Part 23

361 29 77
                                        

Jam menunjukkan pukul 06.00. Reyna masih terlelap di kamarnya, sementara Satya sudah bersiap berangkat mengajar.

“Pagi, Mah. Wah, masak apa nih?” tanya Satya sambil duduk di meja makan.

“Mamah buat opor ayam kesukaan Reyna, sama ayam goreng kremes buat kamu,” jawab Bu Rosa sambil menata piring.

“Wah, enak banget. Aku ambil ya,” kata Satya.

Bu Rosa menatapnya. “Nak, Reyna ke sekolah hari ini?”

“Sepertinya tidak dulu, Mah. Kasihan kalau dipaksa, takutnya masih sakit,” jawab Satya.

“Iya juga. Kalau begitu, jangan lupa bawa bekalnya, ya.”

“Baik, Mah. Terima kasih.”

Sementara itu, Reyna mulai terbangun. Tubuhnya menggeliat, lalu ia menguap panjang. “Huaaaam… Loh, kok Bangsat nggak ada?” gumamnya sambil mencari Satya di balik selimut.

“Pasti ada di ruang makan,” pikirnya, lalu segera ke kamar mandi.

Selesai bersiap, Reyna bercermin. “Duh, cantik banget aku. Fix Bangsat nggak akan berpaling,” ucapnya percaya diri.

Ia keluar ke ruang makan dengan wajah ceria. “Halo, pagi semuanya!”

“Pagi, sayang. Sini, duduk,” sambut Bu Rosa.

“Wah, opor ayam! Aku suka banget,” seru Reyna gembira.

Satya menoleh. “Loh, kok pakai seragam sekolah? Kamu kan masih sakit.”

“Enggak, aku sudah baikan. Masa dua hari bolos terus?” jawab Reyna.

“Tapi kamu butuh istirahat.”

“Tenang, kalau nggak kuat aku minta Keyla antar pulang.”

Satya menghela napas. “Baiklah, tapi ingat, kalau merasa pusing langsung bilang.”

“Iya, Abang,” balas Reyna.

Selesai makan, Satya keluar menyiapkan mobil. Reyna menyalami Bu Rosa. “Makasih ya, Mah, udah masak opor. Padahal kita baru kenal beberapa bulan.”

Bu Rosa tersenyum. “Sayang, kita kenal sudah lama. Bahkan dulu kamu dan Satya teman dekat saat TK. Kamu sering minta main dan tidur bareng dia.”

Reyna terkejut. “Serius? Aku lupa. Eh, iya… aku memang punya teman cowok waktu kecil, suka kupanggil—” ia terhenti, mencoba mengingat.

“Pangeran tampan, kan? Kamu dulu manja sekali,” sahut Bu Rosa geli.

Reyna tertawa. “Ya ampun, aku benar-benar lupa. Hehe.”

“Jadi, jangan sungkan minta bantuan Mamah, ya.”

Tak lama, Satya masuk. “Rey, ayo. Nanti telat.”

“Iya, Bang. Mah, aku berangkat dulu,” pamit Reyna.

“Hati-hati, Nak.”

Di perjalanan menuju sekolah, Reyna melamun sambil tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Satya.

“Gapapa, aku lagi bahagia aja.”

“Bahagia karena aku ganteng hari ini, kan?” godanya.

“PD amat,” jawab Reyna tertawa.

Satya ikut tersenyum. “Akhirnya aku lihat lagi Reyna yang ceria,” batinnya.

Sesampainya di dekat sekolah, Reyna minta turun lebih awal. Ia belum siap orang lain tahu bahwa ia dan Satya suami istri.

“Dah, Abang!” Reyna melambai.

“Aish, satu jam lagi juga ketemu lagi. Kenapa lebay banget,” gumam Satya.

Reyna berlari kecil menuju gerbang. Satya hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

---

Di kelas, Reyna duduk sendirian menunggu Keyla. Tak lama, Galang datang menghampiri.

“Halo sayangku, cintaku. Aku rindu banget sama kamu, Rey,” ucapnya genit.

“Ih, pergi lo! Jangan bikin aku balik lagi ke rumah sakit gara-gara liat muka lo yang kayak botol kecap,” balas Reyna kesal.

Galang pura-pura memelas. “Turut berdukacita ya, Rey, atas meninggalnya calon ayah-ibu mertuaku.”

Reyna mendengus. “Berhenti bilang calon! Orang tua gue nggak mungkin nerima mantu kayak lo.”

Saat perdebatan makin panas, Keyla muncul.

“Galang! Bisa nggak sehari aja jangan ganggu Reyna? Dia lagi berduka!” bentak Keyla.

“Apaan sih, lo cerewet banget,” jawab Galang ketus.

Keyla menarik tangan Reyna. “Ayo, Rey.”

“Ah, males banget ada lo. Gue ke kantin aja,” ucap Galang lalu pergi.

Reyna langsung memeluk Keyla. Air matanya jatuh. Keyla menepuk punggung sahabatnya.

“Udah, Rey. Jangan sedih terus. Orang tua lo pasti nggak mau lihat kamu murung di sana,” hiburnya.

“Tapi, Key… aku masih nggak ikhlas. Kalau aja aku ikut waktu itu, mereka nggak akan meninggal,” ucap Reyna lirih.

“Jangan salah, Rey. Kalau kamu ikut, kamu juga mungkin meninggal. Pikir deh, kalau itu terjadi, siapa yang bakal sedih? Pak Satya, Kak Vivi… mereka pasti kehilangan  kamu.”

Reyna terdiam. Kata-kata Keyla menampar hatinya. Benar juga, kalau ia ikut kecelakaan itu, Satya dan Vivi akan kehilangan dirinya.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang