Pagi itu Reyna terbangun dengan rasa perih yang mengganggu tidurnya. Ia mengucek mata, melihat kasurnya berantakan, dan menyadari Satya tidak ada di kamar.
“Seingatku kemarin aku ikut Galang ke villa… tapi kok sekarang sudah di rumah? Ah iya, aku minum air yang dia kasih, terus langsung pusing gitu kepalaku,” gumamnya.
Namun pandangannya tertuju pada bercak darah di kasur. Reyna terkejut. “Ya ampun, aku kan baru haid minggu lalu. Masa sekarang haid lagi?”
Ketakutan melanda. Ia histeris, mengira dirinya telah dinodai Galang. Reyna melempar barang-barang, menangis di pojokan kasur. Satya yang mendengar segera masuk.
“Sayang, ada apa? Tenang, aku di sini,” ucap Satya menenangkan.
“Aku takut, Bang. Jangan-jangan Galang udah menodai aku,” isaknya.
Satya memeluknya. “Nggak, sayang. Kamu belum sempat disentuh. Galang sudah ditangkap. Aku yang menyelamatkanmu.”
Reyna terisak. “Tapi kenapa ada darah?”
Satya menunduk. “Maaf… semalam aku tergoda. Kamu terus memintanya, akhirnya kita melakukannya.”
Reyna tercengang. Ia marah sekaligus lega—marah karena merasa belum siap, tapi lega karena kesuciannya diambil oleh suaminya, bukan Galang.
“Sayang, mari kubantu bersihkan badanmu,” ucap Satya lembut.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri,” balas Reyna dingin, lalu berjalan tertatih ke kamar mandi.
Setelah keluar, ia mendapati Satya tengah mengganti seprai. Reyna menatap datar. “Biar aku saja yang bereskan.”
“Sudah, biar aku. Kamu turun saja, aku sudah masakkan sarapan.”
Reyna diam, memilih turun. Perutnya memang lapar, tapi pikirannya kacau.
“Kenapa aku marah? Bukankah wajar kalau dia menyentuhku? Bukankah dia suamiku?” batinnya. Namun rasa canggung tetap menghantui.
Satya menepuk pundaknya. “Kamu marah? Maafkan aku. Apa yang harus kulakukan supaya kamu tak marah lagi?”
Reyna menggeleng. “Jangan begini, Bang. Aku ingin menyendiri dulu.” Ia kembali ke kamar, meninggalkan Satya yang hanya bisa menghela napas.
---
### Di Kamar
Reyna membuka ponselnya. Grup WA sahabatnya ramai.
Keyla
Rey, lo di mana sekarang?
Reyna
Di rumah.
Alisa
Lo nggak apa-apa kan?
Reyna
Bang Satya yang selamatin gue.
Keyla
Syukurlah. Dia khawatir banget sama lo.
Alisa
Iya, sampai nangis-nangis loh.
Reyna
Hmmmm.
Keyla
Lo nggak sempat diapa-apain kan sama si Galang?
Reyna
Nggak lah
Alisa
Alhamdulillah.
Keyla
Bagusan suami lo yang ambil, dapat pahala juga toh wkwkw
Reyna
Hmmm udah
Keyla
Hah? Serius?
Alisa
Widih, udah nggak perawan nih wkwk
Reyna
Berisik lo pada, udahlah mau tidur lagi
Reyna menutup chat itu dengan perasaan campur aduk. Ia lalu menghubungi kakaknya.
Reyna
Kak, sibuk nggak?
Kak Vivi
Nggak. Kenapa?
Reyna
Kemarin gue sempat diculik orang.
Kak Vivi
Serius? Ceritain!
Reyna
Panjang ceritanya. Intinya, gue masih terpengaruh obat sampe akhirnya… gue sama bang Satya... Emm anu
Kak Vivi
Bagus dong! Untung Satya yang ambil. Coba kalau Galang? Jangan panggil aku kakak lagi kalau gitu!
Reyna
Tapi gue jadi canggung, malah ngurung diri di kamar.
Kak Vivi
Hadeh, drama lagi. Satya itu suami lo. Dia berhak. Jangan lebay.
Reyna
Jadi gue harus keluar kamar?
Kakak
Ya iya. Semalem lo setengah sadarkan? sekarang waktunya udah sadar. Malam pertamanya di ulang lagi yah.
Reyna
Ih, sesat banget sih ajarannya.
Reyna tersenyum tipis membaca balasan itu. Meski jengkel, kata-kata kakaknya membuatnya sedikit lebih tenang. Ia akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar.
---
Satya masih mondar-mandir di ruang tamu, wajahnya muram. Saat Reyna keluar, tatapan keduanya bertemu. Reyna masih canggung, tapi ia sadar satu hal: apapun yang terjadi, Satya adalah suaminya, dan kini ia sudah menjadi istri seutuhnya.
Perjalanan mereka tidak mudah, namun Reyna bertekad belajar menerima, meski hatinya belum sepenuhnya siap.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Novela JuvenilKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
