Jam menunjukkan pukul 21.24. Seperti biasa, Reyna menonton televisi bersama Satya. Namun malam itu terasa berbeda, sebab ibu Satya menginap selama beberapa hari.
Wanita paruh baya itu duduk tenang sambil fokus menatap layar televisi. Satya, di sisi lain, asyik dengan laptopnya. Walaupun berada dalam satu rumah, masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri. Begitu pula Reyna, yang saat itu tengah berada di dapur, memasak mi instan dengan penuh antusias.
Begitu air mendidih, ia memasukkan mi, sawi, dan telur. Aroma gurih langsung memenuhi dapur, membuat perutnya semakin tak sabar.
'Beuh, nikmat banget. Memang paling pas malam dingin ditemani mi instan pakai dua telur' batinnya sambil tersenyum.
Lima menit kemudian, mi pun matang. Reyna membawa mangkuknya ke ruang tamu dan duduk di sofa dengan santai.
“Mah, aku makan mi dulu ya,” katanya sambil mengaduk-aduk mangkuknya.
“Iya, sayang. Tambah nasi biar kenyang,” sahut ibu Satya.
“Nanti aja, Mah. Belakangan.” Reyna terkekeh kecil.
Tiba-tiba Satya berdehem.
“Kenapa? Keselek pulpen, ya?” ledek Reyna santai.
“Keselek galon,” balas Satya ketus.
Reyna mengernyit, heran dengan sikapnya.
'Kenapa sih dia? kadang sikapnya manis, kadang langsung kaya beruang kutub begitu' batinnya.
Tak lama, sang ibu bangkit. “Nak, Mamah tidur duluan, ya. Sudah ngantuk.” Seakan tahu kalau kedua anak itu butuh waktu berdua, ia masuk ke kamar.
Reyna kembali melanjutkan makan dengan tenang. Namun lirikan Satya yang sulit diartikan membuat suasana agak canggung.
Akhirnya Satya memberanikan diri. “Re, jelaskan ke saya, kontak siapa yang kamu simpan pakai emotikon love itu?” tanyanya tegas.
Reyna yang sedang mengunyah langsung tersedak. “Aduh, Om! Bahasnya nanti aja ya. Lagi enak makan malah bikin keselek.”
Satya tak menjawab. Ia memilih bangkit dan meninggalkan Reyna sendirian.
'Duh kayanya ada kesalah pahaman deh' pikir Reyna. Ia buru-buru menghabiskan mi, lalu menyusul Satya ke kamar.
---
Di dalam kamar, Satya berbaring sambil tetap menatap laptop. Wajahnya jelas masih kesal. Reyna mendekat pelan, duduk di sampingnya.
“Abang marah gara-gara nama kontak itu?” tanyanya hati-hati.
“Menurutmu?” Satya balik bertanya dingin.
“Itu cuma bestie aku di sekolah, Bang. Abang juga tahu dia,” Reyna berusaha meyakinkan.
Karena Satya tetap diam, Reyna akhirnya mengeluarkan jurus terakhir. Ia menghubungi kontak itu di hadapan Satya.
“Yaudah kalau nggak percaya, aku telepon, ya. Ini nomornya Bella.”
Telepon pun tersambung.
“Halo? Kenapa telepon malam-malam gini?” suara seorang gadis terdengar.
“Hehe, maaf ganggu, Bel. Aku cuma mau ingetin besok jemput aku, ya,” kata Reyna sambil melirik Satya.
“Oke, siap bestie,” jawab Bella.
“Yaudah, sana tidur lagi. Bye, Bella.” Reyna segera menutup telepon.
Satya terdiam, malu sendiri karena sudah berprasangka buruk. Reyna mendengus kecil. “Sudah kubuktikan, kan? Kalau masih marah, terserah Om. Aku ngantuk.” Ia langsung menarik selimut.
Namun tiba-tiba, Satya memeluknya dari belakang. “Maaf, ya. Aku terlalu cemburu. Aku takut kamu mendua, soalnya kamu belum bisa mencintaiku.”
“Hemm, siapa juga yang selingkuh? Yang ada justru Om yang sering TpTp sama cewek lain,” omel Reyna.
“TpTp? Tempe?” Satya pura-pura bingung.
“TpTp itu tebar pesona, Bang. Sama cewek centil, bahkan sama guru janda,” cerocos Reyna.
Satya tertawa kecil. “Oh, jadi kamu cemburu? Katanya nggak cinta, kok cemburu?”
“Siapa juga yang cemburu. Biasa aja.” Reyna menunduk, menutupi wajah yang mulai merah.
“Masa sih? Nanti kalau di sekolah baru, aku deketin gurunya, deh,” goda Satya.
“Awas ya! Aku aduin ke Papa,” ancam Reyna.
“Idih, ngadu bisanya ngadu doang,” ejek Satya.
“Bisa nggak sih jangan bikin aku kesel?” Reyna gemas, memukul-mukul dada Satya.
“Aduh, ampun! Sakit, tau.” Satya tertawa.
“Dasar tua ngeselin.”
“Hey, 26 tahun itu nggak tua!” protes Satya.
“Kamu aja yang bocil,” balasnya.
Mereka terus berdebat kecil sampai Reyna tiba-tiba nyeletuk keras, “Ihh, apaan sih, bangsat!”
Satya melotot. “Astaghfirullah, masih aja manggil itu.'
“Emang kenapa?” tanya Reyna polos.
“Kamu barusan sih manggil aku bangsat.”
“Oalah, itu singkatan panggilan aku untukmu bang” jawab Reyna cuek.
“Singkatan apa?” Satya penasaran.
“Bangsat itu kan singkatan Abang Satya.”
Deg.
Satya terdiam. Hatinya berdebar, campuran bahagia sekaligus terharu. Itu pertama kalinya Reyna memanggilnya “Abang” dengan tulus.
“Ciee, akhirnya manggil Abang,” godanya.
“Terus mau dipanggil apa? Om salah, Abang pun salah?” Reyna memanyunkan mulutnya.
“Kalau bisa sih dipanggil Ayang.”
“Idih om-om mesum!” Reyna menepis wajahnya yang memerah.
Satya tertawa. “Muka kamu merah tuh kayak kepiting rebus.”
“Tau ah, ngambek!” Reyna membelakangi Satya.
“Iya deh. Cewek kalau marah suka prengat-prengut.”
“Ish, bangsat juga kalo marah begitu!” Reyna masih mengomel.
“Eh, nggak ya mana ada saya begitu.” .
Reyna hanya mendengus kesal. “Aku ngantuk, mau tidur.”
Satya menarik napas. “Dek…”
“Apa sih? Aku lagi haid, Bangsat.”
Satya mendengus kesal. “Kenapa sih datang bulannya nggak pernah tepat waktu.”
Reyna tersenyum geli meski membelakangi. Malam itu ditutup dengan kehangatan—meski diwarnai cemburu, omelan, dan godaan, keduanya semakin dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Genç KurguKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
