaik."
"Takut," timpal Shani bergetar. Perih sekali menelusup masuk ke telinga Gracia saat tak sengaja perempuan itu mencuri dengar beberapa penggal obrolan Shani dengan Feni saat ia keluar kamar mandi dan hendak beralih ke walk in closet.
"No, kamu harus tetap jadi yang paling optimis. Kamu yang bikin kita-kita ini turut yakin juga akan kesembuhan Gracia."
Sejujurnya Shani capek dijadikan tumpuan perihal kesembuhan Gracia. Ia butuh dikuatkan juga. Butuh diyakinkan bahwa Gracianya akan hidup lebih lama dengan dia.
Ibu beranak satu itu buru-buru menyeka air matanya lagi sembari menghilangkan jejak-jejaknya juga saat mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Meletakan sia-sia handphone itu di meja setelah dia memutus sepihak sambungan telephonenya dengan Feni. Kali ini Gracia sengaja membuat suara itu agar Shani sadar akan keberadaan dirinya setelah tadi ia buka pintu itu hati-hati dan Shani tidak mendengarnya.
Menoleh pada sumber suara, Shani memberi seulas senyum paling teduh dengan mata masih basah yang berusaha ia sembunyikan. Merentangkan kedua tangannya isyarat meminta Gracia untuk menghambur ke dalam pelukannya.
"Kok lama? Ngapain? Kangen," protesnya lembut selagi mendekap erat tubuh Gracia dipangkuannya. Mengecup kecil punggung adik kesayangannya dua kali lalu memiringkan wajahnya untuk melihat jelas wajah favoritnya itu. "You okay?" Shani memastikan lagi saat wajah keduanya bertemu. Awalnya dia pikir Gracia lama di kamar mandi karena sekalian mandi, ternyata tidak. Gracia masih mengenakan pakaian yang sama hanya wajahnya saja yang sudah tanpa make-up sekarang. Lagi, Shani dihinggapi kekhawatiran.
Gracia mengambil tangan Shani di pangkuannya. Menciumnya lembut lalu kembali menatap wajah teduh kesayangannya itu. "I am okay," katanya menenangkan. Dan benar, senyum di bibir Gracia saat mengatakan itu berhasil menghangatkan hati Shani kembali. Luruh sebagian kekhawatirannya meski hanya 20% dari 100%.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lil'sist
Ficción GeneralBersama Shani, adalah jenis hubungan paling Gracia suka. Menemukan sosok saudara perempuan yang tidak ia miliki di rumah rasanya seperti ini adalah berkat dari betapa baiknya Tuhan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya. Memiliki Gracia di hidupnya...
