Malam itu Reyna dan Satya duduk di teras rumah, menikmati udara sejuk. Reyna ngemil, Satya menyeruput kopi hangat.
“Bang, kalau Kak Riana nekat seperti Galang gimana ya? Aku takut,” ucap Reyna.
“Tenang, aku bakal lindungi kamu kok sayang . Lagian Hendrik juga siap bantu kita kalau Riana macam-macam sama kita” jawab Satya.
“Semoga saja ya.”
“Iyah, aku juga capek berurusan dengan polisi,” Satya terkekeh.
“Ihh, Abang ada-ada aja,”
Satya menatap istrinya. “Jadi, kamu berharap hubungan kita langgeng terus yah?”
“Iyalah. Masa mau pisah? Lagian Abang sudah ambil hak Abang ya,” ucap Reyna malu-malu.
“Hehe, iya sayang. Aku nggak akan tinggalin kamu. Cuma maut yang bisa misahin kita.”
“Ih, nggak lucu ah bawa-bawa maut!” Reyna merajuk.
Satya mengelus rambutnya. “Aku janji sayang nggak ngomong gitu lagi.”
Kemudian ia menambahkan, “Besok aku akan bicara dengan kepala sekolah soal pernikahan kita. Aku takut Riana menyebar fitnah.”
“Aku setuju, Bang. Aku nggak mau namaku jelek karena ulah Kak Riana.”
Menjelang tengah malam, mereka masuk kamar.
“Sayang, jangan tidur membelakangiku terus dong,” rengek Satya.
“Enggak ah, nanti yang ada subuh-subuh aku harus keramas lagi,” jawab Reyna.
“Seger kan kalau gitu,” Satya menggoda.
“Ihh dasar mesum. Aku nggak mau kebablasan, bisa hamil tau!” protes Reyna.
“Ya nggak apa-apa, kamu kan istri aku.”
“Hmmm… tapi aku maunya nanti aja,” jawab Reyna.
Satya akhirnya menyerah. “Ya udah, paling nggak menghadap ke aku, biar aku bisa lihat wajah bidadariku.”
“Halah, gombal.”
Satya mengecup keningnya. “Selamat tidur, sayang.”
“Semoga mimpi indah, bangsat,” Reyna menyahut sambil cengengesan.
Pagi cerah pun tiba. Hari pertama Reyna masuk sekolah setelah liburan panjang. Ia kini duduk di kelas 12 bersama Keyla dan Alisa.
“Huft, semoga nggak ada masalah hari ini. Semoga ancaman Kak Riana cuma gertakan aja,” gumam Reyna.
“Sayang, sarapan dulu,” panggil Bu Rosa.
“Iya, Mah. Aku turun sebentar lagi,” jawab Reyna.
Ia bergegas turun, dan nyaris terjatuh.
“Pelan-pelan sayang, nanti jatuh,” tegur Bu Rosa.
“Hehe, wangi nasi goreng bikinikan mamah bikin aku nggak tahan, Mah,” Reyna nyengir.
Mereka sarapan bersama, lalu Satya mengantar Reyna ke sekolah.
“Aku harap nggak ada masalah nanti. Kalau pun ada, kamu harus kuat. Kita bisa hadapi kalau saling percaya,” ucap Satya di mobil.
“Iya Bang, aku akan coba tenang.”
Sampai di sekolah, Reyna berjalan di koridor yang masih sepi.
“Wah, kepagian nih gue,” gumamnya.
Ia duduk di taman sekolah, menikmati udara segar.
“Heum, enaknya duduk di sini. Rasa-rasanya nggak ada beban.”
Tiba-tiba—
“DOOR!”
“Eh, copot jantung gue!” Reyna terlonjak.
Keyla dan Alisa tertawa terbahak-bahak.
“Astagaaa, kalian apaan sih!” protes Reyna.
“Hehe, maaf. Lo ngapain bengong di sini? Nanti kesambet loh,” goda Keyla.
“Jangan-jangan ada yang lagi mabuk cinta?” tambah Alisa.
“Apaan sih, sotoy banget,” ketus Reyna.
“Cie, mukanya di tekuk terus. Ada masalah ya?” tanya Keyla.
Reyna menarik napas. “Iya, gue khawatir. Waktu gue diculik, polisi nanya identitas Satya. Abang bilang cuma guru, tapi Galang blak-blakan bilang suami gue. Viral deh. Terus Bu Riana tahu, dan sekarang dia ngancam bakal ganggu keluarga Bang satya kalau nggak ceraikan gue.”
Keyla melotot. “Gila! Kok bisa segitunya sih? Harusnya dia bisa terima kenyataan.”
“Iya, pikirannya kekanak-kanakan banget,” timpal Alisa.
“Makanya jangan bahas dia lagi. Ntar malah ketahuan,” ucap Reyna.
“Tapi gue takut kalau dia nekat kayak Galang,” kata Keyla.
“Setuju, gue juga kepikiran itu,” tambah Alisa.
Reyna menunduk. “Sebenernya gue juga punya firasat buruk.”
Keyla meraih tangan Reyna. “Tenang, kita bakal jagain lo Rey.”
“Yoi, gue juga dukung lo dan pak Satya,” sahut Alisa.
Reyna tersenyum tipis. “Makasih ya. Gue beruntung punya kalian.”
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Fiksyen RemajaKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
