Part 18

380 43 39
                                        

pukul 10.00 pelajaran olahraga akhirnya selesai. Satya merasa lapar lalu menuju kantin.

“Akhirnya pelajaran selesai juga, makan siang dulu ah,” gumamnya.

Melihat itu, Bu Riana mencoba mendekat. “Eh, Mas, ke kantin ya? Bareng yuk.”

“Silakan, saya mau sendiri saja. Tidak enak dilihat anak-anak,” jawab Satya singkat tanpa menoleh.

Bu Riana terdiam, hatinya perih.

'Tega sekali kamu mas, 4 tahun hubungan kita, kamu bisa lupakan begitu saja.'

Saat ia termenung, Reyna bersama Keyla dan Alisa lewat. Melihat kesempatan, Bu Riana pun mengajak mereka makan.

“Eh, Rey, ke kantin bareng yuk. Nanti Ibu yang bayarin.”

“Wih, ada apa nih?” tanya Keyla.

“Tidak ada, Ibu cuma kesepian aja.”

Reyna dan teman-temannya pun mengiyakan.

Di kantin, Satya sudah duduk santai dengan nasi uduk. Reyna memilih kursi kosong, lalu Bu Riana ikut bergabung.

“Ibu pesan bakso ya, kalian mau apa?” tanyanya ramah.

“Bakso aja, Bu,” jawab Reyna. Keyla dan Alisa kompak memilih sama.

Sambil menunggu, Alisa tiba-tiba nyeletuk, “Bu, gosip yang dibilang anak kelas 12 itu bener nggak? Katanya Ibu mantan tunangannya Pak Satya.”

Reyna langsung tersedak minuman. “Uhuk-uhuk! Masa sih, Bu?”

Bu Riana tersenyum kaku. “Iya, benar. Dulu Ibu dijodohkan dengan pria pilihan orang tua, jadi terpaksa meninggalkan Satya.”

Alisa dan Keyla terdiam, merasa bersalah. Tapi dalam hati Reyna mendengus kesal. 'Halah pintar banget sandiwaranya, dia bukan dijodohin tapi dianya matre, mana mau lah dia sama bangsat yang cuma jadi guru.'

Tak lama, empat mangkuk bakso datang. Mereka makan sambil bercanda, lalu Bu Riana berpamitan kembali ke ruang guru.
“Terima kasih sudah mau makan bareng Ibu.”

Sepeninggalnya, Keyla menegur Alisa. “Ngapain sih nanya begituan?”

“Kan kepo.” balas Alisa.

Reyna pun mengomel, “Udah, diem. Gue lagi nikmatin bakso nih.”

Tiba-tiba ponsel Reyna bergetar. Pesan dari Satya masuk.

BANGSAT❤️: Dia ngomong apa aja barusan?
BANGSAT❤️: Nggak fitnah saya kan?
BANGSAT❤️: Takut banget dia bikin gosip aneh-aneh

Reyna menghela napas. 'Bisa-bisanya dia chat gue, padahal lagi dalam satu tempat yang sama.'

---

Pukul 12.00, bel tanda pulang berbunyi. Reyna membereskan bukunya.

“Rey, mau pulang bareng gue gak?” tanya Galang.

“Sorry, gue udah pesen taksi,” jawabnya ketus.
“Maaf ya soal tadi pagi.”

“Lu ngapain minta maaf? Yang salah kan pacar lu yang rese.”

“Kita udah putus sebelum ada lo Rey. Dia memang begitu orangnya.”

Reyna menatap jam tangannya. “Oke, gue buru-buru.” Ia langsung pergi, meninggalkan Galang yang frustrasi.

“Susah banget luluhin hati lu, Rey.”

Reyna masuk ke taksi online. Dalam perjalanan, pikirannya tertuju pada Vivi, kakaknya. 'Udah 3 bulan sejak gue nikah, gue ga ketemu kakak lagi, sekarang dia malah udah hamil aja. duh kangen banget.'

---

Satu jam kemudian Reyna sampai di rumah Vivi. Namun, yang membuka pintu adalah seorang wanita paruh baya. Reyna sempat bingung.

“Ini rumahnya Kak Vivi, kan? loh kok yang buka pintu orang lain” ucapnya bingung.

“Iya, betul kok ini rumah nona vivi, Kamu siapa?”

“Aku adiknya Kak Vivi.”

pembantu itu pun mempersilakan masuk. Tak lama, Vivi keluar dari kamar dan bertanya pada pembantunya, siapa yang ada di ruang tamu.

“Oh Reyna, suruh aja deh dia masuk aja ke kamarku mbok.”

Reyna langsung memeluknya erat. “Kak, aku kangen banget!”

“Hei bocil, mau bunuh aku ya?” protes Vivi, geli.

Mereka lalu mengobrol lama. Reyna mengeluhkan orang tua yang masih di Singapura, juga penasaran dengan kehamilan Vivi.

“Kak, kok bisa hamil sih? Emang diapain sama Kakak Ipar?” tanyanya polos.

“Ya ampun, bocil oon! Jangan-jangan selama nikah kamu belum di pake juga? Pantes aja, awas loh Satya bisa berpaling kalau nggak pernah dikasih jatah,” ejek Vivi sambil tertawa.

Reyna manyun, tapi kemudian ikut tertawa. Mereka saling bercerita hingga tak terasa malam tiba. Karena kelelahan, Reyna tertidur di rumah kakaknya.

---

Di sisi lain, Satya gelisah. Sejak siang Reyna tidak memberi kabar. Berkali-kali ia menelpon, tapi tak diangkat.
“Duh, kebiasaan bikin orang khawatir,” gumamnya mondar-mandir.

“Mungkin benar kata Keyla, dia ke rumah Vivi. Semoga aja.”

Satya akhirnya pasrah, menunggu Reyna pulang sambil menahan resah.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang