Part 40

276 18 32
                                        

Malam itu rumah baru Reyna dan Satya dipenuhi tawa. Reyna tampak cantik dengan gaun elegan, senyumnya begitu indah karena ia dikelilingi keluarga dan sahabat tercinta. Satya berusaha keras membuat Reyna bahagia.

Vivi, kakak Reyna, turut hadir. Ia memberikan hadiah spesial: sebuah handphone baru. “Makasih, Kak, gue pikir lo gak akan datang,” ucap Reyna tersenyum.

“Mana bisa gue gak hadir di acara penting adik gue,” jawab Vivi sambil merangkulnya.

Suasana makin meriah. Malam itu bertepatan dengan malam tahun baru, langit dipenuhi kembang api. Reyna menutup mata sejenak, berharap tahun baru ini membawa kebahagiaan.

Keesokan paginya Satya terbangun. Rumah sudah rapi berkat bantuan pembantu. Pukul 09:46 matahari bersinar, namun Reyna masih tidur lelap.

Satya duduk di ruang tengah bersama ibunya. Mereka berbincang soal banyak hal, hingga Bu Rosa menyampaikan kerinduannya menimang cucu. Satya hanya tersenyum. Ia juga ingin, namun sadar Reyna belum tentu siap.

Tak lama kemudian Reyna turun setelah mandi. “Pagi semuanya.”

“Ini sudah siang, sayang,” jawab Satya.

Reyna nyengir. “Hehe, iya yah. Untung bukan hari sekolah.”

Satya lalu menyodorkan makanan. “Ini ayam goreng bawang putih kesukaanmu.”

“Waaah, makasih bang. Makan di meja aja biar enak,” katanya sambil menggandeng tangan Satya.

Mereka pun sarapan bersama.

Hari itu Reyna tampak lebih percaya diri. Ia makin akrab dengan Satya.

“Sayang, hari ini kita jalan-jalan yuk,” ajak Satya.

“Boleh. Mau kemana?”

“Serah kamu. Pokoknya aku ingin kamu bahagia.”

Reyna tersipu. “Semalam aja udah cukup bikin aku bahagia.”

“Belum. Aku masih mau bikin kamu tersenyum lebih banyak,” jawab Satya sambil memeluknya.

Mereka lalu bersiap. Sementara itu, orang tua Satya berpamitan pulang.

“Nak, kami pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik,” pesan Bu Rosa sambil mencium pipi Reyna.

“Iya, Mah. Nanti nginep sini lagi ya.”

“Pasti, sayang.”

Setelah orang tua Satya pergi, Reyna terlihat murung. “Aku pasti kangen sama Mamah.”

Satya mengusap kepalanya. “Jangan sedih, nanti Mamah datang lagi. Sekarang ayo bersenang-senang. Tuan putri gak boleh nangis.”

Satya mengecup bibir Reyna tiba-tiba.

“Ihh, kasih aba-aba kek! Dasar abang nakal,” protes Reyna.

Satya terkekeh. “Hehe, soalnya aku kangen bibir mungil itu.”

Mereka pun tertawa, berkejar-kejaran mengelilingi sofa.


Hari itu mereka berjalan-jalan di Jakarta. Satya mengajak Reyna mampir ke toko perlengkapan rumah, membeli barang-barang baru.

“Bang, apa gak berlebihan? Barang lama bisa dipindahin ke rumah baru,” ujar Reyna.

“Enggak, aku ingin semua serba baru. Rumah lama biar jadi kenangan. Aku ingin memulai hidup baru sama kamu,” kata Satya mantap.

Reyna menunduk. “Aku jadi gak enak hati, kayak matre banget.”

“Heh, siapa bilang? Aku justru seneng kamu pakai uangku. ATM yang dulu aku kasih aja masih utuh, kan?”

“Baru aku pakai sekitar 500 ribu.”

“Ya ampun, isinya kan 10 juta. Kenapa dikit banget?”

Reyna tersenyum. “Aku gak banyak belanja, paling cuma jajan sama temen.”

Satya geleng-geleng. “Lain kali borong aja sekalian.”

Setelah belanja, mereka makan di restoran. Sepanjang hari Reyna dimanjakan. Satya bahkan memberi hadiah satu set perhiasan baru.

Malamnya, hujan turun deras. Mereka memasak mi instan dengan telur dan sosis, lalu menikmati jajanan yang tadi dibeli.

Usai makan, mereka duduk bersama menonton film. Reyna menatap Satya dengan mata berkaca-kaca. “Makasih bang. Aku bahagia banget. Maaf baru sekarang bisa membuka hati untuk abang. Selama tujuh bulan nikah, pasti abang tersiksa.”

Satya menggenggam tangannya. “Jangan bilang gitu, sayang. Kamu udah mau membuka hati, itu lebih dari cukup. Aku bahagia kalau kamu bahagia. Jadi jangan pendam sendiri kalau sedih, ya.”

Mata mereka saling bertemu. Suasana malam yang dingin membuat keduanya makin dekat. Satya akhirnya membopong Reyna ke kamar. Kali ini Reyna tak menolak. Ia membalas setiap sentuhan dengan penuh kasih.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka benar-benar merasa menjadi pasangan yang sesungguhnya.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang