Part 47

212 14 18
                                        

Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama usai. Para siswa bergegas ke kantin. Reyna, Keyla, dan Alisa duduk manis sambil menunggu bakso pesanan mereka.

“Ah, gue kangen suasana kantin,” kata Reyna sambil tersenyum.

“Heh, lu gak sekolah dua hari doang, bukan bertahun-tahun,” sindir Keyla.

“Gue di rumah sakit, gak bebas makan, ngerti gak sih” protes Reyna.

“Kalau dilanjutin, bisa-bisa gue ngebangunin macan tidur,” gumam Keyla pelan.

“Maksudnya?” tanya Reyna tajam.

“Enggak, enggak, bercanda,” jawab Keyla cepat.

Pesanan datang. Reyna ingin menambahkan sambal, tapi seseorang mengambil botol itu darinya.

“Ihhh, kok diambil, kan gue mau!” kesal Reyna.

“Yakin mau makan pedas? Kan udah janji?” suara itu tegas. Reyna menoleh, mendapati Satya berdiri di sampingnya.

“Eh... Abang, gak jadi deh,” ucapnya gugup.

Keyla berbisik, “Kalau sama pawangnya langsung nurut.” Reyna pun menginjak kaki Keyla.

“AWWW sakit!” teriak Keyla.

“Kamu kenapa?” tanya Satya bingung.

“Digigit nyamuk, Pak,” jawab Keyla spontan.

“Digigit nyamuk ko teriak?” Satya mengernyit.

“Hehe, kaget Pak,” sahut Alisa menahan tawa.

Satya hanya geleng kepala. “Ada-ada aja kalian. Ingat, kamu gak boleh makan pedas,” ucapnya sambil menatap Reyna.

“Iya, Bang, gak kok,” jawab Reyna cepat.

“Baik. Setelah makan, ke ruanganku,” kata Satya.

“Mereka boleh ikut?” tanya Reyna.

“Enggak. Kamu aja,” jawab Satya.

Begitu Satya pergi, Keyla bersuara, “Overprotektif banget.”

Reyna menarik napas. “Guys, besok gue gak lanjut sekolah. Mungkin homeschooling aja. Gue kan... hamil. Kepala sekolah pasti gak izinin gue lanjut. Maaf ya.”

Keyla dan Alisa terdiam, air mata mereka jatuh. Ketiganya saling berpelukan.

Setelah makan, Reyna mengetuk ruang guru.

“Masuk,” jawab Satya.

“Abang marah?” tanya Reyna pelan.

“Enggak, aku cuma mau bilang, nanti pulang sekolah ikut aku ke suatu tempat.”

“Kirain marah, syukurlah,” senyum Reyna lega.

“Tapi ingat, jangan makan pedas. Kamu lagi mengandung anak kita,” ujar Satya lembut tapi tegas.

“Iya, aku nurut kok,” jawab Reyna manja.

“Baiklah, aku pegang janji kamu. Sekarang masuk kelas lagi ya, sayang.”

Wajah Reyna langsung merah. “Jangan gitu dong, malu!”

Satya tertawa kecil. “Hehe, imut banget sih kamu.”

Jam pulang sekolah tiba. Dalam mobil, Reyna tertidur di bahu Satya selama perjalanan.  beberapa menit kemudian, Satya membangunkannya pelan.

“Sayang, bangun, udah sampai.”

“Hmm, maaf ya aku ketiduran,” gumam Reyna.

“Gak apa-apa. Yuk masuk.”

Begitu keluar dari mobil, Reyna terkejut. “Loh, ini petshop?”

“Hehe iya. Aku mau beliin kamu kucing,” kata Satya tersenyum.

“Serius?! Ih lucunyaaa!” Reyna langsung excited.

“Iya, lucu kayak kamu,” goda Satya.

“Yee, mulai lagi,” cemberut Reyna.

Di dalam, Reyna jatuh cinta pada seekor kucing gembul berbulu putih.

“Huaaa, gemes banget! Aku mau yang ini!” katanya sambil menggendongnya.

“Kamu mau kasih nama apa?” tanya Satya.

“Mochi! Karena gembul dan manis,” jawab Reyna semangat.

“Nama yang bagus,” kata Satya. “Maaf ya cuma satu.”

“Gapapa, aku udah cinta banget sama Mochi,” ucap Reyna sambil mengelus kucing itu.

“Jadi jatuh cintanya ke kucing, bukan ke aku nih?” goda Satya lagi.

“Dih, beda dong!” Reyna manyun.

“Hehe, ayo pulang. Kamu tadi kan mau rujak.”

“Yaaay makan rujak.”

Sampai di penjual rujak, Reyna pesan, “Satu porsi, sambalnya dikit ya.” Sambil menunggu, ia bermain dengan Mochi di taman, membuat Satya tersenyum melihatnya.

“Melihat kamu tersenyum aja udah cukup,” gumam Satya pelan.

Setelah makan, mereka pulang. Di mobil, Reyna tak berhenti menimang Mochi.

Malamnya di rumah, Reyna duduk di sofa sambil makan rujak dingin. Mochi berlarian di karpet.

“Seger banget makan rujak malam-malam,” kata Reyna puas.

“Jangan sering-sering,” ujar Satya.

“Hehe iya, janji,” jawab Reyna.

Satya menatapnya lembut. “Kamu tuh aneh tapi lucu.”

Reyna terkekeh. “Eh iya, aku beliin Mochi topi kecil. Lucu banget!” Ia memakaikan topi pada kucingnya.

Satya sampai tertegun, lalu tertawa. “Astaga, kamu ini ada-ada aja.”

“Cebelapa imut cih atu,” kata Reyna menirukan suara bayi sambil memeluk Mochi, membuat Satya ikut tertawa.

Reyna menatap Satya dan berkata pelan, “Makasih ya, Bang, udah beliin aku Mochi.”

“Udah ah, gak usah makasih terus. Kamu mau apa aja, aku beliin,” jawab Satya sambil mengelus rambutnya penuh sayang.

Malam itu, rumah mereka dipenuhi tawa hangat. Reyna merasa hidupnya kini benar-benar sempurna—ada cinta, keluarga kecil, dan seekor kucing lucu bernama Mochi.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang