Di sore hari, Satya merasa bersalah karena seharian mendiamkan Reyna. Akibatnya Reyna memilih diam dan tak mau membuka suara.
“Sayang, jangan marah lagi, ya. Aku minta maaf. Tadi di sekolah ada insiden yang bikin aku kesal,” ucap Satya mencoba mendekat.
“Hmmm,” jawab Reyna singkat.
“Sayang, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa?” jawab Reyna dengan ketus.
“Bajumu itu kenapa? Aku mau kamu jujur.”
Reyna menarik napas panjang. “Aku lagi makan di kantin, tiba-tiba Bu Riana senggol bahu aku. Cat yang dia bawa tumpah ke bajuku.” Wajah Reyna memerah menahan emosi.
“Cat? Buat apa?” Satya heran.
“Katanya disuruh Pak Kepsek cat ruangannya.”
“Mana ada. Dari tadi pagi sampai pulang, Pak Kepsek di ruangannya sama aku,” tegas Satya.
Reyna semakin kesal. “Ya berarti bohong. Dia cuma cari gara-gara.”
“Sudah, jangan dipikirkan. Yuk, kita jalan-jalan sebentar,” ajak Satya.
“Boleh emang?” Reyna mulai luluh.
“Tentu boleh. Mau ke Alfa atau Indomaret?”
“Ke Alfa aja.”
Reyna bersiap. Satya menunggunya di luar sambil tersenyum. 'Dasar bocil, marah-marah tapi kalau diajak jajan langsung mau' batinnya geli.
Di Alfa, Satya membelikan Reyna es krim mochi kesukaannya. Reyna senang sekali hingga melahap tiga cup sekaligus. Mereka lalu membeli camilan untuk santapan malam.
“Pilih aja semua yang kamu suka,” kata Satya.
“Yeay, makasih Bangsat!” Reyna berseri-seri.
Selesai belanja, mereka lanjut ke kedai seblak favorit. Reyna begitu bersemangat. “Bang, aku kangen nyeblak.”
“Boleh, tapi jangan kepedesan. Aku nggak mau kamu sakit perut,” ucap Satya khawatir.
“Oke siap!” Reyna berlari kecil ke mobil.
Di perjalanan, ia mendengarkan musik lewat headset. Jalanan Jakarta penuh hiruk pikuk, tapi hatinya kembali ceria.
Sesampainya di kedai, mereka memilih kerupuk dan topping seblak, lalu menunggu pesanan.
“Akhirnya bisa makan seblak lagi,” Reyna tidak sabar.
“Tapi minggu depan stop dulu, ya. Bulan ini kamu sudah habiskan mie pedas sepuluh bungkus. Aku nggak mau lambungmu kambuh,” Satya menasihati.
“Iya deh, aku nurut.”
“Begitu dong, kan aku jadi makin sayang.” ucap Satya sambil mengedipkan matanya.
“Idih, gaya banget. Biar apa kaya gitu?biar dikira om-om keren ya?” ejek Reyna.
“Enak aja, aku masih muda!” Satya protes.
Mereka tertawa. Tak lama, pelayan datang membawa dua mangkuk seblak panas.
“Wih mantap!” Reyna berbinar.
“Selamat makan, bocilku,” ucap Satya.
“Selamat makan juga, Bangsat,” balas Reyna.
Mereka asyik menyantap seblak, tak sadar ada seseorang diam-diam memotret mereka dari kejauhan.
“Lihat saja, besok aku kasih kejutan,” gumam sosok itu dengan senyum licik.
Sejam kemudian, mereka pulang. Dalam perjalanan, Reyna bersandar manja.
“Bang, besok pemilihan eskul. Semua wajib pakai baju olahraga. Sudah di laundry, kan?”
“Sudah dong. Rapi dan wangi di lemarimu.”
“Wih, abang gercep banget.”
“Jelas. Demi istriku tercinta.”
“Ih gombal.”
Suasana mobil penuh canda. Reyna merasa bahagia, seolah semua kekesalannya hilang. Baginya, sehari saja tanpa perhatian Satya sudah cukup membuatnya resah.
Di rumah, mereka berbagi camilan di ruang TV sambil menonton film. Tawa keduanya pecah, saling bertukar cerita masa kecil.
Keesokan harinya, Reyna berangkat sekolah dengan mobil berbeda. Satya ada rapat guru, jadi ia berangkat sendiri.
Namun sejak masuk gerbang, tatapan sinis murid-murid menusuknya. Di koridor, bisik-bisik terdengar ke mana pun ia berjalan.
“Kenapa sih kalian lihat gue gitu?” ucap Reyna lantang.
Seorang siswa tertawa mengejek. “Kirain cupu, ternyata suhu. Pendiam di sekolah, kalo diluar jadi simpanan om-om.”
“Maksud lo apaan?!” Reyna marah.
Beberapa murid melempar buku ke arahnya.
“Cewek kayak lo nggak pantas sekolah di sini. Dasar murahan!” kata seorang murid.
Keyla muncul dan berteriak. “Jaga mulut lo! Gue bakal lindungin Reyna dari fitnah kalian!”
Alisa ikut membela. “Kalian gampang banget dihasut sama cewek berhati ular kayak dia.”
Tiba-tiba Riana keluar dari balik tembok, melemparkan foto-foto Reyna dan Satya yang sedang makan seblak.
“Nih, bukti nyata. Teman kalian ini wanita murahan!”
“Tutup mulutmu, Riana!!” suara lantang Satya menggema.
Riana menyeringai. “Wah, tepat waktu. Guru kita satu ini diam-diam nikah sama muridnya. Hebat ya.”
Satya menatap tajam. “Kalau Reyna kamu sebut jalang, lalu kamu apa? Wanita bayaran kah?”
“Kurang ajar!” Riana berteriak, wajahnya memerah.
Pak Kepsek dan beberapa guru datang menghampiri. “Riana, cukup! Kamu sudah terlalu banyak bikin masalah. Fitnah seperti ini bisa kami laporkan sebagai pencemaran nama baik!”
Riana terpojok, namun masih berusaha membalikkan fakta. Dengan suara keras ia menuduh Reyna menikah diam-diam karena hamil anak Satya.
Suasana koridor mendadak hening. Semua mata kini tertuju pada Reyna dan Satya.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
