Part 9

573 65 57
                                        

Akhirnya, setelah beberapa minggu menikah dengan Reyna, Satya memberanikan diri untuk mengajaknya berkencan. Ia mempersiapkan segalanya dengan matang, dari menyewa restoran mewah milik sahabatnya hingga menyiapkan hadiah berupa sebuah vila untuk istrinya.

Sore itu, ponsel Reyna berdering. Sebuah pesan dari Satya muncul.

“Kamu siap-siap ya Rey, setelah aku pulang mengajar kita akan makan malam berdua.” Pesan singkat itu saja sudah membuat hati Reyna berdebar. Ia pun menjawab dengan penuh semangat, lalu bergegas menyiapkan diri.

Menjelang senja, Satya pulang. Reyna menyambutnya di depan rumah dengan candaan khasnya. Satya sempat mengingatkan agar ia segera bersiap. Beberapa menit kemudian, Reyna tampil anggun dengan gaun sederhana. Satya memujinya hingga membuat pipi Reyna merona. Bahkan, Satya sempat mencuri kecupan singkat yang membuat Reyna gugup sepanjang perjalanan.

Di dalam mobil, Satya berusaha mencairkan suasana. Ia tahu Reyna biasanya cerewet, namun kali ini lebih banyak diam. Ia lalu memberinya es krim, membuat Reyna tersenyum tipis meski wajahnya tetap memerah teringat insiden tadi.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di restoran. Satya menggandeng tangan Reyna masuk ke ruangan yang dihiasi bunga dan cahaya lilin. Reyna terharu, nyaris menitikkan air mata karena baru kali ini ia merasakan perlakuan romantis dari seorang laki-laki. Tak lama, Rendi—sahabat lama Satya sekaligus pemilik restoran—datang menyapa. Mereka berbincang sejenak sebelum Reyna dan Satya fokus menikmati hidangan.

“Dek, apa kamu suka suasana di restoran ini?” tanya Satya.

“Suka sekali, Bang. Reyna belum pernah melihat restoran seindah ini,” jawabnya sambil tersenyum.

Satya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat cincin berlian yang berkilau di bawah cahaya lilin.

“Walaupun awalnya pernikahan ini karena perjodohan, Abang ingin kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Abang harap kita bersama sampai akhir hayat,” ucap Satya tulus sambil menggenggam tangan Reyna.

Reyna terdiam, matanya berkaca-kaca.

“I-iya, Bang. Reyna akan berusaha membuka hati untuk Abang,” jawabnya pelan. Senyum Satya mengembang, lalu ia menautkan cincin itu ke jari manis istrinya dan mengecup tangan Reyna dengan penuh kasih.

Bagi Reyna, malam itu adalah awal baru. Rasa cinta yang dulu sempat hilang kini perlahan tumbuh kembali, membuatnya yakin bahwa pernikahan mereka bisa berubah menjadi kebahagiaan sejati.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang