Jam pelajaran pertama selesai. Reyna masih berdiam diri di UKS, sementara Bianka dan Lisa sedang dihukum wali kelas, Bu Riana. Usai memberi hukuman, Bu Riana menuju UKS untuk melihat keadaan Reyna.
“Aww, kecil begini lukanya tapi kok sakit banget, kepala juga terasa berat,” keluh Reyna sambil memegang keningnya.
*Tok tok tok.*
“Rey, Ibu izin masuk ya,” ucap Bu Riana.
“Silakan, Bu.”
“Ya ampun, Rey. Bagaimana bisa keningmu sampai berdarah? Tadi kata Bianka, kamu kejedot sendiri. Apa benar?” tanya Bu Riana.
“Alah, Bu. Omongannya jangan dipercaya,” sahut Keyla dari luar.
“Eh, kamu dari kapan di situ? Kaget tau, Ibu kira hantu,” ucap Bu Riana sambil mengelus dada.
“Dih, masa secantik ini dibilang hantu? Yang mirip hantu itu Bianka sama gengnya, Bu,” protes Keyla.
“Jadi, sebenarnya bagaimana, Key?” tanya Bu Riana penasaran.
Keyla dan Reyna akhirnya menjelaskan detail kejadian di lapangan. Bu Riana mendengarkan serius, sampai tiba-tiba Satya masuk tanpa mengetuk pintu.
“Permisi,” ucap Satya pelan.
“Astagfirullah!” Bu Riana terloncat kaget.
“Ayam… eh ayam,” sahut Keyla latah.
“Pak, kan bisa ketuk pintu dulu,” omel Reyna sambil melotot.
“Hehe, maaf lupa,” jawab Satya sambil menggaruk kepala.
“Ada perlu apa, Pak, ke sini?” tanya Bu Riana heran.
“Itu, Bu. Saya mau kasih teh hangat untuk Reyna,” ucap Satya gugup.
“Tenang, Pak. Reyna ini murid kesayangan saya. Ibu sudah sediakan camilan,” sahut Bu Riana.
“Oh, sudah ya. Kalau begitu, tehnya untuk Keyla saja,” kata Satya.
“Loh, kok saya?” tanya Keyla bingung.
“Mau apa enggak? Kalau enggak, buat saya saja,” ujar Satya hendak pergi.
“Eh jangan, Pak. Sini, kebetulan saya haus habis adu jotos sama cewek gatel,” jawab Keyla, lalu menenggak teh itu.
Reyna hanya bisa tersenyum kecil melihat Satya salah tingkah.
“Heh, lo kenapa senyum-senyum gitu?” bisik Keyla.
“Ah, kepo lo,” ketus Reyna.
“Rey, apa kamu mau pulang? Kalau mau biar Ibu—” belum selesai Bu Riana bicara, Satya langsung memotong.
“Biar saya saja, Bu. Kebetulan saya mau jenguk saudara di komplek yang sama dengan rumah Reyna,” tawarnya.
“Pak, ngapain sih sibuk banget urusin Reyna?” sahut Bu Riana, sedikit kesal.
“Ya, namanya juga berniat baik. Iya kan, Rey?” Satya melirik Reyna.
Reyna tersenyum malu. Ia merasa canggung karena Bu Riana terlihat menahan cemburu.
“Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang naik taksi saja,” sahut Reyna.
“Tuh, denger, Pak. Anaknya saja maunya naik taksi,” kata Bu Riana.
“Ya sudah, terserah. Saya balik ke kelas 11 lagi,” jawab Satya, lalu keluar.
“Kesambet apa sih dia, bisa-bisanya peduli sama cewek?” gumam Bu Riana.
“Kesambet cinta kali, Bu,” ceplos Keyla.
“Adawww!”
“Eh, kenapa, Key?” tanya Bu Riana.
“Eh, digigit nyamuk, Bu,” elak Keyla sambil meringis.
Bu Riana akhirnya keluar menuju ruang guru.
“Kurang asem lo, Rey. Perut gue dicubit,” bisik Keyla.
“Mulut lo jangan sembarangan, bahaya kalau Bu Riana curiga,” kesal Reyna.
“Ya maaf, kan cuma bercanda,” sahut Keyla.
Tak lama, Reyna diantar Keyla sampai gerbang sekolah. Reyna sudah memesan taksi online untuk pulang.
Di perjalanan, ponsel Reyna berdering. Sebuah pesan masuk dari Satya.
---
Bangsat❤️
Kamu sudah sampai?
Reyna
Belum, Bang. Masih di jalan.
Bangsat❤️
Maaf ya, aku enggak bisa antar kamu.
Reyna
Tidak apa-apa, Bang. Aku bisa sendiri kok.
Bangsat❤️
Kalau ada apa-apa kabari aku.
Reyna
Oke siap, Bangsat 👍
Bangsat❤️
Hati-hati di jalan ya.
Reyna
Iya, bawel.
---
Sesampainya di rumah, Reyna disambut Bu Rosa.
“Loh, Rey, kamu kenapa, Nak?” tanya ibunya panik.
“Tidak apa-apa, Mah. Cuma capek, jadi pulang,” jawab Reyna lirih.
“Itu keningmu kenapa sampai diperban?”
“Oh ini, tadi berantem sama teman. Kepalaku kepentok ke tiang basket,” jelas Reyna.
“Ya ampun, Rey! Apa Satya tahu?”
“Sudah tahu, Mah. Tenang saja, anak-anak itu juga sudah dihukum Abang,” sahut Reyna.
“Kalau merasa pusing, bilang ya, Nak,” ucap Bu Rosa khawatir.
“Iya, Mah. Aku ke kamar dulu ya,” ucap Reyna.
“Baik, nanti Mamah buatkan makan siang.”
Reyna masuk kamar, berganti pakaian, lalu berbaring sambil membaca novel. Tak lama, Bu Rosa mengetuk pintu.
*Tok tok tok.*
“Rey, Mamah masuk ya.”
“Iya, Mah. Masuk saja.”
Bu Rosa membawa nampan berisi buah segar dan segelas susu. “Ini, sayang. Ada buah-buahan segar dan susu Dancow kesukaanmu. Jangan lupa dimakan.”
“Makasih, Mah. Maaf aku selalu merepotkan,” lirih Reyna.
“Tidak merepotkan, sayang. Ayo dimakan, nanti Mamah masak untuk makan siang.”
“Baik, Mah.”
Setelah ibunya keluar, Reyna menatap langit-langit kamar.
'Tuhan, betapa beruntungnya aku masih mendapatkan kasih sayang dari suami dan mertua. Mah Pah... sudah tiga hari kita berpisah. aku rindu kalian.'
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Fiksi RemajaKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
