Saat Reyna, Keyla dan Della sedang asik jalan-jalan menghilangkan rasa cape mereka, disisi lain Satya benar-benar dibuat pusing oleh sikap Reyna yang makin sering bolos sekolah. Ia merasa tanggung jawabnya sebagai guru sekaligus calon suami Reyna ikut dipertaruhkan. Pada akhirnya, ia memutuskan mendatangi rumah calon mertuanya untuk bicara langsung.
"Assalamualaikum," sapa Satya dengan hati-hati saat berdiri di depan rumah Reyna.
Pak Ronal keluar menyambutnya, "Waalaikumsalam. Wah, ada Satya kemari. Ayo masuk nak, jangan sungkan. Duduk dulu, biar ibu buatkan teh manis hangat ya."
Satya duduk sambil menahan gugup. "Pak, sebenarnya saya kesini bukan untuk membicarakan soal pernikahan, tapi soal Reyna. Dia bolos sekolah lagi, padahal sudah saya beri hukuman. Setelah saya cek, ternyata dia sama sekali tidak ada di kelas."
Pak Ronal menghela napas panjang. "Huft, anak itu selalu saja bikin ulah."
Bu Sania yang ikut mendengar segera menimpali, "Nak Satya, bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat saja. Bukan dua bulan lagi, tapi dua minggu ke depan."
Satya terkejut. "Eh... kalau saya sih tidak masalah, Pak. Tapi bagaimana dengan Reyna?"
"Papah akan paksa dia," jawab Pak Ronal tegas. "Papah sudah tak sanggup lagi mengurus anak pembangkang seperti itu. Semoga saja setelah menikah, dia bisa luluh dan menurut denganmu."
"Iya, Nak Satya. Ibu percaya kamu bisa membimbing Reyna," tambah Bu Sania lembut.
Satya hanya bisa mengangguk, lalu pamit pulang dengan hati penuh beban.
---
Malam harinya, Reyna baru pulang larut malam. Begitu membuka pintu, ayahnya langsung menghadang.
"Reyna Ananta Wijaya! Dari mana kamu malam-malam begini baru pulang?" bentak Pak Ronal.
Reyna menunduk, "Maaf pah, aku cuma stres di sekolah, jadi nongkrong di café."
Pak Ronal menatap tajam. "Kamu anak gadis, masa keluyuran malam-malam. Apa kamu mau dilecehkan pria hidung belang?"
Bu Sania menimpali, "Cukup sudah. Mulai sekarang, pernikahanmu dengan Satya dipercepat. Dua minggu lagi kamu menikah."
Reyna terkejut. "Kenapa nggak tanya aku dulu? Aku belum siap, pah!"
"Untuk apa papah tanya pendapatmu? Semua ini demi kebaikanmu. Setelah menikah, kamu akan dijaga suamimu," jawab Pak Ronal dingin.
Reyna hanya bisa menggigit bibir. Ia merasa terkekang, tapi tak kuasa melawan.
---
Keesokan paginya, Vivi masuk ke kamar Reyna sambil meledek. "Heh, bocah. Semalam balik jam 12, abis ngapain? Jual diri ya?"
Reyna langsung melotot, "Jaga mulut lu, kak! Gue cuma nongkrong."
Vivi mendengus. "Nongkrong mulu kerjaannya. Kalau bukan nyokap-bokap kasih uang, mana bisa lo nongki sama temen-temen?"
"Ck, sewot amat sih hidup lo," balas Reyna kesal.
"Denger baik-baik, lo tuh adik gue. Kalau sampai kenapa-kenapa, gue juga sedih. Apalagi papah-mamah sayang banget sama lo." Vivi menatap adiknya serius.
Reyna akhirnya mengaku, "Gue makin kesel, kak. Papah percepat pernikahan gue sama Satya, cuma dua minggu lagi."
Vivi menghela napas, lalu duduk di samping Reyna. "Yaudah, gue tahu lo nggak siap. Tapi denger, Rey, meski papah-mamah keras, mereka ingin lo berubah. Dan gue... bakal tetap ada di samping lo."
Reyna menatap kakaknya dengan mata berkaca. "Makasih ya, gue kira lo seneng gue dijodohin."
Vivi tersenyum tipis. "Seneng? Ya semoga aja Satya bisa ngeredam sikap lo yang keras kepala. Tapi jujur, gue juga sedih, soalnya nanti kita nggak serumah lagi."
"Dih, gitu amat," cibir Reyna, setengah tersenyum.
"Udah ah, jangan ngambek terus. Nanti cantiknya ilang," goda Vivi sambil memeluk adiknya.
Reyna akhirnya tertawa kecil. Meski hatinya masih berat, setidaknya ia tahu ada kakak yang peduli padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
