Beranjak berdiri, kemudian Shani berjalan ke arah pintu. Menguncinya dua kali lalu ia kembali pada adik kesayangannya. Bergabung naik ke bed milik Gracia.
"Ngapain nih?" tanya Gracia dengan mimik penuh akan kecurigaan saat Shani mulai berbaring di sebelah dirinya.
Memeluk Gracia, lalu Shani menenggelamkan wajahnya di bahu adik kesayangannya itu. Beberapa menit, isaknya sudah mulai mereda seiring sakit yang perlahan sirna juga.
Ternyata sebegini besar impact peluk yang Gracia maksud semalam? __'Biar kalo kamu mulai emosi, bisa langsung aku peluk.___
"Ge?"
"Hmm?" sahut Gracia sok acuh tak acuh padahal sedari tadi tangannya sudah gatal ingin mengelus kepala Shani di bahu dirinya itu. Aneh kan? Harusnya tuh dia tidak terima akan keberadaan Shani di dekatnya lagi. Harusnya Gracia tendang aja si Shani itu buat turun dari bed milik dirinya. Nyempit-nyempitin saja. Tapi karena memang sudah terlanjur sayang, jadi mana bisa seperti itu ya kan?
"Ini kamu ngga lagi merencanakan sesuatu kan, Ci?"
Sementara senyum itu lolos begitu saja mendengar kecurigaan Gracia. "Abin siapa, Ge?"
"Ngga usah lagi bikin bahan keributan lain deh. Kamu mending pulang sana!"
Shani beringsut membenarkan posisi, kali ini tidurnya menyamping sepenuhnya menghdap Gracia, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ngga tau nih tiba-tiba aja penasaran, kok bisa Anin jadi Abin? Itu typo atau emang panggilan kesayangan ya kalo boleh tau?" Selidiknya sok mengintrogasi. Jujur saja cemburunya masih sama besarnya. Tapi sebisanya ia kesampingkan dulu untuk misi meluluhkan kembali hati kesayangannya.
Gracia mengerlingkan mata tak suka sembari ia berusaha bersikap biasa saja akan posisi tidur Shani yang sepenuhnya menghadap ke dirinya, menatap intens ke wajahnya. "Dua-duanya. Awalnya emang ga sengaja typo. Eh, tiba-tiba aja jadi sukak setiap manggil dia pake panggilan yang itu. Jadi kaya special aja rasanya karna cuma aku yang pake." Target mulai masuk perangkap. Shani bersyukur soal itu. Seperti sudah tidak ada lagi ketegangan diantara keduanya. Mengesampingkan masalah pelik itu, yang penting baikan saja dulu.
"Eum. Kok aku ngga punya panggilan sayang sih?" Shani memancing lagi. Umpan yang ia lempar tadi belum sesuai target, dia mau strike kali ini.
"Lho, sejak kapan emang aku pernah sayang sama kamu?" Bukan strike ternyata yang didapat, tapi umpan yang sengaja Gracia lempar untuk memancing Shani balik. Oke, kita mancing mania dulu kalo gitu. Capek kan berantem mulu?
Rada nyeri si memang, tapi tidak apa, untuk mendapatkan kembali hati Gracia, tidak semudah kelihatannya ternyata. "Biar kamu sayang aku, ada cara khusus gitu ngga sih? Kayaknya seru disayang kamu kayak Abnin gitu?"
Sekarang Gracia yang beringsut menghadap ke arah Shani. Dan membuat wajah keduanya menjadi sangat dekat kali ini.
Oke, tidak cukup aman ternyata. Tiba-tiba degub di dada Gracia lumayan cepat responya kalo soal Cici kesayangannya. Wajah itu ia tarik mundur kembali memeberi jarak tiga jengkal dari wajah Shani. "Kamu kalo mau panggil dia Abin ya Abin, kalo Anin ya Anin! Bisa-bisanya banget disatuin kayak gitu!" Gracia mengkoreksi.
"Eum," "Eum."
"Kamu dulu." Shani mempersilakan.
"Kamu dulu lah gapapa!"
"Nggak usah jutek-jutek gitu sih, kan ga seru," pinta Shani lembut sekali. Ya namanya juga misi mengambil hati, iya kan? Apapun pasti dilakuin Shani. Tidak pake tapi, tidak pake kecuali.
"Yang lagi seru-seruan siapa emangnya? Mulai aneh deh!" Cibir Gracia masih dengan nada ketusnya.
"Iya udah deh. Tadi kamu mau ngomong apa? Kamu duluan aja aku udah lupa tadi mau ngomong apa." Shani kembali mempersilakan Gracia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lil'sist
RomanceBersama Shani, adalah jenis hubungan paling Gracia suka. Menemukan sosok saudara perempuan yang tidak ia miliki di rumah rasanya seperti ini adalah berkat dari betapa baiknya Tuhan kepada dirinya. Begitu juga sebaliknya. Memiliki Gracia di hidupnya...
