Jam menunjukkan pukul 12:00 WIB. Reyna kini sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Ia tersenyum lebar, tak sabar bertemu dengan Satya. Dalam hatinya, ia yakin hari ini akan jadi hari spesial karena tepat tanggal ulang tahunnya.
“Heum, gak sabar nih. Pasti abang ajak jalan-jalan,” gumamnya.
“ABAAAANG, aku pulang!” teriak Reyna dari luar.
Satya segera keluar menyambut. “Hai sayang, wah seneng banget mukanya.”
“Ya iyalah, kan hari ini hari spesial aku,” jawab Reyna sambil meloncat kecil.
“Hari spesial? Emang ada apa?” Satya pura-pura bingung.
“Ih, masa gak tahu?” Reyna manyun.
“Oh iya ingat…” Satya tersenyum nakal.
“Coba sebut hari apa?” Reyna menantang.
“Sabtu.”
“Abang! Bukan itu!” Reyna langsung ngambek dan masuk kamar.
Satya hanya tertawa gemas. Ia tahu Reyna sedang kesal, tapi justru tingkah polos istrinya itu membuatnya makin sayang. Baru saja ia melamun, ponselnya berdering.
Mamah
Satya, apa Reyna sudah pulang?
Satya
Sudah, mah. Baru sampai.
Mamah
Bagus. Kamu sudah siapin dekor rumah barunya?
Satya
Sudah selesai.
Mamah
Syukurlah. Kue nya juga hampir jadi.
Satya
Baik, sore nanti aku ajak Reyna ke rumah baru.
Mamah
Selamat bersenang-senang, nak.
Satya menutup ponsel, lalu mengetuk pintu kamar Reyna. “Sayang, ayo jalan-jalan.”
Reyna cemberut. “Kemana?”
“Ke kedai seblak. Aku pengen makan bakso aci pedas.”
Mendengar itu, wajah Reyna langsung berubah ceria. “Wah, enak tuh! Yuk berangkat.”
Mereka pun pergi. Di jalan, Reyna kembali menguji. “Bang, beneran gak inget hari ini apa?”
“Inget kok. Hari Sabtu besok minggu,” jawab Satya, menahan tawa.
“Ihh! Tega banget sampe lupa hari spesial aku,” Reyna merengek seperti anak kecil.
Satya menoleh sebentar. “Perasaan anniversary kita udah lewat, deh.”
“Sudah ah, gak usah dibahas!” Reyna manyun lagi.
Sesampainya di kedai seblak langganan, mereka langsung mengambil makanan. “Silakan, tuan. Ini bakso acinya,” ucap pelayan.
“Wah, makasih!” Reyna lahap makan. Rasa pedas membuat pipinya memerah, tapi justru itu yang ia suka. Satya hanya tersenyum melihatnya.
Selesai makan, mereka sempat berkeliling kota, membeli jajanan kaki lima, lalu menuju pantai. Reyna terlihat begitu gembira bermain pasir bersama anak-anak kecil di sana. Satya memandanginya dalam hati.
“Reyna itu penyayang sekali… andai saja kami segera punya anak,” batinnya.
Menjelang senja, Reyna kembali dan bersandar di bahu Satya, menikmati sunset. “Indah banget, ya.”
Satya merangkulnya. “Sayang, ayo pulang. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”
“Kemana?”
“Kejutan dong. Kalau aku kasih tahu, gak seru,” jawabnya sambil mencubit pipi Reyna.
“Ya udah, tapi beliin aku es krim mochi dulu,” kata Reyna manja.
“Oke siap, nyonya.”
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00 ketika Reyna dan Satya berangkat lagi. Sepanjang perjalanan, Reyna gelisah. “Kita mau kemana sih? Lama banget.”
“Sabar, sebentar lagi.”
Dua jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah besar dengan halaman luas. Mata Reyna berbinar melihatnya. “Bang, rumah siapa ini? Kita mau bertamu?”
“Masuk aja dulu,” kata Satya sambil menggandeng tangannya.
Di depan pintu, seorang wanita paruh baya menyambut. “Selamat datang, tuan dan nyonya.”
Reyna kaget. “Tu-tuan? Nyonya?”
“Silakan masuk, nyonya. Saya Mbok Sumi.”
“Eh iya, Mbok… salam kenal.”
Begitu melangkah masuk, Reyna terdiam. Ruang tamu dipenuhi dekorasi cantik. Ada balon, pita warna-warni, dan di sofa sudah duduk Keyla serta Alisa yang tersenyum hangat.
“Abang, ini ada apa?” Reyna bingung.
Satya menggenggam tangannya. “Ini kejutan buat kamu.”
“Ke-ju-tan?”
“Happy birthday, sayang.” Satya menatapnya penuh cinta. “Semoga panjang umur, sehat selalu, dan semoga kita langgeng terus.”
Air mata Reyna langsung menetes. Ia tak percaya Satya menyiapkan ini semua.
“Happy birthday, sayang,” ucap Bu Rosa sambil membawa kue ulang tahun.
“Ayo tiup lilinnya, Rey. Jangan lupa doa dulu,” sahut Keyla.
Reyna menutup mata sejenak, lalu tersenyum haru. “Makasih semuanya… aku gak nyangka bisa dapat kejutan begini.”
Setelah meniup lilin, tawa dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Reyna dipeluk satu per satu oleh orang terdekatnya.
Malam itu berubah jadi hangat dan penuh kebahagiaan. Reyna merasa sangat dicintai, dan dalam hati ia tahu—ini adalah ulang tahun paling indah dalam hidupnya.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Novela JuvenilKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
