Dua hari berlalu, Reyna akhirnya pulang ke rumah. Tubuhnya masih lemas, matanya sembab karena terlalu sering menangis. Sesampainya di rumah, ia langsung disambut oleh ibu mertuanya, Bu Rosa, dengan pelukan hangat penuh kasih sayang.
“Reyna sayang, Mama turut berduka atas kepergian orang tuamu. Mulai sekarang, anggap Mama sebagai ibumu sendiri ya. Kamu tidak boleh terus bersedih,” ucap Bu Rosa lembut.
“I-iya, Ma… terima kasih sudah menerima Reyna. Maaf kalau selama ini Reyna belum bisa membanggakan Mama dan Papa,” balas Reyna dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
“Sudah ya, jangan terus menangis. Kamu tidak sendirian, Mama akan selalu ada.” Bu Rosa mengecup keningnya dengan tulus.
Tak lama, Satya pamit. “Mah, Satya titip Reyna dulu. Satya mau keluar sebentar.”
Reyna panik. “Abang mau ke mana? Abang balik lagi kan?”
“Balik kok, Sayang. Abang cuma mau beli sesuatu buat kamu,” jawab Satya sambil menenangkan.
“Janji ya?”
“Iya, janji.”
Setelah Satya pergi, Bu Rosa memapah Reyna ke ruang makan. “Ayo makan dulu. Mama sudah masak sop iga kesukaanmu.”
“Maaf ya, Ma, sudah merepotkan,” lirih Reyna.
“Tidak, Sayang. Mama justru senang bisa merawatmu,” ucap Bu Rosa sambil menyuapi Reyna perlahan.
---
Satu jam kemudian Satya kembali membawa beberapa kantong belanja. “Sayaaang, aku pulang!” teriaknya.
“Sttt… jangan berisik. Reyna lagi tidur,” kata Bu Rosa.
“Oh, ternyata istriku tidur. Ya sudah, biarkan saja.” Satya tersenyum lalu duduk di sofa.
“Kamu beli apa saja ini, banyak sekali?” tanya ibunya.
“Cemilan buat Reyna, boneka, dan sepatu baru untuk sekolah,” jelas Satya.
Bu Rosa tersenyum melihat perubahan sikap putranya. Ia sadar, Satya mulai membuka hati untuk Reyna.
“Apa kamu benar-benar mencintai Reyna?” tanya Bu Rosa serius.
“Iya, Mah. Aku sadar jika terus mengenang masa lalu, aku tidak akan damai. Aku memilih mencintai Reyna sepenuhnya.”
“Mama harap Reyna juga bisa membalas cintamu dengan tulus.”
“Aku tidak akan memaksanya. Tapi aku akan berusaha agar dia tahu perasaanku.”
“Kalau begitu, berjuanglah untuk cintamu,” ucap Bu Rosa menepuk bahunya.
---
Satya masuk ke kamar dan duduk di samping Reyna yang tertidur. Ia menatap wajah istrinya lalu mengecup lembut bibirnya. “Kamu cantik sekali. Semoga suatu saat kamu bisa membalas cintaku.”
Reyna menggeliat lalu membuka mata. “Ah, Abang sudah pulang. Aku kangen,” ucapnya sambil memeluk Satya.
“Baru dua jam ditinggal sudah kangen?” Satya mencolek hidungnya.
“Abang ke mana saja? Kok lama?” tanya Reyna manja.
“Aku beli cemilan yang kamu suka.”
“Woaaah, banyak banget!” mata Reyna berbinar.
“Ada satu lagi.” Satya menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.
“Apa itu? Kasih tahu dong.”
“Tutup mata dulu.”
“Ih, bikin penasaran aja.”
“Mau tahu tidak? Kalau tidak, Mama saja yang dapat,” goda Satya.
“Ya sudah, aku tutup mata,” jawab Reyna akhirnya.
Satya lalu menyerahkan boneka besar ke tangannya.
“Sekarang buka mata.”
Reyna terkejut. “Woaaah, lucu sekali! Aku suka, Bang!” serunya girang lalu memeluk Satya.
“Kan benar. Aku akan selalu membelikan yang kamu suka.”
“Terima kasih, Abang.”
Satya tersenyum bahagia melihat Reyna ceria kembali.
---
Malam tiba. Mereka makan bersama Bu Rosa di ruang makan. Namun, Reyna hanya melamun sambil mengaduk makanan.
Satya menepuk pundaknya. “Kamu mikirin apa?”
“Tidak, cuma tidak nafsu makan.”
“Apa mau dibuatkan bubur, Nak?” tawar Bu Rosa.
“Tidak usah, Ma. Reyna belum lapar.”
“Kalau begitu istirahat di kamar saja,” kata Bu Rosa.
Reyna pamit lebih dulu. Satya yang melihatnya pergi menghela napas. “Kasihan, Mah. Reyna masih terpukul.”
“Kamu harus selalu hibur dia supaya semangat,” pesan ibunya.
“Iya, Mah.”
Di kamar, Reyna berbaring sambil memeluk boneka pemberian Satya. Pikirannya melayang ke masa lalu. *Apa Mama dan Papa sudah tahu mereka akan pergi? Apa itu sebabnya mereka mendesak aku menikah cepat?* batinnya.
Satya masuk dan duduk di sampingnya. “Rey, kamu sakit?”
“Tidak. Aku cuma ingin diam saja.”
“Aku tidak bisa lihat kamu murung terus,” ucap Satya lalu memeluknya.
“Terima kasih, Bang.”
“Makasih? Untuk apa?”
“Sudah mau menerima aku apa adanya.” Air matanya menetes lagi.
“Eh, jangan nangis lagi. Aku akan selalu ada untukmu.”
Reyna tersenyum tipis, lalu membalas pelukan Satya.
Malam itu hujan deras. Reyna ketakutan dan semakin mendekap Satya. Tidak ada penolakan darinya. Satya bahagia karena Reyna akhirnya menunjukkan sisi manjanya. Dalam hati, ia berharap Reyna benar-benar mulai mencintainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
