Malam terasa menusuk tulang. Reyna membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Rumah begitu sepi, hanya terdengar bunyi ketikan ponsel. Ia sibuk membaca novel, sementara Satya memilih diam, tak ingin mengganggunya.
“Rey.” Satya memanggil pelan. Tak ada jawaban. Ia menepuk bahu Reyna.
“Kamu mau makan?” tanyanya lagi.
“Tidak.” jawab Reyna singkat.
“Kenapa diam terus? Jangan begini, Rey,” ucap Satya.
Reyna hanya mendengus dalam hati. 'Dasar gak peka, masih aja gak tau kesalahannya apaan'
“Aku tahu kamu kesal karena Riana muncul lagi di hidup kita.” Satya mencoba menjelaskan.
“Tapi aku juga gak tahu kalau dia akan mengajar di sekolah itu.”
“Hm.” sahut Reyna dingin.
“Kamu gak percaya?”
“Berisik.” jawabnya ketus.
Satya menghela napas. “Ayo keluar jalan-jalan. Sudah lama aku tidak jalan sama kamu.”
“Males.”
“Jangan begitu. Kalau gak sama kamu, sama siapa lagi?” ucap Satya dengan wajah memelas.
“Kenapa tidak ajak saja Bu Riana?” sindir Reyna.
Satya langsung menatap serius. “Rey cukup. Hati aku cuma untuk kamu. Kamu istriku, mana mungkin aku kembali pada dia.”
“Nyenye…” Reyna mengejek.
“Supaya jelas, besok aku publikasikan status kita di sekolah.” ucap Satya.
Reyna sontak berbalik. “Jangan! Aku baru kelas sebelas. Masa semua orang harus tahu secepat itu?”
“Terus kamu maunya bagaimana? Apa aku harus pindah mengajar lagi?” keluh Satya.
“Aku hanya tidak suka dia mengejarmu.” ucap Reyna.
Satya tercengang. “Kamu cemburu, ya?” godanya.
“Jangan bercanda, aku lagi ngambek!”
“Uluh-uluh sayangnya aku mulai jatuh cinta nih.” Satya tersenyum.
“Tau ah. Aku lapar.” Reyna langsung keluar kamar.
---
Satya memanaskan mobilnya. “Yuk sayang, kita cari makan.”
“Hmm.”
“Jangan cemberut terus, jelek nanti.”
“Apasih, gak jelas.” Reyna mendengus kesal.
Mereka pun berangkat.
“Mau makan di mana?” tanya Satya.
“Terserah.”
“Bagaimana kalau angkringan Sunda dekat alun-alun?”
“Terserah, yang penting kenyang.”
Sesampainya di angkringan, Satya memesan dua ikan bakar lengkap sambal kecap dan dua es teh manis. Saat menunggu, Reyna menunjuk ke stand cireng isi.
“Aku mau itu.”
“Ya sudah, ayo.”
Satya membeli cireng campur tiga puluh ribu.
“Mau corndog sekalian?” tawarnya.
“Tidak usah, ini sudah banyak.”
“Gapapa, aku belikan apa saja yang kamu mau.”
“Nanti saja, aku mau makan ikan bakarnya dulu.”
Tak lama, pesanan tiba. Pelayan mengantarkan ikan bakar.
“Ini pesanannya. Mas, mau pesan dessert untuk adiknya?”
“Oh iya, boleh. Dua ya. Dan maaf dia istriku, bukan adikku,” jawab Satya.
Pelayan tersenyum malu. Sedangkan Reyna hanya terkekeh, dan Satya malah bad mood.
“Tuh kan, mereka kira aku adikmu,” ucap Reyna sambil tertawa.
“Tau ah, umurku baru 26, tapi dibilang tua.” Satya menghela napas.
“Lagian mau aja nikah sama bocah.” Reyna kembali menggoda.
Mereka pun menikmati makanan ditemani langit malam berbintang. Setelah kenyang, Satya membayar dan mengajak Reyna berkeliling lagi.
---
“Rey, gelang pemberianku sudah agak kusam. Mau aku belikan baru?”
“Tidak perlu, masih bagus kok.”
“Biasanya perempuan suka koleksi perhiasan.”
“Tapi gak harus setiap bulan beli.”
“Aku cuma ingin kamu bahagia.”
“Kalau begitu, boleh aku beli novel lagi?” tanya Reyna malu-malu.
“Boleh dong. Mau berapa?”
“Empat buku cukup deh.”
“Sepuluh pun boleh, sayang.” Satya mengelus rambutnya.
Reyna hanya tersipu malu
'Hiks dia bisa bersikap selembut ini padaku.'
“Kenapa melamun?” tanya Satya.
“Eh, nggak kok.” Reyna salah tingkah.
Mereka berhenti di toko buku. Reyna membeli empat novel, Satya membeli perlengkapan sekolah untuknya.
“Bang ko beli buku tulis? masih banyak loh di rumah.”
“Gapapa, buat stok.”
Dari toko buku, Satya lanjut ke IKEA.
“Kenapa ke sini?”
“Aku mau belikan meja belajar. Yang di rumah sudah jelek.”
“Abang bawa uang berapa sih? Niat awalnyakan hanya makan.”
“Sekalian saja sayang.”
Dua jam berkeliling, mereka akhirnya kembali ke mobil. Reyna tertidur pulas. Sesampainya di rumah, Satya membopong tubuh istrinya. Ia tersenyum melihat wajah tidur Reyna.
“Marah-marah cantik, ngambek cantik, senyum cantik, tidur pun tetap cantik.” gumamnya.
Ia membaringkan Reyna di kasur dan menyelimuti tubuhnya. Saat hendak keluar kamar, tangan Reyna menahan.
“Jangan pergi, jangan tinggalkan aku.” rengeknya.
“Aku tidak akan pergi.” Satya mengecup kening dan bibirnya pelan.
Malam itu, Satya ikut berbaring di samping istrinya, tertidur dengan perasaan hangat—mungkin inilah momen di mana Reyna mulai benar-benar membuka hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Fiksi RemajaKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
