Kencan malam itu berjalan lancar. Setelah makan malam, Satya menutup mata Reyna dengan kain hitam, lalu menuntunnya perlahan. Reyna menurut, meski terus bertanya penasaran.
“Om… eh, Abang, ini mau ke mana sih? Kenapa ditutup matanya segala?” ocehnya.
“Sudah, nurut saja. Abang mau kasih kejutan,” jawab Satya sambil memapahnya.
Tak lama, mereka sampai di tempat yang indah dengan dekorasi merah merona, bunga mawar menghiasi sekeliling, bahkan ada rangkaian berbentuk hati. Satya membuka kain penutup mata Reyna, lalu berucap, “Surprise.”
Reyna tertegun. “Huaaaa, ini nyata kan? Indah banget, Bang. Aku suka sekali!” serunya sambil berjingkrak kecil. Ia lalu memeluk Satya dengan mata berbinar. Satya kaget, sebab baru kali ini Reyna memeluk tanpa diminta.
“Apa Abang benar-benar mau sama aku?” lirih Reyna.
“Kenapa harus tidak? Kita memang dijodohkan, tapi Abang sudah mulai mencintai kamu,” jawab Satya sambil mengecup keningnya. Mata Reyna berkaca-kaca, antara bahagia dan tak percaya dengan perubahan sikap suaminya.
Dua jam kemudian, mereka berjalan-jalan menikmati suasana kota. Hal sederhana seperti itu terasa istimewa bagi Reyna. Satya, yang biasanya dingin, kini begitu romantis. Saat bercanda, Satya sempat menggoda minta “haknya” malam itu. Reyna gugup lalu menjawab polos, “Maaf Bang, masih haid.” Satya sempat cemberut, tapi Reyna menepuk pundaknya. “Nanti setelah selesai, boleh deh.” Satya pun kegirangan, membuat Reyna mencibir gemas.
Mereka lalu singgah ke alun-alun. Reyna meminta seblak, dan Satya menemaninya makan di pinggir jalan. Baginya, momen sederhana itu sama berharganya dengan makan di restoran mewah. Setelah puas berkeliling, mereka kembali ke mobil membawa beberapa camilan. Reyna tersenyum puas. “Jarang-jarang aku bisa begini. Makasih ya, Bang.” Satya menatapnya lembut. “Sama-sama, Sayang. Senyum kamu itu hadiah terbaik.”
🌸🌸🌸
Keesokan paginya, Satya bersiap berangkat mengajar. Namun, ia terkejut karena Reyna tak ada di kamar. Ternyata Reyna sedang di dapur menyiapkan bekal sarapan. “Loh, bukannya tadi masih tidur?” tanya Satya.
Reyna terkekeh. “Tadinya mau bangun subuh, tapi kesiangan. Ya sudah, aku siapin sarapan buat Abang.”
Satya terharu melihat perubahan istrinya. Namun, sebelum sempat mengajak berangkat bersama, Reyna sudah menahan mulutnya dengan telunjuk. “Sstt, nggak ada ya kita satu mobil. Abang makan sarapannya ya. Aku nanti berangkat sendiri naik taksi.”
Satya hanya bisa menghela napas. “Hadeuh, pengen berduaan sama istri, masa harus malam terus, tapi tiap malam ga dikasih jatah pula,” gumamnya pelan.
Tiba-tiba suara dari kamar mandi membahana, “ABANG! Aku masih dengar omongan barusan!”
Satya langsung panik, lari keluar rumah sambil tertawa kecil. Di dalam hati, ia bahagia. Malam romantis itu menjadi titik balik hubungan mereka—sebuah awal baru menuju cinta yang sesungguhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
