pukul 22.00 malam, Reyna masih tertidur pulas di kamar masa kecilnya. Ia merasakan kehangatan sekaligus kerinduan setelah berbulan-bulan tak pulang. Sementara itu, Vivi duduk di ruang tamu menonton film, menunggu suaminya pulang. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Pesan dari Satya masuk.
---
Satya
Vivi, apa Reyna ada di sana? Dari sepulang sekolah dia tak ada kabar. Kalau pergi, biasanya pun tak pernah izin padaku.
Vivi
Dia ada di sini. Maaf ya, kupikir dia sudah izin padamu untuk menginap dirumahku.
Satya
Tidak. Dia bahkan tak bilang apa-apa.
Vivi
Duh, anak itu memang belum berubah. Maaf ya, besok akan kuantar pulang.
Satya
Baik, maaf sudah mengganggu istirahatmu.
-----
Selesai membalas pesan, Vivi masuk ke kamar Reyna. Ia mendapati adiknya tidur pulas sambil memeluk boneka teddy bear kesayangan. Ia hanya bisa menghela napas.
“Dasar bocil, masih suka pergi tanpa pamit,” gumamnya.
Keesokan harinya, Minggu pagi yang cerah, Reyna terbangun pukul 09.00. Ia merasa begitu nyaman, seolah tak ada rasa bersalah meski telah membuat suaminya khawatir semalaman. Dengan ceria ia menyapa kakaknya yang sedang sarapan.
“Good morning, Kakakku sayang!” teriak Reyna.
“Berisik! Lu gimana sih, punya suami kok nggak pernah ngabarin kalau pergi,” omel Vivi.
Reyna hanya nyengir sambil duduk di sampingnya. Namun Vivi gemas, menjewer telinganya. “Hp lu tuh, banyak panggilan tak terjawab dari Satya. Dia khawatir banget.”
“Duh sakit, Kak. Baru bangun langsung diceramahin,” rengek Reyna.
“Kalau gue jadi Satya, udah gua gebukin lu,” sindir Vivi.
Dengan malas Reyna berjanji, “Ya maaf deh. Lain kali nggak gini lagi.”
---
Setelah sarapan, Vivi mengajak Reyna pulang. Di perjalanan, ocehan Vivi membuat Reyna tiba-tiba meneteskan air mata.
“Lah, kenapa nangis?” tanya Vivi panik.
“Gapapa. Kangen aja denger lo ngoceh,” jawab Reyna lirih.
Satu jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah Satya. Vivi tak ikut masuk.
“Sampein salam buat Satya, ya. Selamat diceramahin lagi, adekku sayang,” godanya sebelum pergi.
Dengan hati berdebar, Reyna masuk rumah. “Assalamualaikum,” sapanya.
“Waalaikumsalam. Baru pulang ya? Enak, semalam nginepnya?” ucap Satya yang berdiri di samping kamar.
Reyna langsung gugup. “Maaf, aku nggak bermaksud bikin Abang khawatir.”
“Sudah, masuk kamar. Aku mau keluar sebentar,” balas Satya dingin.
Reyna buru-buru meraih lengannya. “Jangan tinggalin. Aku ikut.”
Akhirnya, Satya mengajaknya masuk mobil.
“Bang ini mau kemana kita?”
Dengan nada dingin ia hanya berkata, “Muter-muter aja.”
Reyna manyun, memilih diam. Mereka berhenti di sebuah restoran ramen.
---
Saat makanan belum datang, Satya menatap istrinya. “Apa aku nggak ada harganya buat kamuu? Kamu pergi tanpa izin, nggak ngabarin sama sekali.”
Reyna terkejut. “Bukan begitu, Bang. Aku menghargaimu. Cuma… semalam aku lupa.”
“Aku harap ini yang terakhir kalinya.” ucap Satya tegas.
Reyna terdiam, dihantui rasa bersalah. Restoran ramai, tapi baginya suasana terasa hening. Ia takut suaminya bosan dengan sikapnya.
Tak lama, ramen datang. Mereka makan dalam diam hingga Satya tiba-tiba menambahkan pesanan nugget untuk Reyna. Reyna menoleh heran.
“Nih makan nugget. Kamu laper banget ya? Apa di rumah kakakmu belum sarapan?” tanya Satya.
“Udah sih, tapi aku laper lagi. Kemarin juga di sekolah aku nggak banyak makan,” jawab Reyna polos.
“Bukannya aku kasih uang jajan 200 ribu? Kurang?”
“Cukup kok. Tapi kemarin uangku diambil Bianka,” ucap Reyna tanpa sadar keceplosan.
Satya sontak kaget. “Apa? Kamu dibully? Kenapa nggak cerita?”
“Maaf, Bang. Lagian nggak sampai dipukul kok.”
“Reyna! Aku tahu ya kalian pernah jambak-jambakan di lapangan. Itu keterlaluan.” Nada Satya meninggi.
Reyna berusaha menenangkan. “Tenang aja, orang kaya mereka nggak bakal berani lagi. Aku baik-baik aja.”
Satya menatapnya serius. “Aku nggak mau kamu terluka. Paham?”
Reyna tersenyum geli. “Ih, so sweet banget sih.”
Ucapan itu membuat ketegangan sedikit cair. Perlahan, obrolan mereka berubah jadi canda tawa. Reyna menyadari, Satya memang sulit ditebak—kadang dingin, kadang romantis, tapi selalu membuatnya merasa istimewa.
Mungkin, begitulah dinamika pernikahan mereka yang baru seumur jagung: penuh cekcok, tapi selalu ada ruang untuk saling memahami.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
