Part 59

258 8 0
                                        

Hari yang cerah, Reyna, Satya, dan Bu Rosa tiba di rumah sakit jiwa. Mereka berjalan di koridor mencari kamar nomor 278, tempat Riana dirawat.

Saat tiba di depan kamar, mereka hanya melihat dari jendela. Tak berani masuk karena Riana sering mengamuk.

“Kasihan sekali dia, apakah bisa sembuh?” tanya Reyna.

“Biarkan saja, aku tak ingin dia sembuh,” jawab Satya ketus.

“Hus, jangan ngomong begitu,” tegur Bu Rosa sambil menjitak kening anaknya.

“Aduh, sakit, Mah. Tapi dia jahat sama istriku,” protes Satya.

“Setiap orang berhak berubah, Nak,” ucap Bu Rosa lembut.

“Iya sih, tapi kalau dia sembuh jangan sampai berulah lagi,” gumam Satya kesal.

“Ih, kamu ini gimana sih, Mas,” omel Reyna.

“Hehe, maaf sayang,” balas Satya sambil tersenyum.

Seorang suster datang menghampiri. “Bapak dan Ibu ini keluarga pasien?” tanyanya sopan.

“Kami kerabatnya,” jawab Bu Rosa.

“Kalau mau menjenguk, silakan. Pasien sedang membaik,” kata suster itu.

“Baiklah, tapi sebentar saja,” ujar Satya.

Mereka masuk perlahan. Reyna melangkah pelan mendekati Riana, tapi tiba-tiba Riana menatapnya penuh amarah. Ia berteriak histeris, melempar barang ke segala arah.

“Pergi kau! Wanita jalang! Aku benci kamu!” teriak Riana mengamuk.

Suster mencoba menenangkan, namun sia-sia. Satya segera menarik Reyna keluar dari kamar itu.

“Sayang, kamu luka?” tanya Bu Rosa cemas.

“Gak apa-apa, Mah,” jawab Reyna menenangkan.

“Lihat, dia bahkan melempar gelas ke arahmu!” marah Satya.

“Mas, jangan marah. Aku cuma kasihan padanya,” ujar Reyna.

“Kasihan? Dia itu hampir nyakitin kamu lagi!” balas Satya kesal.

“Sudah, jangan debat,” potong Bu Rosa lembut. “Riana masih labil, jangan dijenguk dulu.”

Mereka akhirnya meninggalkan ruangan itu dan menuju kamar 336 untuk menjenguk Alika.

Sesampainya di sana, mereka terkejut melihat Alika berpelukan dengan seorang pria.

“Mah, bukannya itu Bang Sehan?” tanya Satya.

“Iya, benar,” jawab Bu Rosa heran.

“Hah Siapa? Setan?” tanya Reyna polos.

“Bukan sayang itu loh bang Sehan,” jawab Satya terkekeh.

“Ohhh, Bang Sehan. Tapi kenapa pelukan begitu?” tanya Reyna bingung.

“Entahlah, yuk kita masuk,” ajak Satya.

Begitu pintu dibuka, Alika dan Sehan tampak kaget.

“Mamah? Satya? Kenapa ke sini?” tanya Sehan panik.

“Kami habis jenguk Riana,” jawab Bu Rosa. “Kamu sendiri ngapain?”

“Menjenguk Alika, Mah. Aku rindu dia,” lirih Sehan.

“Rindu apa rindu,” celetuk Satya.

“Mas!” tegur Reyna.

“Hehe, maaf sayang, bercanda,” kata Satya.

“Sa-sayang?” gumam Alika pelan.

“Bagaimana kondisimu sekarang, Alika?” tanya Bu Rosa lembut.

“Aku baik, Mah. Aku ingin pulang, tinggal bersama Mas Sehan,” jawabnya pelan.

“Nanti Mamah tanyakan ke dokter, kalau kamu sudah sembuh, Mamah izinkan,” kata Bu Rosa tersenyum.

“Mamah, wanita hamil ini siapa?” tanya Alika penasaran.

“Ini Reyna, istri Satya,” jawab Bu Rosa.

“Salam kenal, Kak Alika,” sapa Reyna ramah.

“Kamu sedang hamil ya? Beruntung kamu bisa menjaga kandunganmu,” ucap Alika lirih.

“Iya, Kak. Aku sedang mengandung anak Mas Satya,” jawab Reyna sambil mengelus perutnya.

“Dokter bilang Alika sudah sepenuhnya sembuh, Mah,” ujar Sehan. “Dia banyak berubah.”

“Syukurlah,” kata Bu Rosa lega. “Lalu kamu, Sehan, apa rencanamu?”

“Aku ingin memperbaiki hidupku, Mah. Aku akan menikahi Alika. Aku ingin menebus kesalahanku.”

Bu Rosa tersenyum. “Kalau begitu, Mamah restui.”

“Bulan depan, setelah Alika keluar, aku akan menikahinya, Mah. Aku harap Mamah dan Papah merestui,” ucap Sehan penuh harap.

“Sejak kapan Mamah tak merestui hubungan kalian? Mamah selalu berharap kalian bersatu,” ujar Bu Rosa haru.

“Maafkan aku, Mah. Karena keegoisanku, Alika jadi seperti ini. Karena aku juga anakku meninggal,” kata Sehan sambil bersimpuh.

Bu Rosa menepuk bahunya lembut. “Bangun, Nak. Mamah selalu mendoakanmu. Sekarang Tuhan sudah bukakan jalan. Jadilah pria yang bertanggung jawab.”

Sehan mengangguk dan memeluk ibunya erat.

Reyna yang melihatnya tak kuasa menahan air mata.

“Huaaa, sedih banget,” tangis Reyna.

“Heh, kenapa nangis?” tanya Alika kebingungan.

“Aku terharu, Kak,” jawab Reyna sambil mengusap matanya.

“Jangan nangis, nanti Mamah ikut nangis juga,” kata Bu Rosa lalu memeluk Reyna.

“Mamah itu ibu sekaligus mertua terbaik. Reyna beruntung punya Mamah,” ucap Reyna sambil tersenyum hangat.

Satya dan Sehan hanya tersenyum melihat mereka bertiga saling berpelukan, merasakan kedamaian setelah sekian lama keluarga itu hancur karena kesalahpahaman. Kini, satu per satu luka mulai terobati, dan kehidupan baru menanti mereka semua.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang