Part 53

188 15 12
                                        

Pagi itu, Reyna dan Satya bangun lebih awal untuk bersiap ke kantor 'Argadana Group'. Reyna tampak gugup karena akan bertemu keluarga besar Argadana, namun Satya selalu menenangkannya.

Setelah sarapan, mereka berangkat bersama. Di dalam mobil, Reyna bertanya, “Abang, apa yang harus aku tahu tentang Argadana Group?”

Satya tersenyum. “Perusahaan ini milik Papa. Beliau salah satu pendiri, dan keluarga kami cukup berpengaruh. Bulan depan aku resmi bergabung di sana.”

Reyna mendengarkan dengan saksama. Meski sedikit canggung, ia merasa tenang karena Satya selalu di sampingnya.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mereka tiba di kantor Argadana Group. Gedungnya besar dan megah, membuat Reyna semakin gugup.

“Jangan khawatir, Sayang,” kata Satya menggenggam tangannya.

Mereka pun masuk ke dalam dan langsung disambut Papa Satya dengan hangat. “Selamat datang, Reyna. Papa senang sekali kamu bisa datang.”

Reyna tersenyum lega. Sambutan itu membuatnya merasa diterima. Tak lama kemudian, mereka menuju ruang rapat untuk bertemu anggota keluarga lainnya. Di sana sudah ada Bu Rosa, Kak Sehan, dan beberapa keluarga besar Argadana. Semua menyambut Reyna dengan ramah.

Rasa gugup Reyna perlahan hilang. Ia merasa bahagia karena diterima dengan tangan terbuka. Setelah pertemuan selesai, mereka diajak makan siang bersama di kantin perusahaan. Suasana penuh canda tawa membuat Reyna semakin nyaman.

Selesai makan, Satya dan Reyna berpamitan. Mereka berjanji akan sering berkunjung kembali. Hari itu berjalan lancar, dan Reyna merasa lega.

Beberapa jam kemudian, mereka tiba di rumah kak Vivi. Reyna langsung mengetuk pintu dengan semangat.

Tok tok tok

“Kakaa! Aku mau lihat Baby L!” teriaknya.

Seorang pembantu membuka pintu. “Mari masuk, Non. Nyonya Vivi ada di kamar.”

“Terima kasih, Bi,” jawab Reyna ramah.

Di kamar, Reyna langsung menghampiri keranjang bayi berwarna putih dan biru. “Halo Baby Boy! Ih, mirip banget sama Kak Vivi!” katanya gemas.

“Ya iyalah, kan anak gue,” jawab Vivi sambil melipat baju bayi.

“Dih, jutek banget sih, nanya doang,” kata Reyna pura-pura cemberut.

“Udah berapa bulan, Rey?” tanya Vivi.

“Hampir lima bulan, Kak,” jawab Reyna sambil mengelus perutnya.

“Berarti empat bulan lagi lahiran ya?”

“Iya, semoga bisa normal. Kadang aku takut,” ucap Reyna pelan.

“Tenang aja, kamu pasti bisa,” sahut Vivi menenangkan.

Reyna tersenyum kecil. “Amin, Kak.”

“Kamu udah beli perlengkapan bayi?” tanya Vivi lagi.

“Belum. Rencananya pas enam bulan nanti,” jawab Reyna.

“Dulu aku lima bulan udah nyicil,” kata Vivi.

“Pantes Baby L barangnya banyak banget,” Reyna terkekeh melihat isi kamar penuh perlengkapan bayi.

“Nama lengkap Baby L apa sih, Kak?”

“Larenzo Anggara Saputra.”

“Wah, bagus banget,” kata Reyna kagum.

“Hehe, makasih.”

Reyna lalu bertanya polos, “Tapi katanya dulu pas USG dibilang cewek ya?”

“Dulu alatnya ketutupan, jadi salah lihat,” jelas Vivi.

“Hah, ketutupan apa?” tanya Reyna bingung.

“Monas, Rey!” kata Vivi sebal.

“Monas apaan?”

“Burung! Ya ampun, udah hamil masih nggak ngerti aja.”

Reyna pun tertawa keras. “Ohh itu toh maksudnya.”

Percakapan keduanya membuat suasana hangat. Sementara itu, Satya duduk di ruang tamu sambil menunggu, membiarkan Reyna dan kakaknya berbagi cerita.

Setelah lama mengobrol, Reyna dan Satya pamit pulang. Di perjalanan, Reyna terdiam lama hingga Satya melirik ke arahnya.

“Kamu kenapa, Sayang?”

“Abang, apa kita harus beli perlengkapan bayi sekarang?” tanyanya ragu.

“Kalau kamu mau, malam ini juga kita bisa beli,” jawab Satya lembut.

“Serius? Tapi aku belum tahu anak kita laki-laki atau perempuan.”

“Kalau begitu, besok pagi kita USG ya. Sekalian lihat jenis kelaminnya.”

Reyna tersenyum lebar. “Iya! Setelah itu kita beli perlengkapannya, ya.”

“Siap, Sayang.”

Malam itu Reyna sulit tidur karena terlalu bersemangat menanti hari esok.

Pagi pun tiba. Udara sejuk membuat Reyna masih ingin bersembunyi di balik selimut tebalnya. Satya sudah rapi dan bersiap berangkat.

“Sayang, ayo bangun. Katanya mau USG,” ucap Satya menggoyang pelan tubuh Reyna.

“Lima menit lagi,” gumam Reyna setengah sadar.

“Nggak bisa, Sayang. Janji sama dokternya jam sembilan. Kalau telat, kita antre lagi,” bujuk Satya lembut.

Reyna menguap, lalu bangkit perlahan. “Baiklah, aku siap-siap.”

Lima belas menit kemudian, Reyna sudah rapi dengan wajah cerah. “Ayo, Abang, aku udah siap!” katanya bersemangat.

Satya tersenyum sambil mencubit pipinya. “Udah nggak sabar banget, ya?”

“Iya dong!” jawab Reyna riang sambil masuk mobil.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa tenang. Reyna mendengarkan musik lewat headset, hingga akhirnya tertidur di bahu Satya yang tengah menyetir dengan senyum penuh kasih.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang