Intimacy

6.9K 502 72
                                        


18+

Membangunkan kesayangannya dengan cara paling manis adalah hal yang sangat Shani suka. Mengelus setiap lekuk wajah Gracia lalu menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi di tempat yang sema setelahnya. "Udah mau sore, Sayangku. Bangun yuk?"

Menggeliat malas dengan wajah sangat polos, Shani selalu sukak melihat pemandangan yang akhir-akhir ini menjadi bagian favoritenya itu. Alih alih kesal, ibu beranak satu tapi memiliki baby dua itu tak pernah keberatan jika bayiknya yang lain ini susah dibangunkan. Karena artinya ia bisa lebih lama menikmati pemandangan exclusive ini. Bare face perempuan kesayangannya dengan mata terpejam tapi memasang wajah sebal menggemaskan sebab belum ingin dibangunkan.

Sekali lagi menciumi gemas pipi cantik favoritnya, Shani masih belum bosan merayu. "Bangun yuk, Sayangku. Katanya mau ikut anak-anak ke pantai."

Menepis kecupan Shani di bibirnya, Gracia bergumam tidak jelas. "Eum, ih! Suka ganggu aku bobo kamu mah!"

Terkekeh semakin gemas, Shani masih belum menyerah dengan misinya membangunkan perempuan di dalam dekapannya itu. "Jam tiga ini loh. Go weekup go! Belum kita siap-siap juga kan? Yuk ? Nanti ngga dapet sunsetnya."

"Ngantuk, Ci, demi deh."

"Semalam kamu ngga bobo jangan-jangan?" tuduh Shani. Karena sejatinya dialah yang tidak tidur samasekali.

Kontan Gracia melepas pejamannya. Menatap mata Shani dengan mata yang belum bisa ia buka sepenuhnya karena berat sekali rasanya. "Bobo,
Sayangku," katanya lembut. 'Tapi emang agak telat banyak.' Lanjutnya lagi dalam hati.

"Ngga usah ikut yuk? Kemarin kan udah kita?" kata Gracia lagi masih berupaya menawar. Karena entah kenapa ngantuk sekali rasanya padahal sudah ia bawa tidur cukup lama.

"Enak sama mereka?"

Gracia berdecak tidak lagi bisa mengelak. Apa yang Shani katakan banyak benarnya. Kemudian dengan berat hati ia melepas selimut yang membalut tubuh ringkihnya. "Aku duluan yang mandi?" tanya Gracia sesaat sebelum ia benar-benar beranjak.

Sigap Shani membawa tangan Gracia ke dalam genggamannya. Menahan agar perempuan itu untuk tidak terburu-buru meninggalkan dirinya. Lalu memberinya anggukan lembut disertai seulas senyum menawannya. "Jangan lama-lama, ya?"

"Takut kangen?"

Lagi, Shani mengangguk dengan senyum penuh cinta. Entah kenapa hanya dengan melihat wajah kesayangannya saja perasaan kalut yang sempat menyandera egonya cepat sekali melebur tak bersisa. Gracia tak perlu mengatur banyak strategi untuk meluluhkan hati Shani.

Membalas senyum menenangkan itu, perlahan Gracia mencondongkan tubuhnya merapat mengintai Shani. Memangkas jarak lalu mendaratkan ciumannya di bibir milik kesayangannya itu. Melumatnya lembut dan tidak terburu-buru.

Meski bukan lagi kali pertama, Shani selalu dibuat tergugu kaku setiap mendapati serangan mendadak seperti ini. Ia selalu butuh waktu untuk mencernanya lebih dulu. Gracia benar-benar tak terduga dalam beberapa hal.

Begitu sadar, dengan senang hati naluri Shahi yang lain menyambutnya. Menarik lembut tengkuk Gracia untuk ia rengkuh lebih dekat. Memperdalam ciuman yang dikomadoi kesayangannya lebih dulu, Shani melumat lambat bibir ranum yang akhir-akhir ini telah menjadi bagian dari favoritnya itu.

Pada sentuhan satu sama lain keduanya membagi rasa paling rahasia yang tidak pernah bisa tersampaikan oleh kata-kata.

Saat napas mulai tersengal dan berat bagi keduanya, perlahan Shani mengurangi intensitas ciuman setengah panas itu. Sejujurnya masih belum ingin mengakhiri, namun kejadian Gracia mimisan hari lalu cukup untuk menjadi bahan peringatan untuk Shani.

Lil'sistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang