Part 2

953 148 295
                                        

Setelah bersih-bersih badan, Reyna masuk ke kamar ibunya. Ia ingin bertanya apakah pernikahannya bisa diundur lagi atau tidak.

"Mah, mamah sibuk nggak?" tanya Reyna pelan.

"Enggak juga, sayang. Kenapa?" jawab ibunya.

"Mah, Reyna mau ngomong soal perjodohan itu... apa bisa pernikahannya diundur lagi?"

Sang ibu menatap anak gadisnya. "Sayang, dengerin mamah ya. Kamu harus menikah dua bulan lagi. Waktu segitu cukup kok buat saling kenal. Lagian, kamu kan juga udah tahu Satya itu guru kamu di sekolah. Pasti udah kenal kan."

"Ih, mamah plis lah... Reyna belum siap loh," rengek Reyna sambil manyun.

"Udah ya, sayang. Turutin aja kemauan papah. Mamah yakin ini jalan terbaik buat masa depan kamu."

Reyna menghela napas panjang. "Hmmm, yaudah deh... gimana mamah sama papah aja. Mau ngelawan pun, ujung-ujungnya pasti nikah juga." Ia pun melangkah keluar kamar.

Di taman belakang rumah, Reyna mendongak menatap langit. "Tuhan, dosa Reyna apa sih... nggak ada angin nggak ada hujan, langsung dijodohin sama om-om sedingin salju itu," gumamnya.

Setelah merasa lebih tenang, Reyna kembali ke kamar dan bersiap tidur.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Keesokan harinya, setelah sarapan, Reyna langsung bergegas ke mobil Vivi.

"Oi kak, ayo dong cepetan dikit napa," teriak Reyna.

"Ish, sabarlah dulu! Buru-buru mulu kenapa sih," sewot Vivi.

"Kepo lu ah, cepetan kak. Aku takut telat," jawab Reyna buru-buru.

"Ck, bawel banget sih lu," gerutu Vivi.

SKIP.

Begitu sampai di sekolah, Reyna ketemu dua sahabatnya. Mereka langsung mulai gosip.

"Heh, lu tau nggak, hari ini ada guru baru. Katanya sih duda ganteng coy," kata Keyla.

"Iya kah? Wah bisa nih daftar jadi calon istrinya," timpal Della sambil kibas rambut.

"Hilih, dasar buaya betina," sinis Reyna.

"Iya nih, si Della maunya nge-embat semuanya. Kemarin si Roy ketua OSIS, sekarang pak guru duda," celetuk Keyla.

"Yeh, nggak apa-apa kali. Gue mau seleksi aja, siapa tahu ada yang cocok. Tapi kalo bisa dua, kenapa harus satu, hahah," ujar Della ngakak.

Mereka asik ketawa-tawa, tanpa sadar ada yang memperhatikan. Satya hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Reyna-calon istrinya sendiri. Meski dingin dan belum bisa menerima kenyataan dijodohkan dengan anak SMA, Satya tetap memperhatikan Reyna, penasaran dengan sikap tengilnya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

🔔 TRIIIIING 🔔

Bel berbunyi, tanda pelajaran dimulai. Reyna dan kawan-kawan masuk kelas. Tapi ada ide licik muncul karena mereka lupa ngerjain PR.

"Ck, kesel banget. Gue belum ngerjain PR," keluh Reyna.

"Ya ampun, sama! Pasti kena hukum nih," panik Keyla.

"Tau nih, pake lupa segala," Reyna mendengus.

"Sabar dong gays, gue mah udah selesai," kata Della santai.

"Heleh, nggak sehati banget lu sama kita," omel Keyla.

"Eh, kalo nanti kita kena hukum, kita kabur aja yuk lewat pagar belakang," bisik Reyna.

"Weh, gila ya lu. Kaga ah, nanti malah kena semprot emak gue," jawab Keyla melotot.

"Yaudah, bodo amat. Gue aja sendiri kalo gitu," Reyna santai.

Tak lama, Satya masuk dengan wajah datarnya. Semua murid ketakutan, kecuali Reyna yang menatap sinis.

"Pagi semuanya. Hari ini kita lanjutkan pelajaran kemarin ya. Sekalian kumpulin tugas kalian," ucap Satya.

Satu per satu murid maju mengumpulkan PR, tersisa Reyna dan Keyla. Satya menghampiri.

"Kenapa kalian nggak kumpulin tugas?" tanyanya dingin.

"Anu pak, buku Keyla ketinggalan," bohong Keyla.

Satya menatap Reyna. "Kamu kenapa?"

"Maaf pak, semalam ketiduran," jawab Reyna.

"Hm, alasan klasik. Berdiri di lapangan. Jangan gerak sampai pelajaran saya selesai."

"Baik, pak," jawab keduanya.

Saat di lapangan, Reyna berbisik ke Keyla. "Nanti kalo dia nyari gue, bilang aja gue lagi boker."

"Apaan sih! Gila lu," Keyla melotot.

Reyna nyengir lalu kabur. Tinggallah Keyla sendirian.

Satu jam kemudian, Satya datang. "Keyla, Reyna mana?"

"Anu pak... katanya ke toilet, boker," jawab Keyla gelagapan.

Satya mendengus. "Benarkah? Ya sudah, masuk kelas sana."

Dalam hati Satya curiga. *Sepertinya bocah tengil itu bukan ke toilet.*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Jam 15:00, Reyna asik nongkrong di kafe sambil ngopi.

"Hmmm, enak banget. Nggak usah pusing mikirin sekolah," ucapnya puas.

Tiba-tiba, Keyla dan Della muncul.

"Heh, lu enak-enakan ya di sini! Gue tadi diinterogasi sama calon suami lu," omel Keyla.

"Haha, maaf ya. Lagi males aja masuk kelas," Reyna cengengesan.

"Katanya pengen kuliah. Lah, SMA aja bolos mulu," sindir Della.

"Bodo amat, suka-suka gue dong. Lagian mumet liat muka Pak Satya mulu," ketus Reyna.

"Awas loh, jangan kebencian banget. Ntar malah jadi cinta," ledek Keyla.

"Idih, cinta? Ogah banget punya perasaan sama lemari es kayak dia. Lagi pula, dia udah 26 tahun, kenapa nggak punya pasangan sih? Malah mau-mau aja dijodohin sama gue." Reyna nyerocos panjang.

"Hiiiih, cerewet banget nih nenek lampir. Nyerocos mulu kayak knalpot racing," sebal Della.

"Udah ah, yok kita makan seblak aja," ajak Keyla.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang