dua bulan berlalu. Kini Reyna bersiap menghadapi ulangan kenaikan kelas. Ia cemas, takut nilainya tidak sesuai harapan, khawatir mengecewakan almarhum kedua orang tuanya, juga suaminya. Satya selalu menenangkan, memberi dukungan, bahkan membantu Reyna belajar setiap malam.
Hari ujian pun tiba. Reyna menggenggam pensil dengan tangan gemetar.
“Keyla, gue gugup banget. Bisa enggak ya ngerjain soal ini?” bisiknya.
“Heh, lo kan udah belajar keras! Tenang, lo pasti bisa. Percaya diri dong, Rey,” ucap Keyla memberi semangat.
Di tengah ujian, Alisa menyelipkan kertas kecil. *“Key, nomor 3 gue bingung.”*
“Coba inget rumusnya lagi, gue juga belum,” balas Keyla singkat.
Mereka pun sibuk fokus hingga waktu habis.
“Huff… akhirnya selesai juga!” seru Reyna lega.
“Ya, tinggal tunggu hasilnya aja,” timpal Keyla.
“Yok kantin, gue laper,” ajak Reyna.
“Gas! Otak udah panas, waktunya isi bensin,” jawab Keyla bersemangat.
“Heh, enggak ngajak gue?” protes Alisa.
“Kenapa muka lo manyun gitu?” ejek Keyla.
“Kesel gue sama Aldo,” ketus Alisa.
“Lirik cewek lagi ya? Rantai aja tuh lehernya,” sahut Keyla.
“Gila lo, emang cowok gue anjing?” balas Alisa ketus.
“Cowok kayak gitu masih dipertahanin?” sindir Keyla.
“Yeee… lo kan jomblo, jadi enggak ngerti,” ejek Alisa.
“Lebih baik jomblo daripada pacaran nangis mulu,” balas Keyla.
“Udah ah, jadi ke kantin enggak?!” potong Reyna.
Akhirnya mereka bertiga jalan bersama ke kantin.
Hari kelima ujian. Reyna semakin cemas. Ia mengajak Keyla dan Alisa belajar bersama di rumah.
Reyna
Key, Al, belajar bareng yok di rumah gue.
Keyla
Gas aja.
Alisa
Kapan?
Reyna
Sabtu. Kebetulan Abang lagi anter Mamah ke toko.
Keyla
Oke.
Alisa
Deal.
Sabtu pagi, mereka berkumpul di rumah Reyna. Keyla membawa brownies buatan ibunya. Mereka membagi materi: Keyla fokus matematika, Alisa bahasa Inggris, Reyna Fokus ke pelajaran Ipa. Mereka saling membantu, mereka belajar serius tiga jam, lalu istirahat sambil nonton video lucu. Setelah itu lanjut latihan soal hingga sore.
Jam lima, mereka selesai. Rasa lelah terbayar dengan puas dan percaya diri menghadapi ujian.
Pagi yang sejuk. Reyna masih terlelap di kasur barunya.
“Beuh, enak banget kasur baru ini,” gumamnya.
Ia bergegas mandi lalu turun.
“Pagi, Mah. Pagi, Abang,” sapa Reyna.
“Pagi, cantik. Apa malam Mimpi indah?” tanya Bu Rosa.
“Mimpiku indah banget Mah. Abis kasurnya enak sih,” jawab Reyna manis.
“Eh, Abang Satya mana?”
“Sudah berangkat. Dia jadi pengawas ujian,” jelas Bu Rosa.
“Terus aku ke sekolah naik apa?” Reyna manyun.
“Mamah sudah pesankan taksi. Sebentar lagi datang,” sahut Bu Rosa.
“Wah, makasih, Mah.”
Reyna sarapan, lalu membantu Bu Rosa menyiapkan bekal.
“Ingat, jangan sampai telat makan, ya,” pesan Bu Rosa.
“Iya, Mah. Oh iya, nanti pulang sekolah aku mau ke kafe sama temen-temen. Boleh kan?”
“Boleh, asal sama cewek semua. Jangan lupa izin Satya.”
“Tenang, Mah. Kalau enggak, nanti dia marah,” canda Reyna.
Taksi datang. Reyna pamit mencium tangan mertuanya.
“Daaah, Mah!” teriaknya sambil melambai dari dalam mobil.
Bu Rosa tersenyum haru. “Reyna, menantu kesayangan Mamah. Mamah janji akan terus menyayangi dan melindungimu, seperti janji Mamah ke orang tuamu dulu.”
Di perjalanan, Reyna menerima pesan dari Satya.
Bangsat❤️
Sayang, masih tidur?
Reyna
Udah bangun, ini lagi di jalan.
Bangsat❤️
Hati-hati ya.
Reyna
Iya Abang.
Bangsat❤️
Udah sarapan?
Reyna
Udah kok.
Bangsat❤️
Bagus. Aku tunggu di sekolah.
Reyna
Iya, Abang bawel
Reyna tersenyum tipis. Di balik semua tekanan ujian, ia merasa beruntung punya Satya dan Bu Rosa yang selalu mendukungnya.
---
Sesampainya di sekolah, Reyna melihat halaman sudah ramai. Banyak siswa berkumpul, ada yang sibuk membuka buku catatan, ada juga yang santai mengobrol sambil tertawa.
“Rey! Sini!” teriak Keyla dari bangku taman.
Reyna menghampiri, lalu duduk di samping Keyla dan Alisa.
“Gue deg-degan sumpah,” kata Alisa sambil menggigiti kuku.
“Yaelah, lo deg-degan mulu. Nih liat gue, santai kayak di pantai,” canda Keyla.
“Coba aja nanti lo salah semua jawabannya, baru tau rasa,” balas Alisa kesal.
Reyna hanya tertawa. “Udah, jangan ribut. Kita fokus aja. Bentar lagi bel.”
Bel tanda masuk berbunyi. Mereka pun masuk kelas dengan hati berdebar.
Sore harinya, ujian selesai. Reyna, Keyla, dan Alisa memutuskan singgah ke kafe dekat sekolah. Kafe itu tidak terlalu besar, tapi nyaman, dengan lampu gantung kekuningan dan aroma kopi yang menenangkan.
“Gila, akhirnya ujian selesai juga. Otak gue kayak kebakar,” keluh Keyla sambil menjatuhkan diri di kursi empuk.
“Setuju! Gue sampai mimpi ga naik kelas semalam, Yap tapi untungnya kasurnya empuk, jadi ketolong lah sama mimpi indah” tambah Reyna.
“Halah, kalau lo sih ujung-ujungnya dapet nilai bagus,” protes Alisa.
“Enggak juga. Tapi kan kita udah usaha bareng, hasilnya nanti enggak akan bohong,” ucap Reyna tersenyum.
Pelayan datang membawa minuman pesanan mereka. Keyla dengan cokelat panas, Alisa dengan green tea, dan Reyna dengan jus stroberi. Mereka mengangkat gelas masing-masing.
“Untuk kita bertiga! Semoga naik kelas bareng, enggak ada yang ketinggalan,” kata Reyna semangat.
“Cheers!” sahut keduanya bersamaan.
Suasana hangat itu membuat Reyna merasa damai. Walau banyak masalah yang ia alami sebelumnya, kini ia punya sahabat dan keluarga yang selalu mendukung.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
TienerfictieKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
