Part 7

626 88 118
                                        

Jam pelajaran usai, halaman sekolah mulai sepi. Reyna dan dua sahabatnya menunggu taksi. Perutnya tiba-tiba mulas, membuatnya kembali ke dalam sekolah.

“Guys, kalian pulang duluan aja. Gue mau pipis dulu, nanti pulang bareng laki gue,” ujar Reyna.

“Yaudah, kebetulan taksi gue udah datang,” balas Keyla sambil melambaikan tangan.

Reyna pun bergegas masuk ke kamar mandi. Karena air keran rusak, ia terpaksa membawa ember. “Sekolah elit, tapi buat cebok aja susah,” gerutunya.

Sementara itu, Satya masih duduk di ruang guru, memeriksa tumpukan nilai ulangan. Bu Rumi masuk sambil tersenyum menggoda.
“Bapak belum pulang? Gimana kalau bareng saya?” ujarnya, mengedipkan mata.

“Maaf, saya pulang sama Reyna,” jawab Satya tanpa sadar keceplosan. Ia langsung gugup.

“Baiklah,” Bu Rumi keluar dengan hati kesal. Saat berjalan, ia melihat Reyna masuk ke kamar mandi. Senyum licik muncul di wajahnya. Tanpa ragu, ia mengunci pintu dari luar. “Kalau begini, saya bisa pulang bareng Pak Satya,” batinnya.

Usai buang air, Reyna hendak keluar, namun pintu terkunci. Ia panik, memukul-mukul daun pintu. “Waduh, kok terkunci? Tolong! Siapa pun, tolong bukain pintu!” teriaknya. Hujan mulai mengguyur, udara makin dingin.

Satya yang menunggu Reyna gelisah. Ia bertanya pada Bu Rumi, tapi wanita itu berbohong. “Tadi saya lihat dia pulang dengan temannya.”

“Loh, bukannya dia janji pulang sama saya?” Satya heran. Ia segera menelpon Keyla.

“Pak, Reyna tadi bilang ke kamar mandi, kebelet banget,” jelas Keyla.

Deg! Satya langsung berlari ke arah kamar mandi.
“Reyna, kamu ada di dalam?” panggilnya.

“Om, tolong! Reyna kedinginan!” jawab Reyna lirih, diiringi isak tangis.

Satya tanpa pikir panjang mendobrak pintu. Pintu terhempas, ia segera memeluk Reyna yang gemetar. “Ya ampun, kamu kenapa bisa terkunci begini?”

Reyna menenggelamkan wajah di dadanya. “Om, aku mau pulang sekarang…”

Satya menggendongnya keluar dan membawanya pulang dengan mobil. Hujan deras membuat suasana semakin mencekam.

Di rumah, Reyna dibaringkan di kasur, tubuhnya dibalut selimut tebal. “Dek, Abang masakin bubur dulu ya,” ujar Satya.

Reyna menahan tangannya. “Om jangan pergi. Aku takut petir.”

Satya tersenyum lembut. “Tenang, saya di sini.” Ia pun berbaring di sampingnya. Reyna merasa aman dan akhirnya tertidur.

Dua jam kemudian, Reyna terbangun dan mendapati tempat kosong di sebelahnya. Tak lama, Satya masuk membawa semangkuk bubur hangat.

“Om, maaf. Reyna malah nyusahin. Kepala pusing banget tadi…” ucapnya lirih.

“Tidak apa-apa. Makan dulu ya, saya masakin buat kamu.”

Reyna menyuap bubur, tapi wajahnya meringis. “Bukan nggak enak… mulutku pahit,” air matanya menetes.

Satya meraba kening Reyna. Panas. “Ya ampun, sayang, kamu demam.” Dengan sigap ia mengambil air hangat dan mengompres kening istrinya.

Reyna merasa nyaman. Meski tubuhnya sakit, hatinya hangat karena Satya begitu tulus menjaganya malam itu.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang