Pagi itu begitu cerah. Satya sudah bersiap untuk pergi mengajar. Ia duduk di meja makan, menikmati hidangan yang sudah disiapkan Mbok Sumi.
“Tuan, apa Nona Reyna belum bangun?” tanya Mbok Sumi.
“Belum, Mbok. Biarkan saja, sepertinya dia kelelahan,” jawab Satya.
“Baik, Tuan muda,” ujar Mbok Sumi sambil tersenyum, lalu kembali ke dapur.
“Terima kasih, Mbok.”
“Sama-sama, Tuan.”
Sesaat kemudian, Bu Rosa datang dan duduk di samping Satya.
“Nak, kamu tidak ingin bekerja di kantor Papa saja? Jangan terus jadi guru. Kamu kan calon pewaris Argadana Group.”
Satya tersenyum tipis. “Aku betah jadi guru, Mah. Lagipula, aku tidak mau berdebat dengan Bang Sehan.”
“Ah, kamu ini. Masih saja takut pada abangmu itu,” keluh Bu Rosa.
“Bukan takut, Mah. Aku hanya tidak mau ada keributan. Satya takut kalau nanti Bang Sehan menyeret Reyna dalam masalah keluarga kita.”
“Baiklah, terserah kamu. Tapi kalau suatu saat kamu ingin bergabung di Argadana Group, Mamah dan Papah pasti senang.”
“Iya, Mah. Untuk sekarang biar aku menikmati jadi guru dulu.”
Setelah sarapan, Satya pamit.
“Mamah, jaga Reyna ya. Kalau ada apa-apa, telepon Satya.”
“Iya, Nak. Jangan khawatir. Mamah akan menjaga Reyna,” kata Bu Rosa sambil mencium pipi anaknya.
Satya lalu berangkat ke sekolah. Ia mengemudi dengan cepat agar tidak terlambat.
Sesampainya di sekolah, Satya langsung menuju lapangan karena hari ini jadwal olahraga. Murid-murid kelas 12 IPA sudah berkumpul dan melakukan pemanasan.
“Hari ini kita main sepak bola! Tim perempuan dibagi dua, tim laki-laki juga,” seru Satya penuh semangat.
Anak-anak bersorak gembira. Satya mengawasi permainan sambil sesekali memberi arahan. Setelah satu jam, pelajaran pun selesai. Saat hendak ke ruang guru, dua siswi menghampirinya.
“Pak Satya, tunggu sebentar!” panggil Keyla.
“Ada apa, Key?” tanya Satya..
“Kami ingin tahu kabar Reyna, Pak. Dia gimana?” tanya Keyla.
“Reyna baik-baik saja. Usia kandungannya sudah lima bulan, jadi dia belajar di rumah dulu.”
“Kami kangen sama cerewetnya Reyna, Pak. Boleh nggak nanti sepulang sekolah kami jenguk?”
“Tentu boleh. Sering-sering juga gak apa-apa, biar Reyna gak jenuh.”
“Yeay, makasih Pak!” seru Keyla dan Alisa bersamaan.
“Oh ya, boleh gak kalau nanti kami ajak dia jalan-jalan?” tanya Alisa.
“Tergantung kondisinya. Kalau dia gak capek, silakan,” jawab Satya tersenyum.
“Baik, Pak. Makasih ya!” kata mereka sambil berlalu.
Sementara itu di rumah, Reyna baru terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
“Hoaaam… enak banget tidurnya,” gumamnya sambil meregangkan badan. Ia menatap jam di ponselnya.
“Jam 12?! OMG! Aku bangun jam 12 siang! Gimana kalau diomelin kayak di sinetron-sinetron?!” teriak Reyna panik.
Bu Rosa yang sedang duduk di ruang tamu kaget mendengar teriakan itu. Ia bergegas naik ke kamar Reyna dan mengetuk pintu.
“Rey, kamu kenapa, Nak? Mamah masuk ya!”
Saat masuk, ia melihat Reyna duduk di pinggir kasur sambil menangis.
“Rey, kenapa sayang? Sakit?” tanya Bu Rosa cemas.
“Mamah, maaf ya. Reyna malah enak-enakan tidur sampai siang.”
“Loh, kok minta maaf? Kan Mamah memang nyuruh kamu istirahat,” ucap Bu Rosa lembut.
“Tapi Reyna merasa gagal jadi menantu yang baik,” isaknya.
“Hus! Jangan bilang begitu. Mamah sayang sama kamu. Kamu sedang mengandung, jadi wajar kalau butuh istirahat.”
Bu Rosa mengelus rambut Reyna dengan penuh kasih sayang. Reyna lansung memeluknya sambil menangis.
“Sudah, jangan nangis. Ayo mandi, nanti makan bareng Mamah di bawah,” bujuk Bu Rosa lembut.
“Iya, Mah. Reyna mandi dulu ya.”
“Iya, Sayang. Mamah gak akan marah. Mamah sayang banget sama kamu,” ucap Bu Rosa dengan tatapan hangat.
Lima menit kemudian, setelah mandi, Reyna turun ke ruang makan.
“Sini, Nak. Mamah suapin ya,” kata Bu Rosa.
Reyna hanya mengangguk dan membiarkan mertuanya menyuapi dengan lembut. Setiap suapan terasa penuh kasih. Reyna benar-benar merasa disayangi seperti anak sendiri.
Ia sadar betapa beruntungnya memiliki ibu mertua sebaik Bu Rosa, juga suami yang begitu mencintainya. Kasih sayang yang dulu jarang ia dapatkan kini ia rasakan setiap hari. Dalam hati, Reyna berjanji akan menjadi istri dan calon ibu yang baik, membalas semua kebaikan keluarga Satya dengan cinta dan ketulusan.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Fiksi RemajaKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
