Kisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
"Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
Reyna akhirnya keluar dari kamarnya dan duduk di ruang TV. Perutnya terasa lapar. Dari dapur, Satya muncul membawa mie pedas dengan topping sosis.
“Nih sayang, makan ini ya. Aku buatkan untukmu,” ucap Satya.
“Makasih, Bang,” balas Reyna, lalu menyantap mie dengan lahap.
Saat Satya hendak pergi, Reyna menahannya. “Eits, mau ke mana?” “Ke dapur. Kamu mau apa?”
“Mau jalan-jalan, boleh?” Satya tersenyum. “Boleh. Kamu mau ke mana?”
“Terserah. Aku suntuk di rumah.”
“Kalau begitu habiskan dulu makanmu, nanti kita jalan.”
Sambil menunggu Reyna, Satya menerima pesan dari Riana.
Riana Mas, jadi benar kamu menikah dengan Reyna?
Satya Iya. Kenapa?
Riana Dia muridmu, Mas.
Satya Terus kenapa? Aku harus minta izin kamu dulu?
Riana Kenapa harus dia?
Satya Udahlah, kamu terlalu banyak drama. Suamimu itu masih hidup dan dia tidak pernah selingkuh.
Riana Kamu tidak tahu apa-apa. Dia itu suka KDRT!
Satya Cukup, Riana. Aku capek. Aku ingin bahagia dengan keluargaku.
Satya langsung memblokir nomornya. Namun kegelisahannya bertambah saat melihat berita: Galang membocorkan bahwa Reyna adalah istrinya.
“Sial, kenapa identitasku terbongkar. Kalau Reyna tahu bisa repot ini,” gumam Satya.
Tak lama, Reyna keluar. “Tau soal apa?” tanyanya datar.
“Eh… aku baru lihat berita. Galang membocorkan hubungan kita pas di wawancara soal siapa yang nolongin kamu.”
“Oh,” jawab Reyna singkat.
“Kamu nggak marah? Bukannya kita mau umumkan nanti, setelah kamu kuliah?”
“Sudah terlanjur. Lagipula, semalam Abang sudah ambil hak Abang.” Reyna langsung berjalan keluar.
Satya menghela napas panjang. “Kenapa sih semalam aku kebablasan.”
Dari luar Reyna berteriak, “Bang, ayo cepat!” Satya pun buru-buru menyusul.
Di Perjalanan mobil melaju, suasana begitu hening. Reyna hanya menatap keluar jendela.
“Sayang, mau makan ramen?” tanya Satya.
“Terserah.”
Satya gelisah, berusaha mencari cara memperbaiki mood istrinya.
Tanpa berkata apa-apa, ia membawa Reyna ke toko boneka.
“Yuk, kita sudah sampai.”
“Bukannya dua minggu lalu Abang sudah belikan aku boneka?”
“Biar saja. Kali ini kamu yang pilih.”
Reyna akhirnya tersenyum kecil saat melihat boneka Lotso.
“Wah, ada Lotso!”
“Kamu mau? Ambil aja.”
“Boleh?”
“Boleh dong, sayang.”
Setelah membeli boneka, mereka lanjut ke supermarket untuk belanja bulanan. Reyna sibuk memilih barang.
“Beli apa ya kira-kira?” batin Reyna.
“Sikat gigi baru atau sabun mandi ? ah semuanya aja deh, toh yang bayar kan bang Satya” gumamnya.
sementara Satya sedang melihat parfum. Tiba-tiba, tiga remaja SMA menghampirinya.
“Pak, bapak ini guru olahraga dari SMA ternama itu kan?”
“Pak, boleh minta nomor HP gak?”
“Boleh foto bareng nggak, Pak?”
Reyna yang melihat langsung geram. Ia menggenggam erat tangan Satya.
“WOI, menjauh dari dia! Dia suami gue!”
Remaja itu terkejut. “Masa sih? Kok masih bocil?”
“Umur itu nggak penting! Pergi sana!” bentak Reyna.
“Mana buktinya kalau Lo istrinya?”
Reyna menunjukan cincinnya. “Nih, lihat! Cincin nikahnya, sama kan!”
Satya keheranan. “Loh, biasanya dia pakai di jari tengah…” batinnya.
Para remaja masih mengejek, membuat Reyna makin emosi. Satya buru-buru menggendongnya.
“Udah, jangan ribut. ayo kita lanjut lagi perjalanannya.”
Belanjaan cepat dibayar, bahkan kembalian Satya tinggalkan untuk kasir. Ia segera membawa Reyna ke mobil.
Di perjalanan Reyna cemberut. Satya justru tersenyum.
“Cemburu ya?” godanya.
“Siapa juga yang cemburu. Jangan ganggu aku,” ketus Reyna.
Satya tertawa kecil. “Baiklah. Kita mampir ke mie gacoan ya, biar mood kamu bagus.”
“Terserah,” balas Reyna masih kesal.
---
Sesampainya di tempat mie garoan Reyna langsung memesan. “Aku mau level 8.”
“Yakin? Nanti sakit perut loh,” kata Satya khawatir.
“Kalau nggak boleh, aku pulang naik taksi!” ancam Reyna sambil memanyunkan bibirnya.
“Yaudah, boleh kok sayang,” ucap Satya lembut.
Pesanan pun datang, Reyna makan dengan lahap.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satya hanya memandangi, merasa lega melihat Reyna mulai luluh meski wajahnya masih cemberut. Baginya, itu sudah cukup menandakan satu hal—Reyna memang benar-benar cemburu.