Pukul 09.00 WIB, Reyna masih terbaring di ranjang rumah sakit. Selang infus di tangannya membuatnya tak leluasa bergerak. Rasa pahit di mulut membuat nafsu makannya hilang.
“Semalaman aku di sini, siapa yang jagain ya?” gumam Reyna pelan.
“Akulah yang jagain kamu, sayang. Masa iya orang lain,” ucap Satya sambil masuk ke kamar membawa senyum hangat.
“Abang dari mana? Kok aku ditinggal?” tanya Reyna manja.
“Maaf, aku tadi nengokin kakakmu, Vivi.”
“Loh, Kak Vivi sakit?” Reyna langsung panik.
“Bukan, dia mau lahiran. Tadi di rumah sakit lain, tapi dipindah ke sini biar dekat sama kamu.”
“Masa? Ayok, Bang, aku mau lihat Kak Vivi!” Reyna langsung bangkit dari posisi tidurnya.
“Heh, gak boleh! Dia lagi operasi caesar, bukan lahiran normal.”
“Apa? Caesar? Bukannya Kak Vivi pengin normal?” tanya Reyna kaget.
“Tenang, sayang. Vivi gak kuat mengejan, makanya harus operasi. Tapi dokter bilang dia akan baik-baik saja.”
“Huft... jadi takut deh.”
“Takut kenapa?” Satya duduk di sisi ranjang, menatap istrinya.
“Takut nanti aku juga gak bisa lahiran normal.”
“Emang udah siap hamil, nih?” goda Satya sambil mengedip.
“Ih, siap gak siap ya harus siap!” jawab Reyna cemberut.
“Hahaha, bagus. Berarti kita harus sering latihan ya.”
“Abang nih, ogah ah!” Reyna menepis tangan Satya.
“Bercanda, sayang.” Satya tertawa kecil. “Udah, ayo makan dulu. Aku suapin ya?”
“Gak mau, mulutku pahit,” rengek Reyna.
“Kalau kamu gak makan, bisa dirawat lebih lama. Emangnya gak mau lihat dedek bayi?”
Reyna terdiam sebentar. “Yaudah deh, mau.”
Satya membantu Reyna duduk di kursi roda dan membawanya ke taman rumah sakit. Angin sepoi membuat suasana terasa tenang. Satya dengan lembut menyuapi Reyna bubur.
“Sayang, jangan sakit-sakitan lagi ya. Aku gak mau lihat kamu kayak gini,” lirih Satya.
“Ih, abang kok nangis? Cengeng banget,” ejek Reyna.
“Gapapa, nangis buat istri sendiri boleh dong,” ucap Satya tersenyum.
“Iya deh. Aku janji gak akan telat makan lagi. Tapi... aku pengin siomay itu, Bang. Yang di luar gerbang,” ujar Reyna sambil menunjuk pedagang siomay.
“Tumben kamu mau siomay? Biasanya gak suka.”
“Beliin ya, tapi yang masih anget,” pinta Reyna manja.
Satya tertawa kecil. “Baiklah, tunggu di sini, ya.”
Beberapa menit kemudian, Satya kembali membawa siomay hangat. “Nih, aku suapin.”
Reyna membuka mulut lebar-lebar. “Aaaa~ enak banget!”
“Eh, biasa aja kali, bocil,” kata Satya sambil terkekeh.
“Tapi serius, ini enak banget!” Reyna melahapnya dengan semangat. Namun baru lima suapan, wajahnya tiba-tiba pucat.
“Hoeeek!” Reyna memuntahkan isi mulutnya.
“Sayang! Kamu kenapa?” panik Satya.
“Gak tahu, Bang. Mual lagi,” kata Reyna lemah.
“Udah, kita balik ke kamar. Kamu masuk angin kali.” Satya segera mendorong kursi rodanya.
Di kamar, Reyna kembali muntah-muntah hingga tubuhnya lemas. Satya memeluknya dengan cemas.
“Minum air hangat dulu, ya. Ya ampun, kenapa sih kamu begini?”
“Aku gak apa-apa kok, cuma mual aja,” jawab Reyna pelan.
“Gak bisa gini, aku panggil dokter!”
Namun Reyna menahan tangannya. “Jangan pergi, Bang. Panggil Mamah aja biar beliau yang cari dokter. Aku pengin kamu di sini.”
Satya menuruti, menelpon Bu Rosa. Tak lama dokter datang memeriksa Reyna.
“Apakah bulan ini Anda sudah datang bulan?” tanya dokter.
“Belum, dok. kayanya Telat sebulan,” jawab Reyna bingung.
“Kalau begitu, kita lakukan USG, ya.”
Satya dan Bu Rosa saling pandang, bingung sekaligus tegang.
“USG, dok? Maksudnya apa?” tanya Satya.
“Saya ingin memastikan apakah istri Tuan sedang hamil atau tidak,” jelas dokter tenang.
“H-hamil?” suara Satya bergetar.
Reyna pun dibawa ke ruang pemeriksaan, disertai tes urine.
Sepuluh menit kemudian, dokter kembali bersama Reyna.
“Baik, hasilnya menunjukkan bahwa Nyonya Reyna sedang hamil. Usia kandungannya sekitar satu bulan,” ucap dokter tersenyum.
Satya tertegun. “Istri saya... hamil?”
“Iya, selamat ya. Anda akan jadi ayah, dan Ibu Rosa, selamat juga—akan jadi nenek,” kata dokter.
Suasana kamar langsung berubah hangat. Satya memeluk Reyna erat.
“Terima kasih, sayang. Kamu sudah kasih aku anugerah terindah.”
Bu Rosa menatap lembut. “Nak, jaga kesehatanmu, ya. Makan yang banyak, jangan terlalu capek.”
“Iya, Mah,” jawab Reyna dengan mata berkaca-kaca.
“Kok melamun, Sayang? Sakit?” tanya Satya khawatir.
“Enggak, cuma masih gak percaya. Aku... bakal jadi ibu,” kata Reyna pelan.
“Tentu kamu bisa jadi ibu yang hebat. Aku dan Mamah akan selalu ada buat kamu,” ucap Satya sambil mengelus perut Reyna.
Bu Rosa tersenyum haru. “Mamah akan bantu siapkan semuanya sampai kamu melahirkan. Kakakmu pasti bahagia dengar kabar ini.”
“Terima kasih, Mah... makasih udah sayang sama aku,” ucap Reyna dengan air mata bahagia.
“Jangan nangis, Sayang. Kamu udah jadi bagian keluarga ini. Mamah sayang kamu seperti anak sendiri,” kata Bu Rosa sambil memeluk Reyna hangat.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Novela JuvenilKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
