Day ends beautifully

6.5K 519 79
                                        



Happy reading!

===••===

"Should we continue?" bisik Shani, kembali memastikan di sela ciumannya.

"Let's keep going," sahut Gracia dengan suara tertahan. Hasratnya semakin membuncah mendapat setiap sentuhan Shani di tubuhnya dan bisikan lembut itu.

Ting!

Tok tok tok!

"Ci! Gre!

Do you wanna build a snowman?!

Come on let's go and a play!"

Itu adalah suara Feni di luar sana.

Shani dan Gracia kontan menghentikan aktivitas keduanya. Sama-sama melihat jam dinding yang berada persis di depan mata mereka. Berbarengan mengulas senyum frustasi saat melihat jam sudah menunjukan pukul 16:48 WITA

Mendapati Gracia hendak beranjak, sigap Shani menahannya. "Kita nyusul aja, ya?"

"Ci tap-"

"Don't leave me, please?"

Sementara Gracia tercekat. Rasanya berat sekali mengucap barang satu kata pun.

"Honey?" pinta Shani memohon. Tatapannya  sudah berbeda sekarang.

"HALLO MANUSIA-MANUSIA YANG BERADA DI DALAM, APAKAH KALIAN TIDUR?"

"Ci?" Wajah Gracia semakin panik, fokusnya terbagi antara teriakan Sisca barusan dengan cekalan Shani di lengannya juga aktivitas mereka yang baru masuk setengah jalan itu.

Ditambah gelengan Shani semakin membuat Gracia bingung.

"MINIMAL KASIH KODE ATAU APAPUN BUAT KITA NGGA GANGGU! LAGI QUALITY TIME KAN KALIAN?!" Kata-kata tidak seronok ini sudah jelas masih milik Sisca.

"Asbun bet!" Ini sayup-sayup suara Anin. Meski hampir tidak terdengar jelas, Shani dan Gracia kenal betul itu suara Anin.

Dan tangan Shani sudah melingkari tubuh Gracia lagi. Memeluk kesayangannya dari belakang.

"Coba ditelphone!" seru Feni sok memberi ide.

Shani tetap menahan Gracia di dalam pelukkannya. Mencium belakang telinga perempuan itu. Menghirup dalam wangi tubuh kesayangannya.

Gracia memutar tubuhnya kembali menghadap Shani, "Sayang?" ucap Gracia seolah butuh diyakinkan. Dan suara Gracia mulai terdengar berat di telinga Shani.

Pelan Shani membawa perempuan itu ke dadanya. Melumat bibir itu penuh cinta. "Aku sayang kamu, Ge. So bad," bisik Shani di sela ciumannya.

Dalam degub, Gracia mulai berani memeluk Shani. Memberi isyarat memberi izin perempuan itu untuk mengeksplor hasrat kesayangannya.

Tangan Shani mulai mencari. Terulur diantara siku milik Gracia di bawah air. Mengelusnya lembut di sana. Membuat lingkaran abstrak dan itu adalah titik sensitif untuk Gracia. Ia tercekat. Jantungnya berdebar semakin hebat. Matanya rapat terpejam.

"Don't forget to breathe, Honey," bisik Shani tepat di daun telinga Gracia.

'Eumh, Ci!" Lenguhan itu lolos begitu saja disaat sudah mati-matian Gracia menahannya.

Alih-alih terpancing, Shani lebih memilih menarik diri, mengatur hasrat agar tidak menemui nafsu tanpa nalar. Menepis kasar pikiran liar di kepalanya.

Dan fokus kedua perempuan di kamar mandi itu semakin pecah saat mendengar handphone mereka berdering berbarengan, juga suara sahabat-sahabatnya itu di luar sana. Pun mendengar kata hati dan logikanya yang sama-sama menuntut kemenangan.

Lil'sistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang