Setelah tiba di rumah sakit, Reyna dan Satya langsung menuju ruang USG untuk mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Keduanya tampak bersemangat dan tak sabar menunggu hasilnya.
Dokter menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat pagi, Reyna dan Satya. Hari ini kita akan melakukan USG untuk melihat jenis kelamin bayinya."
Reyna mengangguk sambil berbaring di tempat pemeriksaan. Satya duduk di sampingnya, menatap layar dengan harap-harap cemas.
Beberapa menit berlalu, lalu dokter tersenyum.
"Nyonya Reyna dan Tuan Satya, selamat ya. Bayi kalian perempuan."
Reyna langsung menatap Satya dengan mata berbinar. "Ya ampun, kita punya anak perempuan!" serunya sambil memeluk suaminya.
Satya tersenyum bahagia. "Aku juga senang banget, gak nyangka kita akan punya anak perempuan."
Mereka keluar dari ruang USG dengan senyum lebar. Sepanjang perjalanan pulang, mereka sudah membayangkan nama dan kamar untuk si kecil nanti.
Keesokan harinya, Reyna dan Satya pergi ke toko perlengkapan bayi.
"Ih, gemas banget bajunya," ucap Reyna sambil memegang baju bayi berwarna pastel.
"Kalau gitu beli aja semuanya, biar anak kita gak kekurangan baju," kata Satya sambil tertawa.
"Ya gak gitu juga kali, Bang. Emangnya dia bakal jadi bayi selamanya," jawab Reyna sambil menepuk bahunya.
Mereka berkeliling memilih baju yang lembut dan nyaman. Reyna tampak sangat bahagia. "Aku jadi gak sabar pengen pakein baju ini buat anak kita."
"Sabar, Sayang. Empat bulan lagi, ya," ujar Satya tersenyum.
"Yok, Bang, aku mau lihat bando sama kaus kaki bayi," kata Reyna riang.
"Iya, tapi jangan lari-lari. Nanti jatuh," ucap Satya memperingatkan.
"Hehe iya deh, maaf, kebawa senang," balas Reyna cengengesan.
Setelah hampir setengah jam berbelanja, mereka akhirnya keluar dari toko dengan beberapa kantong belanjaan. Satya kemudian mengajak Reyna mampir ke toko kue milik ibunya.
"Sayang, kita ke toko Mamah yuk. Aku pengen brownies lumer," ajak Satya.
"Boleh, udah lama juga gak main ke sana," jawab Reyna.
"Iya, sekalian aku mau tanya tentang orang yang bisa desain kamar bayi," kata Satya.
Reyna menatapnya. "Sekarang? Bukannya masih lama?"
"Gak apa-apa, aku pengen kamar itu siap sebelum dia lahir," ucap Satya mantap.
Reyna tersenyum lembut. "Yaudah, aku ikut aja keinginan Abang."
Namun tiba-tiba Satya berkata, "Sayang, kalau suatu saat aku gak ada di sisimu, kamu bakal sedih gak?"
Reyna langsung menatap tajam. "Apaan sih Bang, ngomong gitu?"
"Aku cuma nanya aja."
"Ihh, aku gak mau kehilangan Abang. Aku sayang banget sama Abang," ucap Reyna menahan air mata.
Satya mengusap rambutnya. "Hehe iya, maaf ya. Aku cuma bercanda. Takdir itu kan urusan Allah."
"Yaudah, jangan bahas begituan lagi. Aku jadi gak mood," kata Reyna kesal.
Sesampainya di toko, Bu Rosa langsung menyambut mereka.
"Eh, kalian datang kok gak bilang-bilang dulu?"
"Hehe, mendadak aja, Mah. Pengen brownies lumer," kata Satya.
"Duduk dulu, biar Mamah ambilkan," ujar Bu Rosa.
Namun Reyna menahan tangannya. "Mamah duduk aja di sini, biar orang lain yang ambil."
Bu Rosa tersenyum. "Ya sudah." Lalu memanggil pegawainya, "Nia, tolong ambilkan dua kotak brownies lumer ya."
Beberapa menit kemudian, Nia datang membawa brownies yang masih hangat.
"Nih, silakan dimakan, Sayang," kata Bu Rosa.
"Makasih, Mah," ucap Reyna senang.
Bu Rosa lalu bertanya, "Oh iya, hasil USG-nya gimana? Udah tahu jenis kelaminnya?"
"Sudah, Mah. Alhamdulillah, cucu Mamah perempuan," jawab Reyna ceria.
"Wah, pasti cantik seperti ibunya," puji Bu Rosa.
Reyna tertawa kecil. "Iya dong, siapa dulu ibunya."
Satya menimpali, "Mah, Satya mau tanya, Mamah kenal gak sama orang yang bisa desain kamar bayi?"
"Kayaknya ada, Nak. Dia cukup bagus dalam mendesain kamar," jawab Bu Rosa.
"Wah, syukur deh kalau begitu," kata Satya lega.
Lalu Reyna bertanya, "Mah, nanti kalau Abang kerja di kantor Papah, apa sering dinas keluar kota kayak Papah?"
"Tergantung situasinya, Sayang," jawab Bu Rosa lembut.
Satya menatap Reyna heran. "Kenapa nanya gitu, Sayang?"
"Gak apa-apa, cuma penasaran aja," jawab Reyna malu-malu.
"Mah, Bang Sehan gimana reaksinya waktu aku gabung di Argadana Group?" tanya Satya lagi.
"Dia gak banyak bicara, tapi sepertinya mulai berubah jadi lebih dewasa," jawab Bu Rosa.
"Syukurlah kalau begitu," kata Satya sambil menikmati brownies.
Mereka pun asyik mengobrol sambil tertawa bersama. Tak terasa hari mulai sore.
"Mah, kita pulang ya. Mau bareng gak?" tanya Satya.
"Boleh, kebetulan Pak Ujang lagi antar Papah, jadi Mamah gak ada yang jemput," jawab Bu Rosa.
"Ya sudah, ayo Mah. Silakan masuk duluan," kata Satya sopan.
Bu Rosa dan Reyna masuk ke mobil, lalu Satya menyusul. Mereka pun pulang bersama dengan hati yang hangat.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Novela JuvenilKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
