Jam pelajaran olahraga dimulai. Reyna, Keyla, dan Alisa sudah berganti pakaian olahraga, lalu berkumpul di lapangan basket.
Galang langsung menghampiri Reyna. “Rey, main sama gue aja ya.”
“Sorry, gue nggak ikut. Mau liatin aja,” jawab Reyna.
“Lo sakit? Mending ke UKS, yok gue anter.”
“Enggak, gue baik-baik aja.” Reyna menepis tangan Galang di pundaknya. “Lepas, nanti cewek lo ngamuk.”
“Udah sih, gue sama Bianka udah putus juga.” kata Galang santai.
“Gue sih bodo amat.” Reyna memutar bola matanya malas.
Keyla dan Alisa cekikikan. Mereka tahu Reyna nggak gampang ditaklukkan, apalagi sama playboy macam Galang.
“Lang, sana ajak tuh Bianka. Daripada nanti ngamuk kayak orang gila,” ejek Keyla.
Galang mendengus. “Berisik lo.”
Tiba-tiba Bianka datang bersama gengnya. Ia langsung panas melihat Galang mendekati Reyna.
“OMG queen, liat deh, Galang deket lagi sama si kampungan itu,” bisik Mawar.
“Gak bisa dibiarkan! Labraakk!” Lisa mengprovokasi.
“Mentang-mentang yatim piatu, sekarang sok jual kesedihan biar cowok nempel sama dia,” geram Bianka.
Bianka langsung menjambak rambut Reyna dari belakang. Reyna kaget, begitu juga Keyla.
“Woi kampungan! Gue udah bilang jauhin cowok gue!” teriak Bianka.
“Stop Bianka! Gue udah gak ada hubungan sama lo!” potong Galang.
Reyna menyeringai. “Wiiih kalem dong, gue nggak pernah deketin cowok lo. Justru dia yang ngejar gue. Lagian, jelas-jelas gue lebih cantik dari lo.”
Bianka makin marah. “Berani banget lo, yatim piatu!”
“Eh cewek sinting! Lepasin temen gue!” bentak Keyla, lalu mendorong Bianka.
Perkelahian pun pecah. Reyna balik menjambak rambut Bianka. Keyla juga menjambak Lisa. Lapangan jadi ricuh.
Alisa panik. Ia lari ke ruang guru mencari Satya. Di sana Satya sedang berbincang dengan Bu Riana.
“Mas, aku turut berdukacita ya. Tapi aneh banget, kok bisa orang tua Reyna meninggal pas barengan sama mertua kamu,” ucap Bu Riana curiga.
“Jangan banyak tanya,” jawab Satya datar.
Tiba-tiba Alisa masuk tergopoh-gopoh. “Pak! Di lapangan ada yang berantem. Reyna sama Bianka jambak-jambakan!”
Satya menghela napas. “Hadeh, lengah sebentar, sudah ribut lagi.” batinnya, Ia pun segera menuju lapangan.
---
Di lapangan, siswa-siswi malah mengerumuni dan menyemangati Reyna dan Bianka. Satya marah besar.
“JADI BEGINI KAH SIKAP KALIAN KALO GAK ADA GURU!” teriaknya.
Kerumunan langsung bubar ketakutan. Satya menatap empat siswi yang bertikai.
“Kenapa kalian jambak-jambakan?” tanyanya dingin.
“Pak, mereka duluan! Bianka bilang Reyna yatim piatu,” bela Keyla.
“Apaan! Si Reyna ini duluan deketin cowok gue!” bentak Bianka.
“CUKUP, BIANKA!” suara Satya menggema.
Bianka terdiam ketakutan.
“Makan tuh, jangan sembarangan ngomong,” sindir Keyla.
“Kamu juga, bisa diam nggak?” tegur Satya.
Keyla nyengir salah tingkah. “Hehe maaf, Pak.”
Satya menoleh pada Reyna. “Apa ini? Kening kamu berdarah.”
“Gapapa kok, Pak. Cuma luka kecil.”
Lisa nyeletuk, “Pak, nggak adil. Sama queen dibentak, sama si miskin malah lembut.”
Satya menatapnya tajam. “Saya tidak suka perundungan! Apa-apaan kalian bilang Reyna Yatim piatu, emang kalian mau kehilangan orang tua kalian? Jangan jadi kriminal sejak sekolah!”
Suasana hening. Keyla menukas, “Dengerin tuh! Kuping dipakai, jangan cuma buat aneh-aneh.”
“Keyla.” Satya meliriknya.
“Hehe maaf, Pak,” sahutnya malu.
“Keyla, bawa Reyna ke UKS. Luka sekecil apa pun harus diobati.”
“Baik, Pak.”
Reyna masih protes. “Pak, nggak usah, ini luka kecil aja.”
“Jangan membantah. Cepat.” Nada Satya tak bisa ditolak.
Akhirnya Keyla menuntun Reyna ke UKS.
---
Di UKS, Keyla membersihkan luka Reyna.
“Gila, Bianka keterlaluan. Kepala lo sampe ditenggorin ke tiang basket!” geram Keyla.
“Shhh! Pelan-pelan napa, sakit!” Reyna meringis.
“Lagian lo juga kenapa nggak balas? Kalo perlu bikin dia amnesia sekalian.”
“Eh dasar kaleng rombeng. Nanti yang ada malah gue yang masuk penjara,” balas Reyna ketus.
Keyla tertawa kecil. “Tapi sumpah, gue suka liat sama Pak Satya kaya tadi. Dia bisa marah banget ke Bianka gara-gara lo di Bully.”
Reyna kaget. “APA? Jangan bilang lo suka sama suami gue!”
“Enggak lah! Maksud gue, keliatan banget dia peduli sama lo.”
Reyna hanya terdiam.
“Udah, luka lo selesai diobatin. Gue balik ke lapangan dulu, ya.”
“Iya, sana. Gue mau istirahat.”
Keyla pergi, sementara Reyna rebahan di UKS, masih memikirkan kejadian barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
