Part 15

451 52 79
                                        

(✯ᴗ✯)
Happy reading, guys!

---

Bel pulang berbunyi. Reyna membereskan buku-bukunya sambil menunggu guru keluar kelas. Saat itulah seorang lelaki tampan menghampirinya.

“Hay, Rey. Kenalin, gue Galang Putra Buanadipta. Balik bareng gue, yuk,” ucapnya percaya diri.

Reyna tersenyum tipis. “Maaf, gue udah pesen ojol. Sekali lagi, sorry banget ya, Lang.” Ia langsung pergi meninggalkan Galang.

“Njir, baru kali ini ada cewek yang nolak gue,” batin Galang tak percaya. Tatapannya mengikuti langkah Reyna, menajam, seolah bertekad.

Devan, sahabatnya, menepuk bahu. “Woi, ngapain bengong, Lang?”

“Gue lagi memperhatiin bidadari jutek,” jawab Galang.

“Mana? Siapa?”

“Itu, murid baru tadi. Masa dia nolak ajakan gue.”

“Serius? Seorang Galang ditolak? Wah, bisa jadi lo udah nggak tampan lagi, bro,” goda Devan.

“Brisik, lo!” kesal Galang. Ia keluar kelas sambil bergumam, *“Tunggu tanggal mainnya, cantik. Gue pasti dapetin lo.”*

---

Di depan gerbang sekolah, Reyna menunggu ojol pesanannya. Dari jauh, ia melihat seorang wanita mengejar Satya.

“Mas, tunggu dulu!” panggil wanita itu.

Satya berhenti dan menoleh dengan wajah kesal. “Apa kamu nggak tahu malu? Ini sekolah!”

“Ma-maaf. Aku cuma ingin tahu, apa kamu sudah punya istri?” tanya wanita itu—Bu Riana, gurunya.

Satya menatap tajam. “Kalau aku sudah punya pasangan, lalu apa maumu? Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan pernah dekati aku lagi!” Ia langsung pergi, meninggalkan Bu Riana.

Reyna yang menyaksikan dari kejauhan mendengus sinis. *“Cih, drama apalagi ini? Menjijikkan.”*

Satya melangkah ke arahnya. “Ayo pulang.” Ia menarik tangan Reyna.

“Aww, sakit! Bisa nggak sih jangan tarik-tarik gitu?” protes Reyna.

“Udah, masuk mobil.”

“Stop! Aku mau pulang sendiri. Aku ada urusan,” Reyna menghempaskan tangannya.

“Apa lagi ini, Rey? Sudahlah, kita bahas di rumah. Jangan marah-marah begini.”

“Marah? Untuk apa? Aku cuma mau beli perlengkapan sekolah, salah?”

“Bukan salah. Tapi aku yakin kamu kesal gara-gara kejadian tadi,” ujar Satya menahan emosi.

Reyna menatapnya dingin. “Untuk apa aku marah? Lagian, kita menikah tanpa cinta, kan? Kalau Om mau balikan sama dia, silakan. Aku nggak peduli!”

Satya terdiam, terkejut dengan ucapan Reyna.

Sebuah motor ojol berhenti. Reyna langsung naik, meninggalkan Satya yang masih terpaku.

---

Dalam perjalanan, Reyna hanya terdiam. Kata-katanya tadi terngiang di kepala. Ia tahu itu melukai Satya, tapi entah kenapa hatinya sesak setiap kali mengingat masa lalu Satya yang tiba-tiba muncul kembali.

“Apa-apaan ini? Di saat gue mulai bingung sama perasaan sendiri, masa lalu dia malah datang,” batinnya.

Setibanya di toko buku, Reyna membeli beberapa perlengkapan. Setelah membayar, ia mampir ke kafe di samping toko.

“Mas, cappuccino satu,” pesannya.

Ia memilih duduk di pojok, membuka ponsel. Ada lima panggilan tak terjawab dan beberapa chat dari Satya.

---

Bangsat❤️
Kamu di mana?

Bangsat❤️
Cepat pulang, ini sudah mendung, Rey!

Bangsat❤️
Reyna? Kenapa teleponnya nggak diangkat?

Bangsat❤️
Reyna Ananta Wijaya, apa kamu lupa waktu?

---

Reyna menghela napas panjang.

'Hari paling buruk sepanjang hidup. Kenapa papa harus jodohin aku sama Pak Satya? Dia sendiri belum berdamai dengan masalalunya.'

Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta. Reyna menatap kosong ke arah jendela. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi ia belum beranjak.

Perlahan, bulir air mata jatuh di pipinya.
“Kenapa Tuhan nggak adil? Pernikahan yang nggak aku inginkan ini sudah cukup berat. Tapi saat aku mulai membuka hati, kenapa masa lalunya harus kembali?”

Air matanya kian deras. Hingga tiba-tiba, sebuah tisu disodorkan kepadanya.

“Nih, jangan nangis. Nanti cantiknya hilang,” suara seorang lelaki.

Reyna mendongak. “Galang? Ngapain lo di sini?”

“Inikan kafe umum. Gue berhak dong nongkrong,” jawabnya santai.

“Hm.” Reyna mengusap matanya.

“Kenapa? Lagi ada masalah? Dari tadi lo murung mulu,” tanya Galang.

“Gausah kepo,” ketus Reyna.

“Oke, gue nggak maksa. Tapi kali ini lo nggak nolak ajakan gue, kan?” ucapnya dengan nada menggoda.

“Maksudnya?”

“Ya gue anterin lo pulang. Malem-malem gini nggak baik cewek secantik lo jalan sendiri.”

“Ih, gajelas,” sahut Reyna.

“Hehe. Yok pulang sama ayang bebeb,” candanya.

“Berisik, deh. Yaudah, gue ikut.”

Galang tersenyum puas. Mereka pun berangkat bersama.

---

Di perjalanan, Reyna tetap diam. Galang mencoba membuka percakapan. “Rey, rumah lo di mana? Gue nggak tau jalannya.”

“Perumahan Meteor Garden.”

“Oke.”

'Duh, cewe ini dingin banget. Hilang harga diri gue kalau gini terus, udah kaya tukang ojol' batin galang

Mereka tiba di perumahan elit. Reyna turun di pos satpam, beralasan akan dijemput ayahnya.

“Lang, cukup di sini aja. Nanti Papa marah kalau gue pulang bareng cowok.”

“Yaudah. Tapi kasih nomor WhatsApp lo dong,” pinta Galang sambil menyerahkan ponselnya.

Reyna mengetikkan nomornya. “Makasih.”

“Jangan sungkan kalau mau nebeng,” kata Galang sambil pergi.

Reyna duduk di pos satpam. Tak lama, ponselnya berdering. Satya menelepon.

“Rey, kamu di mana?”

“Di pos satpam depan perumahan.”

“Yaudah, tunggu. Aku ke sana sekarang,” jawab Satya tegas, lalu menutup telepon sepihak.

Reyna terdiam. Hatinya kembali terasa sesak. Hari itu benar-benar melelahkan.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang