Part 48

208 13 18
                                        

Hari demi hari berlalu. Kini kehamilan Reyna sudah menginjak bulan keempat. Ia tak bisa lagi bergerak selincah dulu, karena takut terjadi sesuatu pada bayi yang dikandungnya.

Siang itu, Reyna duduk santai di sofa ruang tengah sambil menonton film kartun kesukaannya. Ia meminta segelas susu dan camilan pada Mbok Sumi. Hari Minggu ini, ia ingin menikmati waktu santai tanpa beban.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Reyna yang merasa terganggu segera memanggil Mbok Sumi.

“Mbok, tolong bukain pintunya, sepertinya ada tamu.”

“Baik, Nona,” jawab Mbok Sumi.

Begitu pintu dibuka, tampak seorang wanita paruh baya berdiri di depan rumah.

“Selamat datang, Nyonya besar. Silakan masuk,” ucap Mbok Sumi hormat.

Reyna langsung duduk tegak begitu tahu siapa tamunya. “Mamah?” serunya kaget.

“Halo, sayang, apa kabar?” tanya Bu Rosa sambil tersenyum hangat.

“Mamah nggak bilang-bilang mau ke sini sih!” Reyna segera memeluknya erat.

“Namanya juga kejutan untuk menantu kesayangan mamah,” ujar Bu Rosa sambil menciumi pipi Reyna.

“Hehe, iya mah. Mamah sampai Indonesia kapan?”

“Tadi malam, sayang. Oh ya, mamah bawain hadiah buat kamu.”

Bu Rosa mengeluarkan kotak kecil berisi kalung elegan berhiaskan berlian mungil.
“Wah, cantik banget! Makasih ya, Mah,” ucap Reyna terharu.

“Sama-sama, sayang,” jawab Bu Rosa lembut.

“Eh, kok mamah nggak lihat mobil Satya di depan?”

“Abang lagi ke Pasar Minggu, Mah.”

“Tumben ke sana. Kamu suruh beli apa?”

“Aku minta dibeliin ayam warna-warni, lucu soalnya,” jawab Reyna sambil cengengesan.

“Ya ampun, ada-ada aja ngidamnya,” kata Bu Rosa tertawa.

Mereka pun berbincang hangat—Reyna bercerita soal Mochi, kucing kecilnya, sementara Bu Rosa menceritakan pengalamannya saat di Amerika.

Pukul 10.00, Satya tiba di rumah sambil menenteng kardus berisi ayam warna-warni pesanan Reyna.

“Sayang, aku pulang!” serunya.

“Abang lama banget, maaf ya udah nyusahin,” kata Reyna.

“Gapapa, buat istri tercinta apa sih yang enggak,” balas Satya tersenyum.

“Udah sana mandi, bau matahari,” goda Reyna sambil menutup hidung.

Satya terkekeh dan beranjak ke kamar mandi. Saat melewati ruang tamu, ia terkejut melihat ibunya.

“Mamah? Kapan sampai?”

“Tadi malam, Nak. Sengaja nggak ngabarin biar bisa kasih kejutan buat Reyna,” jawab Bu Rosa.

“Selamat datang, Mah. Aku senang kita bisa kumpul lagi,” kata Satya.

Bu Rosa tersenyum. “Mamah juga, Nak. Sekarang sana mandi, nanti ngobrol lagi.”

Malamnya, mereka bertiga duduk di ruang TV sambil menonton film. Suasananya hangat. Namun Reyna tiba-tiba termenung, teringat orang tuanya yang sudah tiada.

“Mah, Pah... andai kalian ada di sini, pasti lebih lengkap,” batinnya lirih.

Satya menyadari perubahan wajah istrinya. “Sayang, kenapa? Ada yang sakit?”

“Enggak, Bang. Aku cuma... terharu aja. Makasih ya, Bang, buat semuanya.”

“Udah, jangan sedih. Nggak baik buat kamu. Yuk, makan kue yang Mamah bawa,” ucap Satya lembut.

Saat mereka menikmati kue, Satya mendapat panggilan dari dokter kandungan Reyna. Ia mendengarkan serius, lalu menutup telepon.

“Besok jadwal kamu kontrol, sayang,” katanya.

“Wah, Mamah harus ikut!” seru Bu Rosa.

“Tentu aja boleh, Mah,” jawab Satya tersenyum.

Keesokan harinya, mereka bertiga pergi ke rumah sakit.

“Bagaimana kondisi bayinya, Dok?” tanya Satya.

“Sehat, dan perkembangannya sangat baik,” jawab dokter.

Reyna diminta menjalani USG. Dokter juga memberi vitamin dan obat penambah darah.

“Jangan lupa diminum ya, istirahat cukup, dan hindari stres,” pesan dokter.

“Baik, Dok,” jawab Reyna.

Setelah kontrol, mereka pulang. Reyna tak sabar ingin melihat ayam warna-warni yang dibeli Satya kemarin. Namun sesampainya di rumah, ia langsung menjerit.

“Huaaa! Ayam warna-warni akuuu!”

Mochi tampak bermain kasar dengan ayam-ayam itu.

“Tenang, sayang, nggak ada yang mati kok,” ucap Satya menenangkan.

Bu Rosa langsung menggendong Mochi dan membawanya ke kamar.

“Bang! Ayam ungu-nya pincang!” tangis Reyna.

“Gapapa, besok juga sembuh. Jangan nangis, ya.” Satya mengusap rambut Reyna lembut.

Beberapa menit kemudian, Reyna sudah kembali ceria. Ia menatap ayam kuning kesayangannya.

“Hihi, ini bisa nih pakai rok.”

“Hah? Rok? Mana bisa?” tanya Satya bingung.

“Bisa, Abang! Nih ya...” Reyna mengambil potongan kain kecil, lalu memakaikannya pada dua ayam kuning itu.

“Lucu banget, kan?” katanya bangga.
Satya hanya bisa menggeleng. “Sumpah, kamu tuh ada-ada aja.”

“Maaah! Sini deh liat nih!” panggil Reyna.
Bu Rosa datang dan langsung tertawa terbahak-bahak.

“Ya ampun Rey, kamu ini kocak banget! Ayam dikasih rok segala.”

Reyna tersenyum lebar. “Hehe, tapi gemesin kan, Mah?”

Bu Rosa dan Satya saling pandang lalu tertawa bersama. Rumah itu pun kembali dipenuhi kehangatan, tawa, dan cinta yang tulus.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang